Si Sabtu Malam #1

Ida Widaningsih
Karya Ida Widaningsih Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Mei 2016
Si Sabtu Malam #1

Si sabtu Malam

Kaku, kantoran, gak asyik, kolot. Itu asumsiku mengenai orang ini.

Pertama kali bertemu dengannya, di bulan september. Dimana musim hujan waktu itu. Kata orang, hujan itu romantis, penuh kasih didalamnya. Dan tak lupa, bulan yang selalu meninggalkan kenangan bagi tiap tiap orang.

Dhika, begitu aku menyebutnya. Nama dari pria yang tadi kusebutkan sifatnya. Tapi asumsiku mengenai dirinya salah. Asumsi, kalian tahu sendiri artinya bukan, landasan yang dianggap benar.  Dan semua asumsiku tentangnya berubah setelah jam makan siang pertama kami. Ya, jam makan siang pertamaku dengan kehadirannya. Aku dan Dhika bertemu disalah satu perusahaan, yang waktu itu statusku karyawan baru diperusahaan, sedangkan dia trainer di perusahaan tempatku bekerja, tapi dia hanya bekerja satu bulan diperusahaan yang sama denganku, selebihnya di kantor pusat. Karena tugasnya akan berakhir dengan masa trainingku yang berakhir juga. Itulah aturannya.

Jam makan siang yang menjadi pengantar percakapan diantara kami berdua. Dia yang duduk tepat didapan tempat dudukku sekarang. Awal yang normal dari sebuah percakapan, ada basa basinya. Menanyakan nama, alamat dan ini itu. Aku sendiri menjawabnya dengan ekspresi yang tak menunjukkan wajah yang tak antusias. Karena pikiranku mengenai dirinya hanya seperti yang kusebutkan tadi. Tapi dari obrolan yang entah mengalir begitu saja, aku pikir orang ini asyik juga untuk dijadikan teman baru. Maklumlah, aku orang baru diperusahaan, dan belum mengenal banyak orang waktu itu. Dan dimulai dari jam makan siang itu juga, kisah aku dan dia dimulai. Kisah yang memenuhi pikiran dan hati ini, sampai sekarang.

Hari hari dimasa trainingku, hari hari bersama dengannya. Ketika obrolan obrolan kami menjadi sebuah hiburan tersendiri ketika jam istirahat. Akan ada tawa yang mengembang dibibir masing masing, aku dan Dhika. Obrolan yang menurutku absurd ini, karena kami bisa membicarakan banyak hal dari A ke H lalu ke P atau ke Z, bahkan balik lagi ke A. Hal-hal kecil yang mungkin orang lain tak memikirkannya sekalipun, tetap jadi topik obrolan kami. Hal yang didebatkanpun tak penting juga. Semisal, kopi hitam atau capuccino, es kacang ijo yang diblender atau yang biarkan saja. Dan dia akan menjadi sangat cerewet, ketika makan nasi warteg dengan semua rasa yang sama untuk semua lauknya. Dan satu yang paling kuingat, dia pernah mengatakan ini ketika weekend datang, “malam minggu hanya dimiliki oleh orang yang memiliki kekasih, sedangkan kaum jomblo atau halusnya single seperti kami hanya akan menyebutnya sabtu malam, tak ada hak nya kami ber-malam minggu”. Tidakkah ini menggambarkan keterpurukannya seorang “jomblo”, ahh dia menggambarkan hal ini terlalu menyedihkan untuk kaum yang disebut “jomblo” padahal waktu itu dia juga termasuk kaum “jomblo” itu.

Hubungan kami menjadi semakin intens. Diluar jam kerja, kami pun tetap saling menyapa dimedsos yang menjadi andalan orang zaman sekarang ini. Dan lagi lagi obrolan absurd yang tercipta.

Satu bulan masa trainingku habis sudah, dan kalian tahu bukan?? Ya, masa tugas Dhika juga habis. Dan itu cukup membuatku sedih, padahal tak ada hubungan apa apa diantara kami. Ketika itu kisah ini mempunyai bumbu lain, bumbu kerinduan.

 

  • view 104