Tentang Hati

Ibad Nafisah
Karya Ibad Nafisah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 April 2016
Tentang Hati

Rasanya seperti sebuah Tantangan pertanyaan seseorang yang tidak ku kenal,

Oh, bukan tidak kenal, namun baru kenal.

Ya tidak mengenal sebelumnya namun mengenalnya melalui tulisan.

Singkat, Namun cukup membuatku berfikir.

 

Ya, perasaanku saat ini?

Apa?

Bagaimana?

 

Entah kapan terakhir kali aku bertanya kepada hatiku bagaimana kabarmu?

Atau hanya sekedar meluangkan waktu untukmu hatiku..

Masih harus aku ingat kapan terakhir kali aku memiliki rasa untuk diriku sendiri?

Atau mungkin sedikit waktu untuk merenungi apa yang sudah kau lakukan hari ini, kemarin, minggu lalu dan sebelum-sebelumnya.

 

Aku mulai flashback apa yang terjadi?

Mengapa aku mulai melupakan diriku sendiri?

 

Tak ada waktu untuk diriku sendiri,

hanya ada banyak belenggu yang sudah memberi sekat tersendiri dalam hati.

Seperti bangunan liar, yang lama tak ditengok,

Kini mereka tumbuh subur didalam hati dan fikiran.

 

Rasanya sekarang waktu yang tepat untuk mulai "menebang" mereka dalam hati dan fikiranku.

Waktu memang memiliki batas,

hanya ada 24 jam dalam 1  hari,

hanya ada 1.440 menit dalam 1 hari,

dan hanya ada 86.400 detik dalam 1 hari,

dan tak ada 1 detikpun aku memikirkan hatiku dalam rentang waktu tersebut.

 

Rasanya Ibadah hanya menjadi sesuatu kewajiban tanpa rasa,

hanya cukup berdoa dengan seadanya sebelum aku mendengarmu menangis.

Atau sebelum aku mendengar orang-orang berbicara disampingku.

 

Rasanya hidup sosial didunia seolah menjadi lebih menarik dari hidup bersama hatiku sendiri.

 

Berjalan gontai setiap hari,

seolah terbelenggu dengan semua rutinitas yang ada.

 

Hanya ada kalian, ya kalian berdua.

Tak ada orang lain, bahkan tak ada waktu untuk bertanya pada hatiku.

 

Entah kapan mulai seperti ini,

rasanya seperti ada hal yang akan membuatku merasa bersalah saat aku harus bersenang-senang ataupun kerja agak larut.

Rasanya ada yang menghantui saat aku harus meninggalkanNya agak lebih lama, bahkan untuk mencari waktu berdua denganMu pun sulit.

 

Hai Rasa,

Hai Hatiii,

Hai Kamu,

Maaf aku telah terlalu lama meninggalkan kalian,

 

Aku akan mulai membersihkan kalian dari sampah-sampah sosialita,

Dan mulai "berbaikan" dengan kalian.

Bolehkah?

 

Aku berikan jariku kepadamu hai hati,

sebagai tanda maaf dan janjiku kepadamu akan mencoba memberimu sedikit waktuku untuk kita berbincang dan bercengkrama.

 

seolah ini jawaban atas pertanyaanmu hai seseorang.

Terima kasih atas pertanyaannya yang singkat, namun menjadi pertanyaan yang sulit aku jawab.

Karena menjawabnya harus berdiskusi dengan hati.