PENYAKIT LGBT: SEMBUHKAN ATAU LEGALKAN

Ishak MPI
Karya Ishak MPI Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Februari 2016
PENYAKIT LGBT: SEMBUHKAN ATAU LEGALKAN

LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender). Mulai tanggal 26 Juni 2015 lalu, Amerika Serikat telah resmi mengesahkan pernikahan sesama jenis. Seluruh negara bagiannya kini melegalkan same sex marriage?ini.

Tapi ini bukanlah Negara pertama yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Belanda merupakan negera pertama yang notabene melegalkan hal tersebut pada tahun 2011. Menyusul 15 Negara lainnya seperti Kanada, Spanyol, Afrika Selatan, Belgia, Spanyol, Argentina, Denmark, Islandia, Norwegia, Portugal, Swedia, Prancis, Meksiko, Uruguay dan New Zeland.

Kabar ini pun merebak sampai ke tanah air dan membuat masyarakat kita di tanah khususnya kaum muslimin dan muslimat menjadi resah. Sebab ketika hal ini dilegalkan di Negara Adikuasa seperti Amerika tentu akan memberikan dampak yang sangat besar bagi para penyuka sesama jenis di tanah air. Mereka tentunya akan menyuarakan hal yang sama di tanah air atas nama perjuangan hak asasi manusia. Apapun yang berkaitan dengan hak asasi manusia selalu mendapatkan respon yang besar. Tapi apakah LGBT juga perlu disuarakan atas nama Hak Asasi Manusia (HAM)? Tentunya banyak respon yang berbeda akan muncul di permukaan.

Bagi kaum muslimin di tanah air tentu sangat menentang dan menolak bila muncul dukungan serupa. Alasannya paling tidak adalah LGBT merupakan musibah dan akan merusak moral umat manusia, bukan halnya penganut agama Islam tetapi juga bagi penganut agama yang lain.

Alasan lain kaum muslimin menentang hal ini dikarenakan LGBT sudah sangat melenceng dari fitrah kemanusiaan. Dan, kaum muslimin di tanah air tercinta tentu telah belajar dari kisah Nabi Luth pada zamannya. Nabi Luth yang diutus kepada kaum Sadum. Salah satu kaum berada di bagian Yordania Utara pada waktu itu. Perilaku dari kaum Nabi Luth itu adalah maksiat. Ciri khas hidup mereka adalah perbuatan homoseksual {liwat} di kalangan lelakinya dan lesbian di kalangan wanitanya. Kedua jenis kemungkaran ini begitu bermaharajalela di dalam masyarakatnya.

Seorang pendatang yang masuk ke Sadum tidak akan selamat dari diganggu oleh mereka. Jika ia membawa barang-barang yang berharga maka dirampaslah barang-barangnya, jika ia melawan atau menolak menyerahkannya maka nyawanya tidak akan selamat. Akan tetapi jika pendatang itu seorang lelaki yang bermuka tampan dan berparas elok maka ia akan menjadi rebutan di antara mereka dan akan menjadi korban perbuatan keji lelakinya dan sebaliknya jika si pendatang itu seorang perempuan muda maka ia menjadi mangsa bagi pihak wanitanya pula.

Nabi Luth as yang sangat khawatir akan itu terus berdakwah agar perliaku yang amoral tersebut dihentikan. Akan tetapi keruntuhan moral dan kerusakan akhlak sudah hidup lama di dalam pergaulan sosial mereka dan pengaruh hawa nafsu dan penyesatan syaitan sudah begitu kuat menguasai tindak-tanduk mereka, maka dakwah dan ajakkan Nabi Luth yang dilaksanakan dengan kesabaran dan ketekunan tidak mendapat tempat di dalam hati dan fikiran mereka dan berlalu laksana suasana teriakan di tengah-tengah padang pasir.

Penyuka sesama jenis di tanah air tentu juga memiliki kuantitas yang lumayan banyak. Hal ini sering kita jumpai dalam aktivitas keseharian mereka dan banyaknya pemberitaan yang sering kali muncul di media cetak dan televisi nasioanl dan swasta. Bila hal ini tidak dantisipasi secara serius oleh berbagai kalangan tentu akan sangat merugikan bagi sosial keagamaan di tanah air.

Terlepas dari penolakan dari sebagian besar kaum muslimin terhadap LGBT di tanah air, tidak bisa dipungkiri kalo ternyata ada sebagian kecil dari kaum muslimin dan muslimat yang mendukung hal itu. Mereka yang mendukung hal tersebut tentu mereka yang juga sudah terjangkit penyakit LGBT itu. Bahkan ada yang dari kalangan Ustadz, dosen, mahasiswa, dan santri. Fenomena ini akan membuat kita berpikir bahwa kehidupan manusia di dunia sudah sangat asing dan aneh. Binatang yang juga makhluk Allah di dunia yang sama dari sisi Basyar (Biologis) manusia tidak pernah melakukan kegiatan seksual yang menyimpang layaknya manusia. Apakah kaum muslimin yang menyatakan dukungan itu betul-betul dari hati dan pikiran mereka atau hanya bentuk pembelaan diri untuk membenarkan kecenderungan ?Lendirnya?.

Tak bisa dibayangkan kalo suatu saat dalam masyarakat kita seorang lelaki dan pasangannya dating ke rumah orang tuanya melakukan sungkeman dan berkata ?Ayah, Ibu ini adalah calon istri saya?. Begitu pun sebaliknya, seorang prempuan mendatangi orang tua mereka dan berkata ?Ma, Pa, ini adalah calon suami saya?. Astagfirullah.

Sudah separah itukah dunia? Azab Tuhan menanti dilenyapkannya kezaliman manusia.

?

?

?

Artikel by: Izhak ?Callunk?

?

  • view 168