Santri taubat,

Lisa Hardiana
Karya Lisa Hardiana Kategori Inspiratif
dipublikasikan 28 September 2016
Santri taubat,

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh Untuk sahabat muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah. Saya Lisa Hardiana, saya akan berbagi sedikit cerita tentang hijrah saya. Dulu saya pernah menjadi seorang santri pada saat umur saya sekitar 12/13 tahun (SMP). Saya belajar di pondok pesantren modern selama 3 tahun, padahal orang tua saya meminta agar saya bisa bertahan di pondok selama 6 tahun hingga lulus SMA. Tapi sayangnya, pada saat itu saya tidak mendengarkan apa yang di inginkan orang tua, saya lebih mendengarkan ego saya untuk keluar setelah 3 tahun berlalu hanya karena saya terikat oleh suatu permasalahan yang membuat saya merasa ga kuat untuk berlama – lama di dalam penjara suci itu.

Sebelum keluar pondok saya sempatkan diri untuk sholat istikharah meminta sebuah jawaban terbaik untuk kedepannya. Dan ternyata Allah memberikan jawaban melalui mimpi bahwa saya harus tetap di pondok. Setelah kelulusan SMP tiba, saya tetap bersi keras meminta keluar dari pondok pesantren itu. Orang tua saya menyarankan untuk pindah ke pesantren lain tapi saya membantah dengan alasan karena saya ga mau dapat masalah yang sama (bisik saya dalam hati). Masalah yang saya dapati di pondok pesantren memang tidak terlalu rumit, saya hanya menjadi seorang buronan ustadzah yang sedang mencari – cari bukti kesalahan saya. Tidak tanggung – tanggung saya bermasalah dengan seorang anak qiyai, anak dari pemilik pondok pesantren tersebut. Dulu usia saya masih terbilang sangat muda, saya tidak bisa menyelesaikan masalah dengan bijak, yang saya tahu dalam benak saya berkata bahwa saya harus keluar.  Singkat cerita, keinginan saya telah terkabul. Orang tua saya mengizinkan saya sekolah di luar dengan syarat sekolah tersebut harus berbasic islam yang kuat.

Dan akhirnya saya terdampar di salah satu Madrasah Aliyah yang terdapat di kota bogor. Pada saat pertama kali masuk, basic agamanya memang sangat kuat tapi semakin lama ternyata sikap dari para muridnya pun tidak mencerminkan sebagai anak Aliyah, justru lebih menonjol terhadap sekolah SMA bahkan SMK pada umumnya. Usia saya memasuki 16 tahun, saya sudah pandai berbaur dengan teman – teman, saya mulai mencoba dan ikut – ikutan pergaulan mereka karena hasrat penasaran saya.  Dari situlah awal mula saya menjadi seorang players, menjadi seorang PHP, menjadi seorang miss alay dengan status – status galaunya. Saya sendiri sekarang merasa heran, kenapa itu bisa terjadi.  Masa – masa yang sangat memalukan bisa saya lakukan ketika saya duduk di bangku SMA dan juga masa awal kuliah. Bodohnya saya menjadi orang yang sangat egois dalam hubungan asmara. Berkali – kali saya di beri teguran melalui putusnya suatu hubungan tapi sedikit pun ga ada kesadaran saya untuk cepat – cepat bertaubat untuk menghindari pacaran.  Sampai tiba di suatu masa, di mana saya menyesali keputusan saya keluar dari pondok, saya selalu di hantui perasaan bersalah, di hantui oleh mimpi – mimpi bahwa saya harus kembali ke pondok, dan sesekali saya mendengar bisikan kalau jalan yang saya ambil sudah salah.

