Terimalah Maharku

Ibad Nafisah
Karya Ibad Nafisah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 April 2016
Terimalah Maharku

Istriku,
Selama 40 tahun kamu menemaniku, maafkan jika tak pernah sekalipun kubuat kau bahagia,
Selama ini hanya sedikit nafkah yang aku berikan, padahal mimpimu terlampau banyak, kadang aku tak bisa mengimbanginya, aku hanya dapat memberi restu atas semua mimpimu, tanpa dapat mendukung dengan materi yang kamu butuhkan..

Hanya satu hal yang membuatku bahagia adalah, ketika kamu tersenyum kepadaku.
Entah kenapa aku selalu suka saat aku sakit, karena kamu akan menunda semua aktivitasmu sementara dan menemaniku dikamar, walaupun akhirnya kamu akan memarahiku karena tak pandai menjaga kesehatan, atau kadang kamu dengan sangat galaknya memintaku meminum obat yang telah kau siapkan dan dengan sengajanya aku menolak sambil bercerita tentang hal humor yang dapat membuatku melihat bibirmu memulas senyum sebentar dan akhirnya kau memaksaku untuk meminum obat itu.
Aku suka momen itu...

Aku suka caramu mengejar mimpimu, karena dahulu saat muda akupun punya banyak mimpi dan harus terkubur karena aku berfikir semua itu terlalu muluk..

Istriku, dulu kamu anak kepala desa yang hidup dengan berkecukupan, namun aku mencintaimu dan aku memilihmu untuk menemani hidupku, walaupun aku tak memiliki apapun, tak sepeserpun aku punya saat aku menikahimu,
Hingga ku bawa dirimu ke ujung jakarta dan menemaniku menjajakkan air bersih yang akhirnya aku hanya bisa membawa nafkah kepadamu sangat tak mencukupi, tapi kamu tak pernah mengeluh, walaupun juga tak tersenyum, realistis dan membuatku semakin hari semakin ingin berusaha lebih baik lagi,
Aku tambah jam kerjaku, namun Jakarta saat itu masih minim orang-orang berpunya, jadi tak selisih banyak nafkah yang bisa aku bawa pulang..
Tak cukup sampai disitu perjuanganmu menemaniku,

Istriku, Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan tetap,
Tidak begitu besar pendapatannya, namun setidaknya ada pendapatan tetap yang bisa aku berikan kepadamu setiap bulannya,
Semua orang harus tau kamulah seindah-indahnya perhiasan dunia,
Istri cantik nan sholehah,
Jika sesekali kau mengeluh itupun tak pernah dihadapanku..

Istriku, mungkin Tuhan memang tak menghendakiku dapat memberikanmu harta yang banyak,
Mungkin jauh dari cukup, namun anak-anak kita bisa bersekolah layak dan makan cukup 4sehat 5 sempurna,
Semangat dan ambisimu tak pernah padam sepanjang aku menatap matamu..
Itulah kamu, istriku.

Mulai dari tinggal dirumah dinas ditempat kerjaku, hingga akhirnya Tuhan menitipkan rumah yang kau sulap menjadi TK, seolah kau masih tetap sama, jiwa mengajarmu tak pernah padam,
Sejak awal aku mengenalmu kau menjadi salah satu Guru termuda di SD dekat rumahmu hingga sekarang kau tetap menjadi salah satu guru dalam kehidupanku..

Setiap bulan rasanya ingin aku menabung untuk membayar hutangku kepadamu,
Namun melihat kebutuhan yang semakin hari semakin banyak dengan ketiga anak kandung kita rasanya membuatku menjadi orang yang egois jika harus ku sisihkan pendapatanku untuk aku tabung..
Aku serahkan seluruh pendapatanku kepadamu dengan menyisakan sedikit untuk operasional pekerjaanku.

Hingga datanglah hari ini,
Hari dimana aku harus melunasi hutangku kepadamu,
Syukurlah karena dihari-hari sebelumnya aku pernah menitipkan pesan kepada anak sulung kita..
Tentang satu-satunya harta yang aku miliki dan aku ingin menjualnya untuk membayar hutangku padamu,

Iya istriku,
Hutangku kepadamu saat aku meminta kepada ayahmu,
Dan hutang yang tertoreh dalam buku kecil kita berdua itu belum bisa aku bayar itu selama 40 tahun hidup bersamamu..

Hari ini,
Aku menjadi pengantin lagi,
Pengantin dihari terakhirku didunia sebelum aku menghadap pemilik langit dan seluruh isinya..

Hari ini kamupun cantik,
Dengan gaun putihmu itu hari ini adalah saat pertama aku tau kau sangat mencintaiku, begitupun denganku.

Aku duduk disampingmu istriku,
Rasanya terulang lagi momen pernikahan kita,
Semua orang menangis haru,
Namun rasanya bagiku itu tangisan kebahagiaan mereka,
Ada beberapa anggota keluargamu dan anak-anak kita yang menjadi saksi serta beberapa adik laki-lakimu seolah menjadi wali untuk pernikahan ulang kita ini,,

Istriku, janganlah menangis dihari ini,
Karena aku ingin sekali melihatmu bahagia, saat kau terima mahar pernikahan kita yang sudah 40 tahun tertunda..

Istriku,
Terima kasih karena telah mencintaiku tanpa syarat,
Dan selalu dapat menerimaku apa adanya,
Walau pernikahan kita berbeda dengan yang lain, saat mahar yang ku sebut saat itu belum hadir dihadapanmu kala itu.

Terimalah mahar ini istriku, hingga tunailah semua hutangku didunia,
Hutang terbesar yang tak sanggup aku bayar,
Hanya seperangkat alat sholat dan sedikit perhiasan,
Namun maafkan aku karena baru sempat aku bayar saat aku sudah tak lagi bernafas..