Rumah Tuhan

Ishak MPI
Karya Ishak MPI Kategori Agama
dipublikasikan 01 Februari 2016
Rumah Tuhan

Rumah Tuhan

Beragama sudah menjadi sebuah kepastian mutlak bahwasanya harus beragam. Beragam dalam beragama di negeri ini merupakan ciri khas kebhinekaan. Beragamnya keberagamaan adalah efek kepercayaan yang beragam. Tapi kepercayaan yang beragam tidak mesti berarti agama. Sebab di negeri ini agama di atur oleh konstitusi negera yang tidak selamanya mengikhlaskan kepercayaan yang beragama direlakan begitu saja untuk dianut oleh mereka yang cinta dengan kepercayaannya. Seolah-olah beragama di negeri ini disediakan untuk dipilih. Bila memilih agama dlluar yang disediakan atau lebih tepatnya di akui negera maka konsekuensinya bisa fatal dan minimal akan dipandang sebelah mata. Beragama di negeri ini bukan selamanya juga berarti hak demokrasi atau hak asasi manusia yang manusiawi yang layak diapresiasi dan diberi dukungan. Baik dukungan moril ataupun dukungan tuk diberi ruang dan waktu dalam kenikmatan ibadanya. Suatu keniscayaan beragama di negeri ini.

Ruang ekpresi beragama yang begitu luas menjadi sempit. Kontradiktif dengan banyaknya jalan atau luasnya jalan yang bisa di lalui oleh masing-masing agama tanpa harus saling senggol maupun saling bacok antar penganut agama yang beragam. Luasnya ruang ekpresi keberagamaan tadi dibatasi ruang geraknya oleh aturan pusat ataupun daerah. Ada yang diapresiasi ada yang tidak. Mayoritas terkadang menang atas minoritas. Mayoritas tidak berarti mayoritas di daerah. Semuanya tergantung dari keberpihakan daerah karena memiliki otonomi yang diakui.

Tiap agama memiliki tempat ibadah dimana tiap penganut agama bisa berdialog dan bermesraan dengan Tuhannya. Rumah Tuhan merupakan kewajiban tuk didirikan sebagai pusat peribadatan keagamaan. Tapi apalah artinya bila ternyata kalau suatu agama yang diakui konstitusi tidak mendapat izin mendirikan rumah Rumah Tuhan di daerah? Pada gilirannya, masing-masing agama karena atas dasar konsitusi menimbulkan sentiment keagamaan sesama pemeluk agama dikarena keinginan tuk membesarkan agamanya. Chaos tidak bisa dihindarkan pada akhirnya.

Tolikaro merupakan realitas kegamaan beragam yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Hari Idul Fitri ternodai dan tercederai. Penyebab internal dan eksternal pun bermunculan dipermukaan. Penyebab a,b, c, d dan sebagainya saling mengait seperti tali, seolah mencari sebab utama dari insiden yang mengorbankan nyawa manusia di Rumah Tuhannya sendiri. Penyerangan dan pembakaran ke rumah ibadah umat muslim yang notabene dilakukan oleh penganut agama lain tentu bukan tanpa alasan Dari berbagai macam sebab yang menguat di permukaan, paling tidak sebab keberpihakan konstitusi kedaerahanlah yang menjadi sebab utama dari rentetan sebab aksiden lainnya.

Keberpihakan Perda di Tolikaro yang hanya mengizinkan dan mengakui Gereja GIDI sebagai satu-satu rumah ibadah mau tidak mau menjadi dalang dari insiden tersebut. Pemerintah mesti berkaca dari kasus ini. Jangan sampai tragedi serupa terjadi lagi di tengah-tengah keberagaman beragama di negeri ini. Menjadi pendirian rumah ibadah atas dasar pluralisme dan kemanusiaan mesti di jamin keberadaan tanpa memandang daerah ataupun faktor mayoritas dan minoritas pemeluk agama.

Toleransi sesama penganut agama dan kepercayaan harus kampanye utama setiap pemimpin yang ada di negeri ini. Konstitusi yang tidak mendukung keberagaman beragama dan pendirian rumah ibadah mesti direvisi dan dihilangkan sekat pemisah yang menimbulkan konflik membabi buta dan melukai para penganut agama lainnya. Nilai-nilai kemanusiaan yang manusiawi tidak boleh dilanggar atas dasar apapun lebih-lebih atas dasar agama itu sendiri yang sarat akan nilai Ketuhanan, kemanusiaan dan persatuan.

?

??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

By: Izhak ?Callunk?

  • view 134