Yang Pergi Yang Tiada

ibbahh kiranavh
Karya ibbahh kiranavh Kategori Lainnya
dipublikasikan 28 Juli 2016
Yang Pergi  Yang Tiada

Berita duka dua hari yang lalu, baru kuketahui setelah pulang dari Masjid seberes shalat Magrib. Salah seorang kakak perempuanku, bertanya dengan sedikit menyelipkan kata yang harusnya tidak diselipkan untuk hal-hal yang tidak berbau candaan. “Kamu nggak tau Ayah ****** kamu meninggal ? sudah kutebak yang dimaksud ayah siapa. Masih tidak percaya,  tercengang, diam beberapa menit mencerna informasi yang diberitakan. Baru kemudian meminta kejelasan lebih lanjut. Menit berikutnya beberapa pertanyaan muncul tanpa jeda. Kapan ? Kamu tahu dari mana ? Kok bisa tahu ? Siapa yang memberi tahu ? Itu beneran ? Beberapa pertanyaan belum menemui jawaban kemudian ditutup dengan “ Yaa Allah”. Dengan penjelasan yang tidak sebanyak pertanyaan yang kulontarkan, si kakak menambahkan, dia pun ternyata terlambat tahu berita duka itu. Hanya melihat di timeline yang dikomentari oleh salah seorang teman. Meski demikian, tetaplah dia lebih dahulu tahu dibanding aku.

Masih teringat dengan jelas, hitungan bulan yang telah lalu. Dia bercerita tentang rindunya kepada ayahnya. Beberapa bulan berselang, dia meminta dibacakan surah al-Fatihah untuk kesembuhan sang ayah. Ketika kepergian Awwal pun, dia sempat bilang “Tidak perlu bersedih dengan terlalu, kita semua sedang menuju ke sana kok. Aku pun tidak tahu apakah masih sempat bertemu ayahku atau tidak”. Ada sedikit sakit mengenang kejadian ketika itu. Betapa aku terlalu larut dan abai dengan keadaan orang lain. (mu)

Percakapan baru benar-benar usai setelah kakak perempuanku menyela dan bertanya, “Kamu, kok nggak tau beritanya ?. Deg! kali ini penjelasanku singkat, “diblokir dia”.

Kita memang membingungkan untuk hal tertentu. Kadang merasa ada yang tidak biasa dengan diri sendiri. Ketika mendangar berita yang menimpa orang yang pernah dan masih kita anggap tidak biasa.

Untuk beberapa kehilangan, memang butuh waktu untuk menerima  dengan lapang dada. Apalagi kehilangan orang terdekat yang dikasihi. Paling menyayat hati, kita tidak sedang di sisinya ketika helaan nafasnya benar-benar berhenti. Daya dan kuasa hanya milik Tuhan. Semoga hatimu tabah, kak. Hitungan hampir dua, tiga tahun  tidak bersua, bukan perkara singkat. Beberapa rindu memang tidak dihadiahi pertemuan, tidak dibalas tuntas dengan perjumpaan. Daya dan kuasa hanya milik Tuhan semata. Semoga hatimu tabah, kak.

Dari semua dedoa terbaik yang dirapalkan dan surah al-fatihan, surah yasin serta surah lainnya yang dibacakan untuk almarhum. Semoga Tuhan yang maha baik mengijabah dan menerima almarhum di sisinya, segala amal ibadahnya dan menempatkannya di tempat tebaik. Semoga keluarga yang ditinggalakan diberi kelapangan hati. Aamiin.

 

Kak, semoga hatimu tabah dan diberi ketabahan.

 

Rumah yang Nyaman dengan Hati yang Tidak Jelas, 28 July 2016. 21:45 p.m

  • view 210