Batal Umroh: Cinta Itu (Selalu) Ada, Nai!

intan puspita sari
Karya intan puspita sari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 September 2016
Batal Umroh: Cinta Itu (Selalu) Ada, Nai!

“Umroh?”

Mataku terbelalak mendengar tawaran wanita tua di hadapanku. Wanita yang selalu menjanjikan kebahagiaan lewat sorot matanya yang tegas. Bahkan di usia yang sudah lebih dari separuh abad, saat seharusnya akulah yang menawarkan kebahagiaan padanya, ia tetaplah seorang ibu yang selalu ingin mempersembahkan yang terbaik untuk putrinya.

Aku wes tau ning Mekkah, Nduk. siki giliranmu.1

 Aku mengangguk kegirangan. Refleks memeluk tubuhnya yang sudah tua namun masih terlihat bugar. Di pelukannya, aku meneteskan air mata. Ia pun sama.

“Sudah saatnya kamu meninggalkan sejenak kehidupanmu yang pasti sungguh melelahkan, Nak. Lupakan tentang betapa sulit ekonomi keluargamu, tentang suamimu yang acuh tak acuh. Lupakan hingar-bingar kehidupan yang membuatmu meneteskan air mata. Kunjungilah tanah haram itu, Nak.” Wanita itu bergumam dalam tangisnya.

Aku melepaskan diri dari pelukannya, mencium tangannya. Ia tersenyum takzim. Terlihat buliran bening membasahi kedua pipinya. Aku menyeka air mata itu.

Maturnuwun2, Mak. Nai sudah lama pengin ke Mekkah. “

Njih, Nduk. Mumpung gratis. Kapan meneh iso mangkat umroh gratis3.” Ia bicara sambil tersenyum.

“Tapi, Nai minta izin mas Reyhan dulu. ”

“Ya, semoga diizinkan. Jika dia punya uang, dia bisa menemanimu, Nai.”

Aku mengamini kalimatnya. Kata-katanya selalu kuanggap doa. Doanya adalah harapan bagiku. Meski baru saja, kalimat terakhir yang kuucapkan, melahirkan benih-benih kekhawatiran dalam benakku sendiri. Izin mas Reyhan? Mungkinkah?

****

Sore menjelang. Tak ada tanda-tanda kepulangan Mas Reyhan, suamiku. Seharusnya, tanpa ekspektasi terhadap tawaran umroh dari ibu, aku tak akan begitu resah menunggunya.

“Sepertinya Reyhan tidak pulang, Nai.”

Ibu bicara seperti tahu yang sedang kupikirkan. Mungkin wajahku terlalu kentara mengekspresikan kegelisahan batin yang sedang menunggu.

Wis tho, jangan mondar-mandir terus kayak setrikaan panas. Masih banyak hari lain walaupun ia ndak pulang hari ini.”

“Tapi kan, Mamak besok pulang.”

“Ya sudah, ndak apa. Kamu bisa minta izin tanpa mamak, Nduk.”

Aku terdiam. Sepertinya aku terlalu khawatir mendapat penolakan. Aku butuh keberadaan ibu di sisiku saat, mungkin nantinya, Mas Reyhan tak memberi izin. Aku tahu betapa keras kepala laki-laki itu. Aku khawatir ia tak memberi restu dan aku tak bisa menerimanya. Aku bahkan tak mau membayangkan apa yang akan terjadi kelak.

Wis shalat?” Suara ibu lagi-lagi menyadarkanku.

“Oh, belum. Nai shalat ndisik4, Mak”

Aku meninggalkannya di ruang tamu. Shalat. Mungkin ada keajaiban usai doa-doa panjang yang bisa kumunajatkan padaNya dalam shalat.

