Surat Rindu UntukMu

Ibad Nafisah
Karya Ibad Nafisah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Februari 2016
Surat Rindu UntukMu

Jika ada satu tulisan yang ingin aku buat sejak lama,

Mungkin ini salah satunya.

Jika ada satu hal yang ingin aku sampaikan sejak dulu,

Ini juga salah satunya..

?

22 Tahun Lalu, Engkau merubah kehidupan kami,

22 Tahun Lalu Engkau membuat kami belajar,

22 Tahun Lalu, Engkau memaksa kami lebih kuat..

?

Dimulai dari 22 Tahun Lalu,

Saat itu mengubah hidup kami,

Sore itu, saat kami berkumpul sambil menyaksikan acara berita di salah satu televisi swasta,

Yang masih terekam jelas dalam ingatanku berjudul "CAKRAWALA"

Aku, Umi dan Adikku yang saat itu menggunakan baju rumahan didatangi seorang berseragam polisi diantar oleh salah satu tetangga kami,

Beliau bilang ini rumahnya.

Umi menerima mereka di ruang tamu depan dan kemudian mencium kami lalu pergi..

Kami dititipkan kepada saudara yang kebetulan saat itu ikut tinggal dirumah..

?

Umi saat itu berusia 27 Tahun, sedangkan aku 6 tahunpun belum genap, dan adikku 3tahun juga belum lewat.

Aku tak ingat apa yang terjadi, yang aku ingat singkat cerita rumahku penuh orang-orang dan sanak saudara juga nenek kakek ku saat itu datang.

Malam itu aku diajak kerumah tetangga sebelah rumahku, namun dari situ aku melihat umiku berjalan serombongan sambil menangis,

Bersama sesuatu yang digotong, entah aku belum tau apa itu..

?

Aku dan adikku langsung berlari menghampiri umiku,..

Umi mendekap kami eraaat sekali, sambil menatap kami dan menangis,,,

Aku ingat betul tangisan umi saat itu..

?

Aku masuk kedalam rumah dan umi memanggilku keluar untuk melihat Beliau dari dekat..

Umi memangku kami dalam pangkuannya dan meminta kami mencium beliau.

Dan saat itu kami tau, beliau meninggalkan kami..

?

Iya, ayah kami meninggalkan kami...

Aku tidak ingat bagaimana perasaanku saat itu,

Namun aku selalu mengingat wajah umiku saat itu hingga keesokan harinya saat di makam..

Dengan posisi yang sama, kami berdua dipangkuannya, umi duduk ditanah dan kami diminta ikut mendoakan ayah kami, dengan ikut membantu menjatuhkan tanah ke arah makamnya..

Saat itu langit menduuuung sekali, seperti sudah magrib, padahal belum.

?

Hanya sampai di part itu yang aku ingat...

Entah apa yang terjadi dihari sebelumnya antara aku dan Abba (sebutan untuk Ayahku) aku tak pernah ingat hingga saat ini...

Yang aku tau semua orang bercerita hal baik tentang beliau,

Dan aku bangga terhadap beliau, namun menjadi lebih sedih karena tak ada yang aku ingat dari orang sebaik beliau.

?

Aku menyayangi beliau, entah karena apa aku pun tak tau..

Namun aku sangat menyayangi beliau..

?

Beliau yang memberikan banyak hal pada kami,

Beliau yang selama 6tahun lebih mendidik umi, yg berhasil membesarkan kami...

Beliau yang memilih ibu terbaik untuk kami,,

Dan beliau mengajarkan kedewasaan kepada kami, walaupun karena terpaksa..

?

Entah bagaimana dan entah apa janji saya kepada beliau,

Namun untuk urusan umi dan adik saya,

Saya merasa sangat harus bertanggung jawab untuk mereka.

Tak jarang saya beradu argumen dengan orang-orang yang lebih tua karena mereka memandang rendah kami,

Kami anak yatim yang nakal lah,

Anak jakarta yang akan kena pergaulan gak baiklah..

Tapi ternyata itulah yang membuat kami kuat..

Saya lebih bertanggung jawab menjaga mereka,

Adik dan umi juga selalu mendukung saya..

?

Semua prestasi saya dan adik saya selalu kita rayakan sama-sama,

Tak lupa berbagi kebahagiaan dengan yang lain..

?

Tak punya biaya untuk bayaran bulan ini,

Tak punya uang untuk ongkos besok,

Bahkan berbagi uang 1000 rupiah untuk makan besok pun kami pernah..

?

Umi yang mengajarkan kami berpuasa senin kamis untuk bisa menahan lapar,

Umi yang tak pernah mengajarkan kami meminta pada orang lain,

Kata umi, kenapa harus meminga kepada makhluk, mintalah kepada yang menciptakan smua makhluk..

Umi yang mengajarkan segalanya..

Umi mengajarkan berbagi, karena kita gak akan miskin karena memberi, dan harta yang akan nemenin kita sampai surga itu harta yang dikasih ke orang lain.

Umi yang mengajarkan dicubit itu sakit, jadi kalau gak mau dicubit jangan suka nyubit orang lain.

Umi yang mengajarkan bersikap baik pada asisten rumah tangga, karena tugas mereka hanya membantu.

Dan umi yang selalu punya waktu untuk mendengar cerita kami setiap harinya,

Umi juga yang berikhtiar mencari nafkah untuk kami..

?

Ya itulah umi kami,

Ibu yang dipilih oleh Abba, ayah kami..

Terima kasih Abba, karena telah menitipkan anak2 mu melalui rahimnya dan kasih sayangnya..

Kami mencintaimu Abba, dan kami tau ALLAH mencintaimu lebih dari cinta kami kepadamu,

Maka Allah tak ingin engkau hidup lebih lama di dunia yang semakin semerawut ini..

  • view 173