Tapi bodohnya respon saya hanya biasa saja. Entahlah hati saya tertutupi oleh apa, hingga saya tak bisa peka terhadap teguran yang sudah berkali- kali saya terima. saya benar – benar sangat menyesal, saya selalu berdo’a agar Allah memberikan hidayahnya untuk saya. Sampai akhirnya saya sadar bahwa saya harus berubah, saya harus kembali ke jalan yang benar. Dan saya juga sadar bahwa hidayah itu tidak mungkin datang sendiri tanpa kita mencari, hidayah bukan untuk di tunggu tapi juga harus di kejar. Berkali – kali saya berusaha menjemput hidayah, tapi hidayah yang saya dapatkan tidak bisa bertahan, hingga saya merasakan hilangnya harapan. Mungkin kah Allah tak ingin mengampuni dosa – dosa saya? Berkali – kali pula saya di beri ujian yang berat. Apa itu termasuk hukuman? Sering sekali saya bertanya dalam hati. Tapi kini saya telah menemukan jawaban, jawaban bahwa saya tidak boleh menyerah dan harus tetap istiqomah. Perlahan – lahan saya mulai memperbaiki diri, di mulai dengan memperbaiki sholat wajib agar tidak pernah bolong. Semakin hari semakin merasa hidayah mulai berdatangan, setiap pertanyaan selalu mendapatkan jawaban. Sampai tiba disaat saya menangis sesegukan, waktu itu usai sholat ashar saya kembali di ingatkan dengan setumpukan dosa – dosa, saya menangis kelimpungan semperti anak kecil yang ingin sekali di belikan mainan.

Tiba – tiba saja ada yang berbisik pada saya, bisikan itu berkata “tangisan ini belum seberapa, ini baru tangisan di dunia. Belum lagi tangisan di akhirat kelak jika seandanya setiap dosa ga akan di ampunin” Saya menangis sejadi – jadinya, berharap Allah akan mengampuni segala dosa yang telah saya perbuat. Ketika tangisan saya terhenti saya mengusap air mata dengan mungkena yang saya gunakan, seketika mungkena itu di kotori dengan sebutir tanah merah yang kemudian menjadi melebar. Lagi – lagi ada yang berbisik bawha saya harus segera mencuci mungkena yang berwana biru telur asin itu, mungkena ibu saya sewaktu di tanah suci mekah. saya segera melepas,  merendam, dan mencucinya dengan mesin cuci kemudian saya mengganti mungkena baru yang berwarna putih polos beserta motif bunga – bunganya. Saya masih dalam keadaan menangis diatas sajadah, saya terus menangis sampai kepala saya terasa pusing dan saya pun segera menyudahi tangisannya. ketika saya berdiri dan berbalik badan ke arah cermin meja rias, saya melihat diri saya menggunakan kain kafan padahal sebenarnya saya masih menggunakan mungkena putih polos.

Dan lagi – lagi saya mendapat tamparan yang membuat saya menangis lagi. Segera saya membereskan cucian, saya keringkan dengan mesin pengering pakaian. Ketika saya hendak menjemur mungkena, lagi – lagi seperti ada bisikan bahwa saya harus pastikan kalau noda itu telah hilang. Dan ternyata benar, nodanya pun hilang. Saya berpikir sejenak mencari kesimpulan, walau pun sebenarnya wallahu alam makna dari kejadian. Tapi sebenarnya kita juga bisa menyimpulkan sendiri selama kesimpulannya itu bersifat positif. Saya berkesimpulan bahwa setiap diri pasti punya dosa, noda itu di ibaratkan dosa kemudian butuh direndam, di putar beberapa kali dengan mesin cuci, di bilas, dan di keringkan hingga nodanya hilang bahkan masih harus di jemur lagi. Begitu juga dosa kita karena setiap manusia pasti punya dosa, sekali pun ia adalah seorang santri.

Karena status santri ga akan menjamin bahwa dia adalah ahli syurga jika akhlak dan tingkah lakunya tidak mencerminkan dirinya sebagai seorang santri. Semenjak kejadian itu saya selalu pasang kepekaan saya terhadap nikmat serta hidayah yang Allah berikan. Hidayah itu sebenarnya sudah datang berkali – kali jika kita bisa peka terhadapnya, “jemput terus hidayahmu karena dia tak akan pernah lari darimu”. Jodoh, rezeki dan maut tidak ada yang tahu. Sewaktu – waktu maut akan datang tanpa harus kita tunggu, lantas jika ajal telah tiba apakah kita bisa menunda?? Tentu saja tidak!! So, ayo kita hijrah sama – sama, perbaiki diri mulai dini seakan kita akan mati esok. Dekati kebaikan dan jauhi keburukan. Keep hamasah uktii ^_^

  • view 316