****

Sampai pagi kembali, bahkan mentari mulai meninggi. Tak jua suamiku pulang. Aku menyadari satu hal. Sudah lama aku kehilangan sensasi menunggu seperti ini. Entah berapa tahun sudah berlalu. Aku sudah tak pernah banyak berharap ia bisa pulang saban sore ke rumah ini. Karena rumah ini tak lagi jadi satu-satunya tempat untuknya pulang. Mungkin ini rumah pertama atau justru rumah keduanya. Aku sudah tak peduli. Ah, rupanya aku masih punya rindu untuk suamiku.

“Assalamualaikum”

Sebuah suara yang kutunggu akhirnya terdengar.

“Waalaikumsalam” Aku menjawabnya, membuka gorden di pintu antara dapur dan ruang tamu. Rupanya benar, Mas Reyhan. Aku tersenyum. Tapi, tak seperti adegan romantis suami-istri dalam film. Menyambut suami pulang dengan mencium tangan, membawakan barang yang ia bawa, sepatu atau sejenisnya. Aku justru menutup gorden kembali. Tetap di dapur melanjutkan aktivitas memasakku. Ini, kali pertama setelah sekian tahun aku merasa senang ia pulang.

Mas Reyhan sudah biasa pulang tanpa sambutan hangat. Dan rasanya ia memang sudah tak membutuhkan itu. Ia masuk rumah begitu saja. Meletakkan apapun yang ia bawa. Lalu ke kamar atau tetap di ruang tamu. Merebahkan diri di kasur yang memang sengaja diletakkan di sana.

Kali ini, ia berbaring di ruang tamu, di kasur lantai depan televisi. Jika sudah begitu, aku tak melupakan peranku sebagai seorang istri: Menyediakan segelas kopi.

 “Kopinya, Mas.” Aku menawarkannya setelah gelas itu tepat kuletakkan di atas meja. Tak lupa pula kusuguhi beberapa potong brownies di piring sebagai pasangan minum kopi.

“Oh, iya” Mas Reyhan segera bangkit dari posisi tidurnya.

“Masih panas. Nanti minumnya. Makan browniesnya saja dulu.” Cegahku sebelum ia menyeruput kopinya. Lalu duduk di sampingnya.

Mas Reyhan hanya diam. Sekian detik kemudian dia membuka percakapan.

“Aku capek banget. Di jalan tadi macet. Ada jalan rusak, mana pas jam sibuk. Jamnya memulai aktivitas. Yang kerja, kerja. Yang sekolah, sekolah. Duhh, malesnya bawa mobil kalau lagi macet begitu.”

Ah, selalu begitu. Setiap pulang, ia hanya mengeluh. Tak pernah memberi kabar menyenangkan untukku. Aku sendiri sudah malas menimpalinya. Aku diam saja.  Merasa tak direspon, ia melontarkan pertanyaan.

“Ria mana? Kok nggak kelihatan?”

“Lagi di rumah Sony. Nemenin ibu main ke sana.” Jawabku dengan mata menatap ke layar televisi dan tangan menyuapkan sepotong brownis ke mulutku sendiri. Nampak tak acuh.

“Ada ibu? Tumben. Ada masalah apa?”

Emosiku sedikit tersulut. Kalimatnya benar-benar keterlaluan. Tumben katanya? Itu efek ia yang jarang pulang sehingga tak tahu bahwa ibu bahkan sering ke rumah ini. Dan pertanyaannya? Rasanya wajar ketika seorang ibu berkunjung ke rumah anaknya. Tak perlu menunggu ada masalah.

“Ya, silahturahim lah. Jenguk anak cucunya. Harusnya kita yang ke rumah ibu. Bukan justru ibu yang sering kemari.” Aku menjawab dengan nada sedikit ketus.

“Kali aja mau ada undangan lagi. Barangkali ada keponakan yang mau nikah. Kamu sensitif sekali.” Ia mengklarifikasi kalimatnya. Tampak merasa bersalah melontarkan pertanyaan tadi.

“Nggak ada. Ibu pengin main aja. Sekalian nawarin aku undian umroh.” Aku mulai mengarah pada inti percakapan.

