Jane dan Dunia Peri Jagung

Laili Miftahur Rizqi
Karya Laili Miftahur Rizqi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Januari 2016
Jane dan Dunia Peri Jagung

Minnesota, salah satu negara bagian yang menjadi pusat penghasil jagung di Amerika. Sebagian tanahnya memang sengaja disiapkan pemerintah untuk menjadi daerah khusus penanaman jagung atau corn belt. Tersedia ladang jagung dengan luas sekitar dua puluh lima juta meter persegi, sepersembilan dari luas negara tersebut. Sepersepuluhnya, berada di kota kecil bernama Clarks Grove, kota penyumbang hasil panen jagung terbaik dari Minnesota.

Suasana salah satu sudut kota Clarks Grove pagi itu amat sibuk. Para pekerja lahan pertanian seluas dua kali lapangan sepak bola itu sudah siap di posisinya masing-masing. Mereka sedang dalam pertengahan masa panen. Musim panen jagung yang jatuh di permulaan musim gugur memaksa mereka bekerja lebih keras. Benih-benih jagung harus segera ditanam begitu masa panen usai agar musim panen berikutnya ? yang tiba pada musim dingin ? datang sebelum cuaca menjadi terlalu ekstrim.

?Waktu kita terbatas. Kita harus bergegas!? Terdengar teriakan dari seorang pria. ?Nyalakan mesin kendaraan itu, Martin!?

Pemuda yang ditunjuk bergegas naik ke atas mobil pemanen jagung bercat hijau dengan label John Deere terpatri di bagian belakang. Bentuk tubuh utama mobil itu seperti mobil penggusur bangunan. Hanya saja, daripada memiliki kait, mobil pemanen jagung hanya memiliki pipa panjang di belakang untuk menumpahkan biji-biji jagung ke dalam penadah yang disebut hopper dan juga barisan pisau pemotong batang jagung di bagian depan. Para petani sendiri sepakat menamai mobil panennya dengan sebutan the combine karena kemampuannya yang tidak hanya bisa memanen jagung tapi juga sekaligus memipil biji-biji jagung dari tongkolnya.

Martin memutar kunci mobil dan menginjak gas. Tapi kemudian kakinya segera menginjak rem tak lama setelah the combine berjalan. Tubuhnya terantuk ke depan.

?Hei! Jane, apa yang kau lakukan? Kau bisa saja mati terhisap mesin besar ini!? Martin berteriak sembari setengah ketakutan karena membayangkan peristiwa terburuk yang mungkin terjadi. Namun, anak perempuan berusia sepuluh tahun itu hanya memamerkan barisan gigi depannya dan dengan tenang berlari keluar dari ladang. Rambut pirangnya yang dikuncir ke belakang, bergerak ke kanan dan ke kiri. Martin yang deru napasnya masih memburu kembali menyalakan mesin mobil sambil sesekali bibirnya mengumpat atas kejadian barusan.

Puluhan meter dari tempat Martin mengendalikan kendaraan, terlihat seorang pria yang sedari tadi memberikan komando kini sibuk mondar-mandir di depan gudang penyimpanan karung-karung jagung sambil menggumam, ?Panen selesai ? tanah ini dijual ? tidak ada mimpi buruk musim dingin ??

DUK!

?Aww, Paman Derrick ?? seorang pekerja muda lain baru saja berjalan keluar dari gudang ketika hampir tertabrak oleh pria itu, ?? sedang apa di sini?? lanjutnya.

?Oh,? ucap Derrick setelah kesadarannya kembali. ?Tidak apa-apa, anak muda. Hanya sedang merasa senang ? atau tidak.? Wajahnya tersenyum sebentar kemudian berubah murung.

?Untuk apa?? tanya anak muda bernama Philip tersebut.

?Ladang ini akan dijual.?

?Semuanya?!?

Derrick mengangguk. ?Dulu, kita yang terbaik. Tapi sekarang, tidak lagi. Hasil panen turun setiap tahun. Aku terus merugi dan tidak lagi mampu untuk membayar kalian. Mungkin ini saatnya mencoba peruntungan baru dari usaha lain. Kabar baiknya, tidak akan ada lagi kerja keras di musim dingin. Tidak ada panen di suhu yang menusuk tulang.?

