LINTAS AGAMA

Ishak MPI
Karya Ishak MPI Kategori Agama
dipublikasikan 04 Februari 2016
LINTAS AGAMA

LINTAS AGAMA

??????????????? Manusia dilahirkan dengan membawa sebuah kepercayaan dalam batin sanubarinya. Fitrah insani merupakan kata tepat untuk menggambarkan bahwa setiap manusia pasti memiliki kepercayaan. Kepercayaan yang dibawanya sejak lahir dan menjadi fitrahnya inilah yang kemudian akan menjadi pegangan dalam kesehariannya. Kepercayaan setiap manusia di belahan bumi manapun memiliki macam dan bentuk yang tentu berbeda-beda. Sebab ada yang meyakini kalau kepercayaan itu merupakan pemberian langsung kepada Tuhan kepada hambanya. Namun ada juga mengganggap kalau kepercayaan diciptakan oleh manusia-manusia suci atau dalam bahasa agama dilabeli dengan insan kamil yakni manusia yang sempurna. Sempurna dalam hal pikiran, sifat, dan tingkah laku.

??????????????? Kepercayaan ini pulalah yang menjelma menjadi sebuah agama ataupun menjadi ideology/aliran kepercayaan. Ada agama samawi atau agama langit, dan adapula agama ardi atau agama bumi. Sejak utusan yakni sang pembawa agama menyiarkan agamanya yang satu di satu sisi, tapi seiring perkembangan dan berlalu waktu dan zaman, agama yang satu itu pun berkembang dan terpecah menjadi aliran dalam agamanya. Penyebabnya tiada lain adalah banyaknya ide dan pahaman dari agamawan dalam agama tersebut sehingga membuatnya terpecah menjadi puluhan bahkan bisa sampai ratusan aliran dalam agamanya.

??????????????? Semua agama dan kepercayaan yang ada pun bersaing dalam hal manggaet pengikut dalam agamanya. Saling mengklaim kebenaran agama dan kepercayaan pun tidak bisa terhindarkan. Bahkan dari saling klaim mengklaim itu pulalah pada akhirnya terjadi bentrok bahkan chaos antar pemeluk agama dan kepercayaan. Sebuah keniscayaan beragamnya agama.

??????????????? Dari banyaknya pemeluk sebuah agama dan kepercayaan maka muncul pula istilah agama mayoritas dan minoritas. Agama yang memiliki pemeluk/pengikut paling banyak dan pemeluk/pengikut agama yang hanya sedikit. Isitilah mayoritas dan minoritas dibelahan Negara manapun di dunia masih dan selau saja menjadi perbincangan di arena publik. Dijadikan komsumsi dan wacana dalam arena perebutan kekuasaan politik, ekonomi dan budaya.

??????????????? Dalam kancah perpolitikan dan perebutan kekuasaan di Nusantara pun tidak pernah luput dari dimensi agama dan kepercayaan. Sebab dalam perebutan kursi kekuasaan tertinggi calon penguasa tentunya selalu menjadikan agamawan sebagai target utama untuk mencari dukungan politiknya. Realitas ini biasanya terjadi sebelum adanya penguasa baru. Tapi setelahnya maka akan dimunculkan istilah sekuler atau sekularisasi. Pemisahan agama dan Negara. Agama dan Negara diharapkan berdiri di masing-masing bidang dan perannya tanpa saling bercampur aduk satu sama lain.

??????????????? Tapi kalau ditelisik secara seksama hari ini, kekacauan polik dan kekuasaan akan berdampak pada agama dan kepercayaan para pengikut masing-masing. Begitupun sebaliknya. Sehingga agama dan Negara bagai dua sisi mata uang yang tidak bisa terpisahkan. Dengan teori atau apapun bentuknya selalu saja bersinggungan.

??????????????? Dari sisi yang lain, politik dan kekuasaan juga berdampak akan kebebasan dari seorang memiliki kepercayaan, agama, dan menjalankan ajaran agamanya tersebut. Sebab dari seorang penguasa politik dan kekuasaan itu pulalah yang akan banyak berbicara siapa agama dan kepercayaan yang layak menetap di wilayahnya dan mendirikan tempat ibidah miliknya. Tentu hal ini tidak bisa terlepas dari agama mayoritas dan minoritas tadi. Sehingga masih menjadi pertanyaan besar bagi semua, yakni masih adakah kebebasan beragama dan berkeyakinan yang dijamin oleh UUD itu? Kalau masih ada, kenapa selalu dikaitkan dengan politik kekuasaan, mayoritas dan minoritas? Seperti beberapa waktu lalu yang terjadi di Sampang, Tolikara, Aceh, Ambon, dan lain-lain? Kenapa pembicaraan dan perdebatan kebebasan beragama masih selalu manjadi topik hangat dalam meja diskusi publik? Atau amanah UUD tentang kebebasan beragama dan berkeyakinan hanyalah bahasan politik untuk dijadikan tameng dalam perebutan kekuasan? Entahlah.

??????????????? Tapi sekiranya ketika seorang penguasa dan pemeluk agama tertentu belajar dan mendalami hakikat dari ajarannya, maka ia akan tahu dan mengerti arti pentingnya menghargai sesama pemeluk dari suatu agama. Toleransi antar sesame pemeluk agama merupakan hakikat dari suatu ajaran kepercayaan. Agama dan kepercayaan menginginkan adanya kedamaian dan ketentraman. Hal itulah yang akan menjadi inti dari suatu kehidupan beragama dan bermasyarakat di manapun dan kapanpun wilayah Nusantara dan belahan dunia lainnya.

??????????????? Beragama tidak boleh ada pemaksaaan, penindasan ataupun penistaan. Sebab itu sama saja mencoreng nama baik agamanya sendiri. Agamaku adalah agamaku dan agamamu adalah agamamu. Berjalan ditempat dan di jalan yang sama walau berbeda agama tapi saling hormat dan menghargai, kedamaian, ketenangan, dan ketentraman masing-masing pihak beragama akan dicapainya masing-masing. Tanpa harus bersinggungan atau saling labrak antar sesame kaum agamawan yang berkepercayaan. Perbedaan adalah rahmat untuk saling kenal mengenal. Belajar satu sama lain adalah kewajiban. Sebab itulah visi dan misi dari pembawa dan pencetus suatu agama dan kepercayaan.

??????????????? Peran serta penguasa dan perpolitikan sekiranya dapat dijadikan wadah pemersatu. Bukan tempat saling hasut apalagi fitnah dan penistaan. Marilah semua, bijak dalam berpikir, bersikap dan bertindak demi keutuhan dan kesatuan bagi Nusantara yang berkeadilan dan berperadaban. Politik, UUD dan Agama Nusantara adalah prioritas utama dalam wacana keIndonesiaan.

?

?

???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

By: Ishak?? ?Callunk?

  • view 147