“Maksudmu?” Ia bertanya tak mengerti.

Aku menjelaskan tentang undian umroh yang ingin diberikan ibu. Sekaligus mengajukan permohonan izin darinya untuk merestui keberangkatanku. Namun, laki-laki ini justru memberi respon dingin. Diam dengan tatapan kosong. Nampak berpikir jauh. Aku yang dibuatnya bingung menerjemahkan makna diamnya.

Setujukah? Atau justru sebaliknya?” gumamku dalam hati.

Bukannya menjawab kebingunganku, ia malah beranjak dari posisinya. Meninggalkanku. Jika sudah begini, aku tak berani mengajukan pertanyaan lain. Bisa jadi, yang muncul dari mulutnya adalah sesuatu yang benar-benar aku takutkan. Aku membiarkannya. Barangkali ia sedang berpikir matang-matang sebelum memberi keputusan. Meski dengan ekspresi itu, membuat ekspektasiku pada peluang umroh turun menjadi lima puluh persen. Ya, tak bisa dipastikan Mas Reyhan akan menyetujui atau tidak. Aku hanya diam menyaksikan punggungnya menjauh. 

****

Sepertinya kabar umroh itu kini menjadi awal perang dinginku dengan Mas Reyhan. Sejak kabar itu kusampaikan tadi siang, hingga malam menjelang, Mas Reyhan tak mengeluarkan sepatah kata pun padaku. Bisikan kebencian itu mulai memenuhi pikiranku. Memutar kisah pahit kehidupan rumah tanggaku dengan laki-laki itu. Menghasutku untuk memulai pemberontakan. Pergi umroh tanpa izin suami. Mengabaikannya sebagai imamku. Menunjukkan padanya bahwa Tuhan selalu lebih berpihak padaku. Berbagai pikiran buruk mulai mendominasi. Jika bukan kalimat seorang ibu yang menenangkan, aku mungkin sudah menjelma menjadi istri durhaka.

“Berikan dia sedikit waktu untuk berpikir. Berdoa saja ia memilih keputusan terbaik untukmu. Besok pagi Mamak akan mengajaknya bicara sebelum pulang, Nai. Berhentilah menangis. Anak-anakmu butuh seorang ibu yang kuat. Mereka sudah kehilangan peran ayah, kau seharusnya lebih kuat untuk merangkap dua peran sekaligus, Nai. Kau sudah berjuang mempertahankan keutuhan keluargamu sejauh ini. Jangan sampai sia-sia hanya karena umroh yang Mamak harap bisa sedikit menyenangkanmu. ”

Kalimat itu menjadi penutup curhatan panjangku pada ibu malam itu. Ibu benar. Aku sudah melewati sekian tahun dengan segala kesulitannya. Ini hanya bagian kecil. Kalimat itu cukup untuk membuatku setidaknya tidur dengan nyenyak.

****

Pagi sudah menjelma kembali. Mentari menyapa lagi. Semoga, setidaknya, sebuah senyuman sudah bisa kulihat lagi di wajah Mas Reyhan hari ini. beruntung bila beriring dengan izin yang tulus darinya. Aku sudah cukup lelah menerima kenyataan bahwa ia acuh tak acuh dengan keluarga ini. Tak sanggup bila harus diiringi perang dingin dengannya. Semoga semua berakhir hari ini.

Ibu sudah mengemasi pakaiannya. Bersiap pulang sebelum dijemput adik iparku. Aku memintanya sarapan bersama. Kemarin sore aku sudah memberitahu anak-anakku yang sudah punya rumah sendiri-Sony, Riko, dan Rani-beserta keluarganya masing-masing untuk sarapan bersama di rumah. Aku sengaja mengumpulkan mereka karena neneknya akan pulang. Aku juga sudah menyuruh si bungsu Ria untuk mengajak ayahnya sarapan. Namun menurut penjelasan Ria, Mas Reyhan tak bergeming. Aku maklum.  

