POLITIK PEMBODOHAN

Ishak MPI
Karya Ishak MPI Kategori Politik
dipublikasikan 11 Maret 2016
POLITIK PEMBODOHAN

Politik adalah pembodohan. Pembodohan massal. Pembodohan yang terstruktur. Pembodohan untuk mereka yang sudah ?Bodoh?.

Pembodohan yang sangat tidak manusiawi. Ketika lapisan social masyarakat butuh pencerahan akan hidup dan kehidupan. Poitik datang dengan segala macam janji-janji ala tikus kantor. Bungkusannya tetap sama ?Pembodohan?. Apa yang mereka cari? Kekuasaan dan Pemerintahan. Berkuasa dan memerintah atas nama rakyat. Sungguh aneh. Pemerintah dan kekuasan. Dua hal yang sangat bisa membuat decak kagum bila bisa meraihnya. Katanya, kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat. Mana? Di mana? Bukannya terbalik? Bukankah itu adalah pembodohan?

Politik hanya membutuhkan suara rakyat. Bukan keinginan dan kemauan, apalagi cita-cita masyarakat akan Negara berkeadilan dan berkemanusiaan.

Politik punya topeng hitam dan menakutkan. Menggunakan sopan santun untuk meraih simpati rakyat. Menggunakan uang untuk meraup suara rakyat. Dan menggembalikan uang mereka setelah berkuasa. Bukankah itu pembodohan rakyat.

Susah rasanya percaya dengan sopan santun dan sikap apapun yang tercermin dari panggung politik. Apalagi politik era modern. Semuanya dipermak dan dimanipulasi oleh media. Karena media sudah berpolitik. Apalagi kalau bukan kepentingan ?income?. Media cetak dan tv tak terhindarkan oleh basa-basi politik modern.

Politik rata-rata hanya menghasilkan politikus ulung. Bukan Negarawan. Politikus hanya bisa memainkan kata. Bisa kita sebut Retorika politik modern. Sungguh na?f retorika politik itu. Tingkah yang sungguh beda dari kenyataan.

Politik, kekuasan, dan pemerintah. Trisula percaturan dalam kancah dinamika kenegaraan yang selalu menjadi bola salju elite penguasa. Siapa yang pintar memainkannya maka dia yang akan beruntung ke singgasana impian. Kalau dulu politik adalah menciptakan pemimpin ideal, maka hari politik hanya akan melahirkan sang penguasa. Penguasa tidak sama dengan pemimpin. Dua hal yang harus dibedakan untuk mengembalikan citra bangsa yang terpuruk. Mengembalikan harapan masyarakat yang merdeka. Bebas dari kepentingan penguasan yang berkuasa. Yang hanya datang ketika harapannya ada di tangan rakyat. Datang dengan dalih silaturrahmi, seperti perantau yang rindu untuk pulang.

Rakyat merindukan pemimpin bukan penguasa. Pemimpin yang berani mengatakan kebenaran. Kebenaran untuk kepentingan masyarakat yang berdaulat. Pemimpin yang berani melawan ketimpangan sosial yang tak bermoral dan beradab. Pemimpin berani meninggalkan singgasananya demi melihat penderitaan masyarakat yang sebenarnya bukan hasil pemberitaan media yang sudah diragukan lagi independensinya. Pemimpn yang berani menggulung lengan bajunya dan berkeringat bersama rakyat. Bukan penguasa yang hanya bisa berpangku tangan. Tunjuk sana-sini. Teriak seperti orator jalanan. Yang suaranya melengking seperti kehiangan induknya.

  • view 496