?Tapi, kenapa? Bagaimana? Selanjutnya apa?? nampaknya penjelasan Derrick masih belum bisa membuat Philip mengerti.

?Oh ? apa? Mmm, tidak, bicara apa aku barusan? Maafkan aku, Phil. Anggaplah hanya igauan orang tua.? Derrick memaksakan senyum.

Philip semakin tidak mengerti.

?Sudahlah, Phil. Bukankah sebaiknya kau mulai menarik hopper? Kurasa Martin butuh bantuan.? Telunjuk Derrick mengarah pada the combine di kejauhan. Meski kebingungan, Phil menuruti perintah bosnya dan bergegas menghampiri Martin.


Beberapa jam berikutnya, matahari tergelincir di barat dan petang pun datang. Seluruh pekerja termasuk Phil menghentikan aktivitas mereka dan berbenah untuk kembali ke rumah masing-masing. Namun, Derrick memanggilnya.

?Phil!? Derrick tidak lagi sanggup menyembunyikan rasa gelisah.

Philip menoleh dari balik hopper.

Derrick mengayunkan tangannya, meminta Philip untuk mendekat.

Setelah memastikan semua jagung di dalam hopper telah masuk ke dalam silo, Philip pun menghampiri Derrick.

?Ikuti aku,? Derrick meminta.

Mereka berdua kemudian berjalan ke salah satu bagian rumah Derrick yang menjadi kantor administrasi kegiatan bisnisnya. Di sana sudah ada Jane yang sedang bersandar di pintu kayu dan memperhatikan kedatangan dua pria dewasa tersebut.

?Hai, Phil,? sapa Jane.

Philip mengernyitkan hidungnya seraya mengetuk pelan kepala Jane.

Jane terkikih.

?Jane, kau masuklah ke kamarmu. Aku perlu bicara dengan Philip.?

Gadis itu kemudian menaiki anak tangga dan menghilang di belokannya.

?Duduklah,? Derrick meminta Philip untuk duduk di depan mejanya sementara dia sendiri duduk di sisi yang lain. Mereka saling berhadapan.

?Kudengar kau punya satu ekor sapi wagyu hitam, huh? Sapi dari Jepang itu, ya?? Derrick menyalakan rokok menggunakan pemantik. Dia juga menawarkannya pada Philip, namun ditolak dengan halus.

?Hmm?? Asap rokok mengepul dari mulut Derrick.

?Ya, hanya satu ekor pejantan. Hadiah dari sahabat baikku.?

?Ini,? Derrick tiba-tiba mengeluarkan amplop cokelat dari balik mejanya dan menyodorkannya ke arah Philip. ?Mungkin tidak cukup untuk membeli sapi betina. Tapi kau bisa sewa, kau tahu? Meminjam sapi betina milik temanmu itu dan mengembalikannya ketika sapi itu sudah melahirkan.?

?Jadi, kau benar-benar akan menutup lahan ini??

?Tidak ada pilihan,? Derrick bergaya santai, berlawanan dengan apa yang ada dalam hatinya. ?Setelah panen ini selesai, semuanya juga akan selesai.? Senyum getir nampak dari wajah Derrick.

?Selalu ada pilihan! Lagipula aku tidak pernah berniat akan beternak sapi.? Philip membantah.

?Kenapa kau ini? Seharusnya kau bangga. Kau pekerja pertama yang kuberi pesangon. Lagipula kau masih muda, terlalu naif. Tentu saja sapi itu untuk diternakkan!? Nada bicara Derrick meninggi. Tapi sedetik kemudian dia merasa menyesal. ?Pulanglah,? suaranya berubah lembut. ?Aku pusing, tidak ingin berdebat. Ambil uang itu dan mulai pekan depan kau bisa memulai pekerjaanmu yang baru.? Asap tebal berhembus dari mulut dan hidung Derrick.

Philip tidak bergeming.

Melihatnya yang tidak beranjak dari tempat duduk, Derrick bereaksi, ?Ada apa? Aku tidak mampu memberikan lebih dari itu.? Ia sudah dalam posisi berdiri dan kedua tangannya bersandar pada meja. Ia membusungkan badannya ke arah Philip dan bersikap arogan.