Kami sarapan tanpa Mas Reyhan. Ini momen langka. Di rumah ini, bahkan meja makan berkapasitas delapan orang tak bisa menjadi tempat untuk berkumpul lazimnya sebuah keluarga harmonis. Kami terbiasa makan sendiri-sendiri. Keluargaku kehilangan komando. Karena yang seharusnya memimpin sudah jarang berada di rumah. Namun rupanya, ketiadaan Mas Reyhan di meja makan, membuat selera makanku terganggu. Pada suapan ketiga aku memilih berhenti lalu beranjak ke kamar. Tanpa sadar, tatapan seseorang yang baru hendak bergabung sarapan mengikuti punggungku. Mas Reyhan.

***

“Mari bicara.”

Aku terkejut mendengar suara itu. Mas Reyhan berdiri persis di depanku. Refleks aku mengangkat wajah yang sejak satu jam lalu tertunduk mengikuti arah jatuhnya air mataku.

“Ramdan dan Vina sudah di depan. Mereka menunggu untuk berpamitan. Ibu memintaku memanggilmu ke ruang tamu. Setidaknya hapus dulu air matamu. Jangan menambah kesan aku menyakitimu terlalu dalam.” Mas Reyhan bicara dingin. Kemudian menyodorkan sapu tangan yang sepertinya sudah ia siapkan karena tahu aku pasti sedang menangis.

Aku meraih sapu tangan itu. Menyeka kedua pipiku yang basah, tanpa berkata-kata. Melihatku tak merespon kalimatnya, ia lanjut bicara.

“Aku tak pernah bermaksud menghancurkan semua kebahagiaan yang seharusnya menjadi milikmu. Untuk kali ini, percayalah. Juga maafkan aku tak bisa memberimu restu. Aku punya alasan melarangmu menerima tawaran umroh dari ibu. Aku akan menjelaskan alasannya di hadapan mereka. Setelah itu, kau berhak memutuskan untuk memilih mengikuti keinginanmu atau mengikutiku sebagai suamimu.”

Bicaranya tetap dingin, namun kalimatnya penuh makna, penekanan, sekaligus pengharapan dan kepasrahan.

“Kita bisa bicara pada ibu saja, Mas. Tak perlu melibatkan Ramdan dan Vina.”

Aku mencegahnya membahas permasalahan ini di hadapan adik dan iparku. Aku khawatir menimbulkan pandangan negatif mereka padanya.

“Tidak apa. Tak usah khawatir. di depan juga ada Sony, Riko, dan Rani. Sejak kau meninggalkan meja makan, mereka memberiku tatapan menyalahkan. Mari bicara di depan.” Mas Reyhan berjalan meninggalkanku. Aku tak bisa lagi menolak. Mengikutinya dari belakang.

***

Di ruang tamu sudah berkumpul ketiga anak beserta menantuku, juga adik dan iparku serta ibu. Dinda dan Ria sudah berangkat ke sekolah. Kami berdua memasuki ruang tamu seperti tersangka yang hendak diinterogasi. suasananya benar-benar kaku. Mas Reyhan duduk di kursi yang sepertinya sengaja dikosongkan. aku duduk di sampingnya.

“Jadi piye5 keputusanmu, Han? Ibu berharap kamu mengizinkan Nai untuk umroh” Ibu membuka percakapan.

Mas Reyhan masih diam. seperti memikirkan kalimat yang tepat untuk dilontarkan.

“Kalau kamu khawatir Nai berangkat sendiri, silakan ikut umroh dengan uangmu sendiri. Karena terus terang, ini hanya hadiah undian yang ibu menangkan dari bank syariah tempat ibu menabung dan hanya untuk satu orang. Ibu sudah pernah ke sana dan sudah terlalu tua untuk pergi sendirian. Makanya ibu berikan pada Nai. Sekarang tinggal kamu, mengizinkan atau tidak.” Ibu menyambung kalimatnya lagi.

