Mengapa Orang Tua Selalu Egois

Ibad Nafisah
Karya Ibad Nafisah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Februari 2016
Mengapa Orang Tua Selalu Egois

Pernahkah kamu merasa orang tuamu tidak mengerti cara memahami anak dengan baik?

Kalau aku iya, pernah.

Dulu saat aku kecil aku merasa orang tuaku egois dan tidak memahami apa yang aku fikirkan.

Pernahkah kamu merasa orang tuamu egois dan tidak menegerti cara mendengarkan kemauan anak?

Kalau aku iya, pernah.

Dulu saat aku kecil, aku merasa orang tuaku egois dengan pemikirannya yang tak bisa aku mengerti.

Semua itu membuat kita merasa dan bertekad akan jauh lebih baik dari pada orang tua kita saat kita menjadi orang tua untuk anak-anak kita kelak.

?

Malam ini, seperti biasa kita bercengkrama bersama diruang keluarga,

Kulihat dirimu sudah lelah tak seperti biasanya, yang artinya dirimu sudah ingin istirahat.

Setelah kusiapkan makanan untuk ayahmu, aku meminta izin menemanimu dikamar agar kau bisa istirahat lebih awal malam ini.

?

Sambil kutuntun jemari mungilmu menuju kamar,

aku mengajakmu cuci kaki, cuci tangan, bersih-bersih, tak lupa buang air kecil,

agar kamu tidak mengompol setiap malamnya, karena sejak usiamu 1,5 tahun kau sudah tak mau lagi memakai diapers dan sejak aku mengajarkanmu arti nazis kamu tak lagi mengompol.

?

Aku membayangkan malam ini romantis,

Seromantis malam-malam kita sebelumnya.

Kita akan bercanda gurau hingga lelah dan saat kau lelah kamu akan memintaku bercerita,

Iya bercerita,

Bercerita tentang apapun yang kau suka, tentang gajah, tentang jerapah, tentang dinosaurus, tentang ondel-ondel, tentang sapi dan kambing qurban, tentang kuda, dan yang akhir-akhir ini tak bosan kau minta adalah tetang gorila dan perjalanan kita 2 pekan lalu ke Kebun Binatang.

Sampai akhirnya kamu mengantuk tak tertahankan, kita sama2 mengucapkan doa dan kamu terlelap dalam pelukkanku.

Seromatis itu setiap malam yang kita lalui Nak.

?

Namun malam ini ada yang berbeda..

Kita melakukan semua yang kita lakukan setiap malam,,

Hingga lewat 1jam kamu tak juga terlelap...

Hingga ayah mengintip kita dan ikut main bersama kita sejenak, karena 15menit kemudian ayah ingat bahwa ada acara sepak bola yang tak ingin dilewatkannya.

?

Entah kenapa dan bagaimana tiba-tiba obrolan kita sampai kepada pertanyaan,

"Kamu Anak siapaaa?" Aku bertanya kepadamu sambil bersenda gurau.

Dan jawabanmu membuatku seperti tersambar petir.

"Anak Uwa" ?jawabmu singkat.

Kamu memang senang bergurau, seperti jika kamu salah memanggilku saat kita bermain sepulangku dari kantor, dan kamu memanggilku Uwa.. (*Uwa adalah panggilan untuk asisten rumah tangga kami yang bekerja paruh waktu, hanya sampai aku pulang dari kantor)

Dan biasanya kamu suka bergurau dengan memanggil, "eh uwa, eh bunda, eh uwa, eh bunda"

Aku tau itu caramu membuatku senang..

?

Dan aku fikir malam ini, itu adalah hal yang sama,

Hingga berulang kali pertanyaan yang sama aku lontarkan kepadamu, namun jawabanmu sama..

?

Tak terasa air mata ini menetes, aku menatapmu.

Kamupun bingung..

Aku tak menyalahkanmu Nak, karena aku yang salah, karena waktuku mungkin tak cukup untukku bagi bersamamu,

Walaupun Sabtu-Minggu aku dedikasikan seluruh waktuku untukmu dan ayahmu,

Dan setiap hari aku slalu pulang tepat waktu agar dapat berbagi waktu lebih lama denganmu..

Namun malam ini aku sadar bahwa semuanya tidaklah cukup.

?

Aku peluk dirimu Nak, Sesak rasanya dada ini..

Ingin marah, entah harus marah kepada siapa.

Hanya sedih dalam hati ini yang aku rasakan semakin dalam.

Andai kamu tau Nak, sejak dirimu hadir didunia ini, rasa cintaku kepadamu jauh lebih besar dari rasa cintaku pada siapapun,

Lebih besar dari rasa cintaku pada ibuku, lebih besar dari rasa cintaku pada ayahmu, dan jauuuhh lebih besar dari rasa cintaku pada diriku sendiri.

Kamu adalah segalanya..

Jadi saat dirimu mengatakan itu rasanya aku tak dapat diucapkan.

?

Aku tatap matamu, aku peluk dirimu sambil aku jelaskan kepadamu.

"Aku adalah ibumu, Kamu adalah Anakku, sedangkan Uwa adalah yang membantu kita, hanya membantu.. kita adalah keluarga dan Bunda sayang sekali sama kamu Anakku"

Beberapa kali aku ucapkan itu kepadanya sambil tersenyum.

?

Kamu mengerti, walaupun aku yakin tak sepenuhnya mengerti..

Kamu mengulangi kata-kataku secara singkat,

"Aku anak bunda, dan Uwa hanya bantu kita..."

Aku mengangguk seakan setuju dengan apa yang baru saja kau ucapkan,.

Aku memelukmu dan aku memintamu tersenyum..

Kamu tersenyum maniss sekali pangeran kecilku, senyuman yang biasanya menyalakan semangatku, namun kali ini membuatku tersayat mengingat kata-katamu...

?

Aku mencoba menjelaskan pembenaranku mengapa meninggalkanmu bekerja setiap harinya..

Iya pembenaran, karena tak ada yang benar ketika kita meninggalkan harta paling berharga dan dititipkan kepada orang lain.

?

Dalam hati aku berjanji akan mencari cara bagaimana aku mewujudkan impianku membuatmu cukul dalam segala sesuatu,

Membuat ekonomimu baik hingga kau tak perlu memikirkan bagaimana bayaran sekolah bulan depan, ataupun baju seragam yang tak bisa kau tebus seluruhnya..

Maafkan aku Nak, karena aku mungkin menyangsikan keajaiban ALLAH untuk hal ini, namun aku rasa itu salah 1 ikhtiarku..

?

Aku menyesali hari ini, karena aku yakin, hari ini malaikat kecilku merasakan dua hal yang aku tulis dalam paragraf pertama...

?

Namun aku harap kamu akan mengerti ketika kamu kelak menjadi orang tua,,

?

Karena terkadang orang tua bukan egois, namun orang tua lebih mengerti dan pernah menjalani apa yang pahit dan tak boleh terjadi kepada kita..

?

Aku mencintaimu tanpa syarat Nak.

Aku harap kamu mencintaiku, dengan keputusan yang mungkin kau akan menganggapku egois..

Namun aku mencintaimu, dengan segala mimpiku tentang kemudahanmu kelak...

Kita keluarga dan akan selalu begitu..

Menjadi orang tua memang tidak mudah, itu pelajaran bunda hari ini

  • view 176

  • Priyo HonWin
    Priyo HonWin
    1 tahun yang lalu.
    Ndak perintah dlm al Quran ortu menyayangi anak, krn itu sudah kodrati, cuma saat ini kebanyakan sayang nya ortu berlebihan sehingga anak jadi gomoh

    • Lihat 1 Respon