Philip menggeleng.

?Kalau begitu kau bisa keluar sekarang.? Derrick mengayunkan tangan. ?Oh, kalau Martin belum pulang, panggil dia kemari.?

Akan tetapi bukannya melakukan yang diminta, Philip justru tetap diam sebelum akhirnya berkata, ?Transgenik ??

?Ap-apa?? Derrick mengernyit sambil kembali menghembuskan asap rokok.

?Transgenik. Mutasi genetik yang disengaja ??

?Tsk.? Mendengar bahasa yang asing baginya, Derrick tertawa melecehkan.

?? Kau mungkin terlalu sibuk hingga tak menyadari kesempatan ini tapi ? aku punya seorang teman yang mungkin bisa membantu.? Philip mencoba meminta kesempatan untuk bicara.

Derrick melepas puntung rokok dari mulutnya, membebaskan asap, lalu berkata disertai tatapan meyelidik, ?Apa yang sedang kau bicarakan??

?Universitas Minnesota. Selama ini terkenal sangat peduli urusan petani, gandum, jagung, dan ya, seputar itu. Aku kenal salah satu mahasiswa di sana. Dia saat ini sedang meneliti ??

KREKK ?

Derrick dan Philip spontan sama-sama menoleh ke bagian atas tangga kayu di sudut seberang mereka.

?Tidak aman bicara di sini.? Derrick berbisik dan mengajak Philip keluar ruangan. Ia tahu benar siapa yang mengawasi mereka.


Jane beranjak dari duduknya dan kali ini benar-benar berjalan menuju kamar. Dari daun jendela yang terbuka lebar, dia dapat dengan jelas memandangi hamparan ladang persis di depan mata. Ratusan ribu batang jagung berjejer rapi. Ada bagian yang hilang di salah satu sudut tanah lapang itu karena memang Martin dan Philip sudah memanennya tadi pagi.

?Kalau Daddy benar-benar menjual ladang ini, aku akan kehilangan tempat bermain. Tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi dan menghabiskan hari. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.? Jane bicara dengan dirinya sendiri. Setelah memantapkan tekad, dia pun menyatukan sepasang daun jendela kamarnya dan pergi tidur.


Pagi harinya, demi menggali beberapa informasi, Jane menyempatkan diri menghampiri Phil yang sedang berada di gudang.

?Phil!?

?Hai, Jane. Sudah siap berangkat sekolah, huh??

?Hm-mm,?

?Hati-hatilah di jalan. Kalau kau bertemu anak nakal, sebut namaku tiga kali. Aku mungkin tidak akan datang.?

Jane terkekeh sebelum akhirnya menjawab, ?Aku menunggu Daddy. Ia sedang menyiapkan truknya.?

?Oh, dia akan mengantarmu??

Jane mengangguk. ?Daddy bilang sekaligus ada yang ingin diurus di kota hari ini. Kau tahu apa itu? Sesungguhnya aku mendengar percakapan kalian kemarin dari balik tangga.? Dia memainkan kakinya di atas tanah berwarna cokelat muda di bawah kakinya. Kedua tangannya berada di balik punggung dan kepalanya menunduk.

Philip tidak menghiraukan pertanyaan Jane. Dia justru sibuk dengan urusannya sendiri: memeriksan catatan, menulis sesuatu, mengenakan sarung tangan dan penutup kepala, bahkan kacamata hitam. Dia memberikan senyum bak model kepada Jane dan mengambil kunci yang tergantung di dalam gudang.

?Phiiilll!? Jane justru gemas dengan tanggapan Phil.

?Jane!?

?Itu ayahmu memanggil.? Philip menunjuk ke arah datangnya suara kemudian meminta Martin yang berada di luar gudang untuk mendekat. ?Martin!?

Jane membalikkan tubuhnya dan berlari.

?Temui aku lagi sepulang sekolah, Jane. Jika ada waktu, aku mungkin akan menunjukkan sesuatu!? Tangan Phil melambai sebelum kemudian dia melemparkan kunci the combine pada Martin yang sudah tiba di dekatnya.

Jane menoleh dari kejauhan sambil menyipitkan kedua mata, memastikan bahwa Philip akan menepati janji.

(bersambung)

  • view 165