Rumah Cinta Bagimu

Ifa Avianty
Karya Ifa Avianty Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2016
Rumah Cinta Bagimu

“Kasihan, bu, lihat matanya cakep banget”.

“Iya, tapi dia masih galak, mas. Maunya menggeram terus…”

“Terus gimana? Mau dibawa pulang atau gimana ini dia?”

Dua pasang mata anak-anakku menatapku memohon. Kutatap mereka satu persatu, kemudian mataku bersirobok dengan sepasang mata biru kecoklatan. Terdengar hissing ‘Shhhhh’ dari mulutnya. Masih galak, belum jinak, benar kata anakku.

“Dia lapar, bu. Ayolah….”

Sebelum aku memutuskan sesuatu, si kecil berbulu hitam putih itu sudah melesat dengan lincahnya. Berkelit lewat jeruji pagar yang ditutupi fiber yang sudah tak rapat lagi, ia seakan panik hendak kabur kembali.

“Kabur tuh….” Tunjukku ke arah tempat dia lari tadi.

“Tapi dia butuh rumah bu, Kasihan pasti dia enggak punya ibu. Ibu kan MamaCat, mamanya para kucing”, ujar anakku yang kedua, Ahya. Mengiba.

“Dia bisa jadi teman Pokijan, bu”, tambah si bungsu, Bebeb, menyebut nama makhluk kecil yang senasib dengannya, dan sudah kami adopsi.

Menimbang sejenak, kuserahkan kunci gerbang pagar pada kedua anakku. “Ya udah sana, hati-hati, banyak mobil” pesanku kemudian.

Tanpa menunggu lagi, kedua bocah lelakiku melesat setelah membuka gerbang. Dari kejauhan, masih terdengar suara meongan si makhluk kecil tadi. Kucing kecil yang malang.

 

Tak sampai sepuluh menit kemudian, Ahya dan Bebeb sudah kembali dengan si kecil yang terus mengeong dan menggeram. Masih takut pada manusia, atau mungkin pernah mendapatkan perlakuan kejam dari manusia. Atau ibunya mati karena ulah manusia? Kutatap matanya iba. Dia masih mengeong.

“Elsa”, panggilku. “Kamu perempuan kan? Cantik kayak puteri, galak dan tegas. Elsa, kayak Princess Frozen Disney itu”.

“Echaaaa”, ulang Bebeb yang belum terlalu lancar bicara.

Tak lama, Elsa dan Pokijan, keduanya sebaya, mungkin tiga bulan usianya, sudah asyik menyantap makanan kucing, dry food, yang sengaja aku stock untuk memberi makan kucing-kucing kami. Pasti sebentar lagi, Gembul, Raja kucing di rumah kami, datang meminta jatah makan siangnya.

Sekarang, sudah hampir tiga hari Elsa tinggal bersama kami. Dia kucing yang manis meski bawel dan senang membuntuti kami hingga ke kamar tidur. Kami menerimanya dengan senang hati, meskipun peristiwa yang lalu masih menyisakan luka di hati kami, terutama aku dan ketiga anak lelakiku yang pecinta kucing.

 

Kalau semua kucing lengkap ada di rumah kami, mungkin sudah dua belas ekor jumlahnya sekarang. Semuanya kucing kampung, atau istilah kerennya Domestic Shorthair. Selain Gembul, Pokijan, dan Elsa, pasti masih ada Keket, Miwa, Choki, Puspita, Nico, Chico, Alexandra, Popop, dan Fancy. Sayang ada orang yang mengaku bahwa itu kucing kucing mereka, sementara itu kucing kucing itu makan dan tidur di rumah kami. Mereka membawa pergi kucing kucing itu dengan alasan ingin diajak jalan jalan ke Bekasi. Sampai kini, sudah hampir dua bulan, tak ada kabar beritanya. Setiap malam, kami masih setia mendoakan kucing kucing itu, agar mereka tetap sehat, selamat, dan bahagia.

 

Sungguh kejadian itu menyisakan kenangan duka bagi kami. Bagiku khususnya, yang saat itu memang sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk memberi makan kucing kucing dengan dry food khusus. Tapi mereka masih bisa makan dengan kenyang, sehat, bahagia, dan masih tetap bisa bermain dengan gembira. Masih kuingat, Keket yang terakhir dibawa pergi, memelukku erat, seperti tak mau lepas. Ia menatapku seperti tak mau pergi. Aku tercekat. Ingin rasanya aku menangis saat itu, kalau bukan karena malu ada pak Supir di situ.

 

Sejak itu, kucing kami tinggal si Gembul. Aku kembali memikirkan cita citaku bersama anak-anak, untuk membuat sebuah istana kucing di rumah kami yang sederhana. Kami ingin menampung kucing kucing liar atau yang tak sanggup lagi dipelihara majikannya. Kami hanya tak tega membayangkan makhluk manis berkaki empat itu berkeliaran di jalan dan mendapatkan perlakuan kejam atau disia-sia oleh manusia.

 

Tak apa mereka hidup sederhana, Tak apa mereka tidak tidur di ranjang khusus kucing, hanya berhimpitan di kardus beralas bekas alas ompol, atau berdesakan di sofa kami yang sudah habis mereka cakar-cakar. Tak apa mereka makan sepiring beramai ramai. Yang penting, mereka merasa diterima, dicintai, disayangi sepenuh hati. Kadang bahkan Ahya dan Bebeb membayangkan sehidup sesurga dengan mereka, saking sayangnya.

 

Bagiku, rezeki bisa dicari, namun yang penting kucing kucing itu kami urus dan rawat dengan cinta, sehingga mereka merasa rumah kami sebagai rumah mereka. Tempat mereka merasa aman dan nyaman.

 

“Ibu enggak mau ambil kucing lagi ya, anak-anak”.

“Yaaaa, kenapa bu? Kasihan kan nanti banyak kucing liar”.

“Enggak kuat, ingat Keket dan teman temannya….”

Dan anak-anakku terdiam, mengenang Keket dengan sedih.

 

Hingga suatu hari. Sepulang dari membeli lauk makan siang di warteg.

“Anak-anak, ini ada anak kucing. Kasihan ibunya hilang sejak lebaran….lucu ya?”

Anak-anak bersorak gembira. “Iiihhh lucu banget bu. Hidungnya mancung, matanya biru”.

“Iya, Dek, keturunan kucing siam kayaknya….”

“Adopsi ya bu?”

“Iya, harus…. Namanya Pou…”

“Panjangnya, Pokijan, kayak nama tetangganya Donal Bebek”.

Dan Gembulpun menjadi paman yang baik bagi Pokijan. Juga kemudian bagi Elsa.

 

Cinta kami kembali menderas dengan indah, bagi ketiga kucing itu. Betul mungkin, suatu saat kucing kucing ini akan mendoakan surga untuk kami. Surga untuk mereka juga, mungkin. Sehidup sesurga dengan para kucing … betapa bahagianya.

 

Kebiasaan mengadopsi kucing liar mulai kembali mengisi hari-hari kami. Hingga suatu saat, sebuah pesan BBM masuk dari mantan gurunya Bebeb.

“Mamah Bebeb, sayang kucing kan? Ini di rumah ada anak kucing angora, kami kerepotan. Yang lain sudah diadopsi. Dia aja yang belum. Namanya Mia. Mamah Bebeb mau ya?”

Hahaha, MamaCat cuma bisa geleng-geleng kepala. Tenang, rezeki sudah ada yang Mengatur, insha Allah….

 

Jenderal Gembul

 Pokijan alias Pou

Elsa, the Princess Frozen

 

#sehidupsesurga

#writingchallenge

  • view 1 K