Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Puisi 3 Februari 2016   07:40 WIB
Ruang Kosong di Sisi Dinding

Siapa yang tahu, tindakanku membuat tumpukan bata adalah benar atau salah.
Siapa yang tahu, tindakanmu merobohkan tembok adalah salah atau benar.
Tidak akan ada yang tahu sampai kita berpaling ke sisi dinding, saling melihat, lalu bercerita tentang apa yang kau inginkan.

Bisa saja pendapat orang lain itu benar, bahwa aku sedang membangun dan kau sedang menghancurkan.
Atau justru pendapat orang yang lain lagi yang benar, bahwa aku justru menghalangimu yang sedang menujuku.
Tidak akan ada yang tahu sampai kita berpaling ke sisi dinding, saling melihat, lalu bercerita tentang apa yang aku inginkan.

Mungkin aku cuma ingin membuat susunan yang kokoh dan rapi.
Mungkin juga kamu cuma ingin membentuknya menjadi lebih indah dari sekedar tumpukan batu membosankan.
Tapi siapa yang akan tahu jika kita tidak berpaling ke sisi dinding, saling melihat, lalu bercerita tentang apa yang kau inginkan, apa yang aku inginkan, dan apa yang kita inginkan.

Mungkin aku bisa membantumu memberi inspirasi tentang liukan dinding yang menarik. Ya, setidaknya temanku seorang arsitek.
Atau mungkin kau ingin menunjukkan cara yang lebih asik dari sekedar menumpuk batu merah. Kau juga boleh melakukan atraksi kalau kau mau.
Asalkan itu masih tentang apa yang benar-benar kau inginkan, apa yang benar-benar aku inginkan, dan apa yang benar-benar kita inginkan.

Kita sama-sama bukan peramal,
bukan juga orang yang pandai membaca pikiran.
Apalagi dengan bentangan tembok di hadapan.
Tapi kita selalu punya satu sisi, tempat kosong untuk kita bisa bernapas. Bebas.
Menjadi ruang hingga semua tinggal tentang apa yang benar-benar kita inginkan.

Karya : Laili Miftahur Rizqi