SEANDAINYA

Ibad Nafisah
Karya Ibad Nafisah Kategori Motivasi
dipublikasikan 15 Juli 2016
SEANDAINYA

Hujan turun dengan derasnya,

Kami berteduh sebentar dihalaman depan rumah orang,

Tangan kami saling berpengangan,

Erat sekali...

 

Kilat menyabar dengan cahayanya,

disertai dengan dentuman keras bagaikan ingin menyambar kami,

Dua anak kecil dibawah payung hijau,

yang tetap terkena hujan walau sudah berlindung dibaliknya.

 

Angin menyapu wajah kami,

seolah mengantarkan air hujan yang membasahi seluruh wajah kami,

Dengan sabar kami memperhatikan langit,

berharap sebentar saja volume air yang dijatuhkannya berkurang,

agar bisa berlari pulang dan segera sampai dirumah sebelum ibu kami pulang..

 

Kami berdua ketakutan,

namun kami berusaha saling menguatkan,

Aku rangkul tubuh mungilnya dan mengajaknya berjalan kembali saat hujan mulai bersahabat kembali,

 

Aku menyukai hujan,

selalu menyukainya,

asalkan kilat dan petir tak menemaninya,

 

Aku menyukai hujan,

dengan segala kesejukkannya,

asalkan dia tak menyakiti..

 

Kali ini pemberhentian ketiga saat kami berjalan pulang kali ini,

karena hujan yang tak kunjung mengurangi volumen nya,

kami putuskan untuk terus berjalan,

Berjalan dalam langkah kecil kami,

dan mencari tempat berteduh saat payung hijau kami tak sanggup lagi melindungi,

 

Tas "gemblok" kini berpindah tempat ke dekapan kami,

seolah tak ingin membuatnya ikut menjadi korban dalam situasi ini.

Walaupun sebenarnya jika tanpa"nya" kami bisa berlarian tak perlu berteduh dan tak perlu payung hijau,

Namun demi melindunginya kami harus melakukan ini.

 

Waktu seperti berjalan sangat lama,

karena setiap kali kami berteduh kami "celingak-celinguk" mencari orang yang lewat melewati jalan pulang kami,

Tapi rasanya tak akan ada yang lewat,

Karena mereka sudah lebih dulu pulang sejak tadi.

 

Saat seperti ini aku selalu membayangkan banyak hal,

tentang sosok ayah yang dapat menjemput kami setiap kami pulang sekolah,

atau sosok ibu yang tak perlu mencari nafkah dan menanti kami sampai dirumah setiap hari.

 

Ah, tak kuizinkan setan hadir meracuni fikiranku tentang hal ini,

rasanya hidup menjadi tak menarik jika fikiran tersebut hadir menemani perjuangan kami.

 

Hujan mulai berhenti,

Kulanjutkan kembali perjalananku,

maksudku perjalanan kami,

Dengan kembali menggendongnya ke punggungku,

dan adikku kembali menyandarkan kepalanya kepundakku,

sambil berbisik, Semangat Kakak.

 

Kami melanjutkan perjalanan kami,

tanpa mengizinkan adikku memikirkan "Andai ia dapat memiliki kakinya"

 

Renungan Sore

-=ibad nafisah=-

visit : https://ibadnafisah26.wordpress.com/2016/07/15/seandainya/

  • view 203