Jane dan Dunia Peri Jagung (2)

Laili Miftahur Rizqi
Karya Laili Miftahur Rizqi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Januari 2016
Jane dan Dunia Peri Jagung (2)

Sepulang dari sekolah, Jane terburu memasuki rumah. Setelah sembarang melempar tas ke dalam kamar, ia langsung berlari menuju gudang.

?Aku akan menunggu Phil di sini,? gumamnya.

Dia duduk sambil bersandar pada tumpukan karung berisi jagung dan sesekali melongok keluar. Merasa bosan, Jane akhirnya memutuskan untuk berkeliling di dalam gudang. Ia mengintip ke belakang tumpukan bushel, mengamati deretan jeriken pupuk cair, hingga menghitung lapis karung biji jagung. Jane menunjuk dari karung paling bawah. ?Satu, dua, tiga, em ??

?Jane?? sapa Philip yang baru saja kembali dari silo.

?? PAAAATT!? Suara itu mengagetkan Jane sehingga tangannya terlalu keras mendorong tumpukan karung di hadapannya dan membuat susunannya menjadi tidak stabil.

BUKK!

?Aww!?

?Kau tidak apa-apa?!? Philip panik.

Jane mengangguk sembari tetap memegangi kepalanya dan meringis.

?Kemarin kulihat kau hampir teriris pisau the combine dan sekarang kejatuhan karung yang beratnya lima puluh kilogram. Hidupmu tidak pernah aman.?

Jane hanya tersenyum pasrah sambil mengusap-usap kepalanya. ?Daddy belum pulang??

Philip menggeleng.

?Jadi, apa yang ingin kau tunjukkan??

?Apa kau yakin kepalamu baik-baik saja??

Jane mengangguk pasti.

?Baiklah, ayo.? Philip membantu Jane berdiri dan mengajaknya berjalan keluar gudang lalu berbelok ke kanan.


Sore kala itu memberikan pemandangan para petani yang sedang bersiap menyudahi pekerjaannya. Ketika berhadapan dengan mesin the combine yang diparkir bersisian dengan hopper, Jane berujar, ?Mesin raksasa ini? Jangan bilang kau akan mengajakku mengendarainya.?

Philip tersenyum, ?Kenapa tidak??

?Ah, kau pasti bercanda!? Wajah Jane menunjukkan kegembiraan yang meluap.

Philip mengedikkan kepalanya, memberi isyarat agar Jane naik terlebih dahulu ke atas mesin besar itu. Kemudian dia pun menyusul.

?Masih ada beberapa jalur yang belum dipanen. Kurasa petani lain akan senang kalau kita sedikit membantu.? Philip memutar kunci dan mulai menyalakan mesin. Terdengar deru yang bising seperti sedang dalam perlombaan balap mobil. Asap hitam membumbung di udara begitu Philip menginjak gas.

?Whoa!?

Mesin hijau itu mulai berjalan.

?Phil! Kau lembur hari ini?? teriak salah satu pekerja Tuan. Derrick.

?Tidak. Aku hanya ingin mengajaknya berkeliling sebentar.? Philip memundurkan tubuhnya ke sandaran kursi sehingga sosok Jane terlihat.

?Oh,?Nona Jane!? petani tua berbadan gempal itu melambaikan tangan yang dibalas dengan senyuman oleh Jane.

?Hai,?Paman Tom!? Jane muncul dari balik punggung bahu Philip. ?Kau sudah mau pulang??

?Tadinya begitu. Tapi melihatmu membuatku jadi tidak ingin pulang hahahaha.?

Jane mengalihkan pandangan ke depan dan melebarkan senyumannya. ?Ini menyenangkan!?

?Ini belum apa-apa.? Philip menepuk-nepuk setirnya.

Jane menoleh.

?Enam silinder, mesin disel yang besar dengan kekuatan seratus dua puluh tenaga kuda. Monster ini menakjubkan. Perhatikan ini, Gadis Kecil!

Penjelasan Philip mengenai the combine beradu dengan suara mesin tersebut.

?Jagung-jagung datang. Empat baris dalam satu waktu. Melewati silinder besar yang kami sebut the head. Mereka menggelinding masuk dan spiral yang bergelung seperti rantai akan memisahkan kulit-kulit jagung dari tongkolnya. Tapi bukan the combine namanya kalau dia hanya bisa melepas kulit.? Philip memutar balik kendarannya.

Jane terus menantikan kejutan dari Philip.

?Mesin ini sangat kuat,? ujar Philip sembari menaikkan alis. ?Dia bisa mengubah tumpukan tongkol jagung menjadi hujan biji jagung berwarna keemasan hanya dalam hitungan detik. Kulit jagung yang terkelupas berputar dan perlahan keluar melalui pembuangan yang ada di bagian bawah mesin ini.?

Jane menoleh ke belakang. Dia melihat jejak berwarna cokelat tua khas warna batang dan kulit jagung yang tercipta di sepanjang baris yang mereka lewati.

?Dan pipa panjang di belakang itu ?? Telunjuk Philip mengarah ke belakang. ?? menjadi jalur bagi butiran biji jagung untuk menuju hopper.?

?Hopper? Ah, aku tahu! Tangki besar berwana putih yang tadi diparkir di samping mobil ini, kan? Kita tidak memakainya sekarang??

?Tidak perlu karena sebenarnya mesin ini juga punya tangkinya sendiri. Meski tentu saja tidak sebesar hopper.? Setelah beberapa putaran, Philip kemudian diam.

