Mengenang Kabisat

Abdullah Ibnu Jharkasih
Karya Abdullah Ibnu Jharkasih Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Februari 2016
Mengenang Kabisat

Sebagaimana halnya tahun lalu, ketika aku juga menginginkan suatu hal spesial terjadi pada hari ini, yang hanya muncul sekali dalam 4 tahun. Begitupun pada tahun ini, ternyata tidak ada sesuatu yang benar-benar spesial yang terjadi. 29 Februari ternyata tetap sama saja dengan hari-hari lainnya. Semuanya berjalan apa adanya seperti biasa. Tepuk yang masih tak pernah bersuara, hati yang masih menunggu penghuninya, dan rasa yang hampir kehilangan hangatnya. Serta cinta yang entah dimana alamatnya.

Galau? Sebenarnya malam ini aku ingin galau, tapi tak bisa. Kadang aku pun juga ingin berteriak menggila, tapi tak bisa juga. Waktu yang berjalan telah merubahku menjadi lebih sabar. Walaupun tak akan pernah setabah para nabi. Namun dengan begitu, sekarang aku jadi bisa selalu tetap tenang. Karena hanya dengan begitulah satu-satunya caranya agar aku tetap tenang. Dan aku tenang adalah karena aku ingin, bukan karena dingin. Ada kobaran api semangat di ujung relung hati yang terdalam. Ia harus tetap menyala, namun tidak boleh terlalu besar membara. Maka aku ingin tetap tenang menjaganya. Tenang saja, itu pertanda baik kok.

Hari ini, hari yang hanya datang sekali 4 tahun ini, selalu ingin kucari cara untuk mengenangnya. Namun tak pernah kutemukan bagaimana caranya. Ada sih, beberapa ide gila, tapi aku belum siap terlihat lebih gila lagi daripada kegilaan ?yang sudah ada ini. Maka kuputuskan, biarlah kutuliskan saja keinginan untuk mengenang ini. Walaupun tak akan pernah menjadi nyata, setidaknya dengan ini aku tahu bahwa aku sudah pernah mencoba. Dan aku tahu bagaimana rasanya. Ia itu biasa-biasa aja. Apa lagi kalau ditambah besok paginya aku sudah tiada di dunia. Sudah semua, percuma.

Sekarang ini, sekian dulu saja. Besok aku ingin menulis lebih banyak lagi tentang cinta. Tunggu ya. Dan mohon doanya juga, supaya bisa. Supaya bisa aja atau bisa banget? Lihat saja nanti.

Nanti.

Nanti.

Nanti.

  • view 149