Alasan Pembatasan Talak Kedua dalam al-Qur’an menurut Ashgar Ali Engineer

ibbahh kiranavh
Karya ibbahh kiranavh Kategori Agama
dipublikasikan 12 Januari 2017
Alasan Pembatasan Talak Kedua dalam  al-Qur’an menurut Ashgar Ali Engineer

Dalam diskursus feminisme banyak hal yang menjadi bahan perbincangan. Mulai dari konsep penciptaan perempuan,  konsep kepemimpinan dalam rumah tangga, masalah kewarisan, masalah persaksian, perceraian dan masih banyak lagi. Menyoal feminisme terdapat beragam versi. Namun, ide utama yang diperjuangkan oleh feminisme muslim adalah konsep kesetaraan. Bagi para tokoh feminisme, adanya kesetaran antara laki-laki dan perempuan berimplikasi bahwa keduanya mendapatkan hak yang sama dan kesempatan yang sama pula. Ide semacam ini dikenal dengan dasar filosofis feminisme liberal.[1] Tidak hanya itu feminis liberal menentang adanya sistem patriarkhi dalam rumah tangga, karena hal tersebut dinilai bertentangan dengan konsep kesetaraan.

Dalam tulisan ini yang ingin disampaikan ialah pendapat salah seorang tokoh feminism liberal yaitu Ashgar Ali Engineer. Terkait salah satu isu dalam diskursus feminisme yaitu mengenai cerai di dalam al-Qur’an, khususnya alasan pembatasan talak.

Ashgar Ali Engineer adalah seorang pemikir dan teolog  yang berasal dari India. Dia telah berpartisipasi dalam berbagai gerakan  perempuan. Ada hal yang menarik dari pendapat Asghar yang pendapat tersebut juga senada dengan Amina Wadud dan Riffat Hassan. Bahwa dalam pandangan mereka, laki-laki dan perempuan setara di mata Allah, hanya mufassirlah –yang hampir semuanya laki-laki- yang memberikan penafsiran terhadap al-Qur’an dengan tidak tepat[2]. Dalam hal tersebut banyak masalah yang disoroti termasuk di dalamnya konsep penciptaan perempuan. Sebagaimana yang telah disinggung di awal yang menjadi salah satu isu dalam diskurus feminisme. 

Dalam perceraian yang masih menimbulkan tanya ialah, siapa yang diberi wewenang untuk menceraikan. Siapakah yang diberi kekuasaan oleh al-Qur’an utnuk melakukan perceraian. Lalu, alasan mengenai talak tiga dan dan dibatasi menjadi dua. Ashgar mengatakan bahwa pakar hukum muslim dari semua mazhab meyakini bahwa pemilik hak untuk mencaraikan ialah milik suami. Namun, lanjutnya lagi, bahwa di dalam al-Qur’an tidak ada pernyataan tegas itu[3]. Pernyataan seperti itu disimpulkan dari Q.S al-Baqarah ayat 237.

 Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan.

“Di tangan laki-laki lah terletak ikatan perkawinan, maka di tangannya juga terletak wewenang untuk mengajukan perceraian”. Hal tersebut hanya merupakan kesimpulan, dan bukan aturan Tuhan. 

Ayat penting yang lain dalam masalah perceraian ialah Q.S al-Baqarah ayat 229,

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma´ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.

Ayat tersebut menerima hak baik suami atau istri untuk melepas ikatan perkawinan. Jika suami yang mengambil inisiatif untuk bercerai berarti ia hanya dibatasi mengucapkan talak dua kali dan mencabutnya kembali dua kali. Dengan konsekuensi tidak boleh mengambil apa yang telah diberikan kepada istrinya di masa perkawinan. (Dalam hal ini bagi Asghar tidak ada konsep talak tiga di dalam al-Qur’an).  Adapun bila istri yang memutuskan ikatan perkawinan maka ia harus membayar kepada suaminya.[4]  Dalam ayat lain dikatakan:

Kemudian jika si suami menalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui. (Q.S al-Baqarah: 230)

Seorang suami diberi kesempatan menalak istrinya sampai dua kali dalam waktu yang berbeda. Ketika menalak sampai tiga kali maka dia tidak dapat mengambil istrinya. Kecuali istrinya tersebut dinikahi orang lain lalu diceraikannya kembali. Keharusan tersebut muncul dari situasi pada masa nabi. Seorang perempuan datang mengadu kepada nabi bahwa suaminya menceraikannya dan mengambilnya kembali ketika masa iddahnya hampir habis. Sang suami memberi ancaman akan melakukan hal yang sama lagi di kemudian hari[5]. Melalui kejadian tersebut diberilah batasan talak hanya dua kali. Jika sampai tiga kali maka istri akan dipisahkan darinya demi kebaikan. Memperhatikan keadaan ini, bahwa batasan tersebut merupakan keharusan yang dibuat guna menghindari penyalahgunaan penceraian terhadap istri.

Yang ingin disampaikan dalam tulisan ini ialah gagasan Asghar menyoal alasan pembatasan talak hanya sampai dua yang ada di dalam al-Qur’an. Bagi Asghar talak tiga yang sekarang ini sering digaungkan merupakan bagian dari khas Arab pada masa yang lalu. Bukan berarti menafikan ketiadaanya. Bahwa hal itu benar adanya namun Asghar mengatakan talak di dalam al-Qur’an hanya dibatasi dua dengan melihat situasi pada masa nabi yang telah dipaparkan di atas. Kemungkinannya ketika tidak dibatasi maka angka perceraian atau penyalahgunaan perceraian akan semakin menjadi-jadi. Ketika ingin cerai dengan mudahnya memberikan talak kepada istri dan jika ingin kembali denagn mudahnya juga mengambl kembali istrinya. Hal tersebut merupakan kesemena-menaan kepada istri atau perempuan secara khusus. Itulah kacamata pembacaan Asghar sebagai seorang feminis menurut analisa penulis.

 

[1]Yunahar Ilyas, Feminism dalam Kajian Tafsir al-Qur’an Klasik dan Kontemporer, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997).Hlm. 141

[2]Yunahar Ilyas, Feminism dalam Kajian Tafsir al-Qur’an Klasik dan Kontemporer, Hlm. 56

[3]Ashgar Ali Engineer, Matinya Perempuan Menyingkap Megaskandal Doktrin dan Laki-laki, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2003), Hlm. 148

[4]Asghar Ali Engineer, Pembebasan Perempuan, (Yogyakarta: LKiS, 2003) hlm. 129 

[5] Asghar Ali Engineer, Pembebasan Perempuan, hlm. 130

  • view 204