Jane mengamati.

?Itu,? Telunjuk Philip mengarah pada sumber cahaya jingga di hadapannya. ?Emas lain yang ada di ladang ini. Membuatku selalu ingin datang lagi esok hari untuk kembali melihat suasana seperti ini.?

Di hadapan Jane nampak pancaran sinar oranye terang yang bersembunyi malu tepat di antara dua silo yang berjajar. Dalam hitungan menit, kilauan itu tenggelam dan berganti gelap tetapi menyisakan kesan yang sangat cantik. Jane membisu takjub.

?Aku ingin menunjukkan semua keindahan ladang yang telah dibangun oleh ayahmu selama belasan tahun, Jane. Agar kau tahu alasan mengapa aku tidak akan membiarkan ayahmu menjual ladang ini. Aku akan melakukan apapun untuk mempertahankannya. Apapun, Jane. Apapun,? gumam Philip ketika berkendara kembali menuju lokasi parkir mesin the combine. ?Sudah gelap. Pulanglah. Kau harus sudah ada di kamarmu ketika ayahmu kembali dari kota, kan??

?Baik, Phil. Terima kasih untuk hari ini. Sampai jumpa besok.? Jane turun dan langsung berlari menuju rumahnya.

Tidak lama, terdengar suara pintu dibuka. Tuan Derrick menghampiri Jane yang nampak sudah terlelap di balik selimut.

?Halo, Gadis Kecil,? bisiknya. ?Aku dapatkan benih baru untuk ladang kita. Benih transgenik. Aku tidak tahu apakah ini baik atau tidak, beberapa orang memang menentangnya. Aku hanya tahu bahwa aku harus mempertahankan ladang ini.? Tuan Derrick menghela napas sebentar. ?Mimpi indah, Malaikatku.? Tuan Derrick mencium kening Jane sebelum meninggalkan ruangan tersebut.


Berhari-hari kemudian, setelah semua jagung berhasil dipanen dan tanah kembali digemburkan, saatnya benih jagung transgenik ditanam. Kali ini, Martin tidak mengendarai mesin the combine, melainkan mesin besar lain untuk menebar benih.

?Philip!?

Yang dipanggil datang menghampiri Tuan Derrick.

?Siapkan lima puluh karung jagung dari dalam gudang. Seperti biasa, antarkan ke restoran milik Edmund.?

?Tapi?Paman Edmund biasanya hanya memesan dua puluh karung.?

?Kau tak ingat? Sebentar lagi musim dingin tiba. Tren memakan sup meningkat dan Edmund butuh jagung-jagung itu. Jadi, panggil orang lain untuk membantumu dan lakukan itu ? sekarang!?

Philip segera berbalik lari menuju gudang. Dia memanggil tiga orang rekannya untuk membantu. Satu orang bersiap di atas truk, satu orang lagi bersiap di dalam gudang, sementara Philip dan satu orang lainnya akan mengangkut karung dari dalam gudang ke atas truk yang sudah parkir di depan gudang.

Tak lama, Philip sudah membopong dua karung jagung di pundaknya. Dia berjalan cepat menuju truk sambil membungkuk. Namun, tiba-tiba muncul sosok Jane yang berlari dari arah berlawanan.

?Aku akan membantumu,? bisik Jane begitu berpapasan dengan Philip.

Philip kaget. Hampir saja dia membiarkan beban seberat seratus kilogram menimpa badannya. Dia ingin mengejar Jane yang terlanjur mengarah ke tumpukan karung. Tapi dia pun harus bergegas mengantarkan karung-karung yang dibawanya ke atas truk. Sebelum pikulannya menjadi terasa lebih berat, Philip pun memutuskan untuk meletakkan karung bawaannya terlebih dahulu.

Sebelum sampai, dari jarak agak jauh Jane melihat sosok?Paman Tom berjaga di depan tumpukan karung, menunggu Philip kembali.

?Ah, gawat.? Jane pun memilih mendekati karung dari sisi samping. Dia berjalan perlahan agar Paman Tom tidak memergokinya. Tubuhnya tertutup sempurna oleh jejeran karung yang menjulang tinggi ke langit-langit gudang seperti menara, melebihi tinggi badannya sendiri. Kemudian, ia mulai menarik karung tepat di depan matanya, yang berada di tengah tumpukan.

?Oh, tidak. Karung ini lebih berat dari dugaanku.? Jane menahan napas. Tumpukan karung menjadi tidak seimbang. Jane pun terhuyung. Dia mencoba menahan tubuhnya yang oleng. Tapi tidak berhasil. Dia terdorong ke belakang dan ?

DUK!

Kepala Jane dengan keras membentur dinding gudang yang terbuat dari kayu. Tubuhnya kemudian terguling di atas tanah. Terang saja jagungnya menghambur keluar dari karung. Jane sendiri jadi tidak sadarkan diri.

Selang beberapa lama, Jane terbangun karena ada yang mengetuk keningnya.

?Tok, tok, tok, ada orang di sana??

Perlahan Jane membuka mata tapi dia hampir kembali pingsan karena apa yang dilihat.

?Aaaaaa tidaaaakkk tolong akuu!? Jane menutup mulut dengan punggung tangan dan secara reflek bergerak mundur. Bola matanya hampir melompat keluar.

Di hadapannya berdiri seekor serangga hijau sebesar dirinya. Tubuh serangga itu nampak seperti buah pir yang memiliki enam kaki, dan bersayap.

?

Jane dan Dunia Peri Jagung (1)

  • view 179