“Maafkan Reyhan, Bu. Tapi Reyhan tidak akan memberi izin untuk Nai umroh dengan undian itu.” Mas Reyhan akhirnya bersuara.

“Yah!” Riko dan Sony langsung merespon, tidak terima. Sebagai anak laki-laki, mereka berdua yang lebih sering terpancing emosinya bila sudah bersinggungan dengan kebahagiaanku. Siapa pun yang mencoba merenggut senyumku, harus berhadapan dengan mereka. Itu kalimat penghibur yang diucapkan Riko dan Sony, saat dulu aku menangis tersedu karena mengetahui Mas Reyhan menikah lagi. Tangan ibu yang memang duduk di antara mereka langsung memegang pundak keduanya. Menahan emosi mereka. Riko dan Sony paham maksud neneknya untuk tidak melanjutkan kalimatnya.

“Kenapa?” Ibu memberi kesempatan Mas Reyhan untuk menjelaskan sebelum kedua anak laki-lakiku mengamuk.

“Kami akan berangkat haji”

Aku terkesiap. Haji? Sejak kapan Mas Reyhan punya rencana itu? uang dari mana? Namun sepertinya bukan hanya aku yang terkejut mendengar ucapannya. Seisi ruang tamu itupun saling tatap keheranan, menunggu kalimat selanjutnya.

“Haji? Kapan? Memangnya sudah mendaftar?” Pertanyaan yang dilontarkan ibu mewakili rasa penasaran kami.

“Belum. bahkan uangnya belum ada” Mas Reyhan menjawab tenang.

“Terus?” tanya ibu lagi.

“Yang jelas, aku sudah punya rencana untuk itu.”

“Han, sekalipun kamu sudah menyiapkan uang dan sudah mendaftar, belum tentu kalian akan berangkat tahun ini juga. Antrian haji itu panjang. Mendaftar sekarang, boleh jadi berangkatnya lima tahun ke depan. Apalagi kamu yang baru rencana. Entah tahun kapan kamu baru bisa membawa Nai melihat Ka’bah. Ini kesempatan langka, mumpung gratis. Izinkanlah istrimu itu jalan-jalan. Kasihan harus di dapur terus. Menunggu kamu mengumpulkan uang haji, entah kapan bisa berangkat. Itupun kalau tidak terbentur ajal. siapa yang bisa menjamin besok kita masih hidup.”

Mas Reyhan diam saja. Dari matanya aku tahu dia berkeinginan menjawab perkataan ibu. Tapi ia masih meredamnya.

“Ibu tanya, kapan kamu akan mendaftar haji?”

“Bila uangnya sudah terkumpul” Jawabnya singkat.

“Sudah berapa uang yang berhasil kamu kumpulkan?”

Mas Reyhan menggeleng. Aku menangkap bahwa ia tersinggung dengan kalimat ibu. merasa dipermalukan tapi tak bisa berbuat banyak.

“Baru seminggu yang lalu Dinda menangis di pangkuanku mempertanyakan cita-citanya untuk kuliah yang mungkin akan ia kubur karena kamu mengatakan padanya bahwa kalian tak punya biaya. sekarang kamu berani menyombongkan diri di hadapan ibu untuk berangkat haji dengan uangmu sendiri. Berhenti bersikap egois! Hanya untuk melarang Nai umroh, kamu harus bertingkah konyol begini. Kekanak-kanakan! Ibu tahu gengsimu selangit!” Nada bicara ibu meninggi. Aku, anak dan menantuku, bahkan Ramdan beserta istrinya hanya terdiam membiarkan suara ibu memenuhi ruangan. Tidak  ada yang berani angkat bicara.

“Ini bukan soal gengsi, Bu. Reyhan sudah memikirkan ini matang-matang. Reyhan sudah berencana menjual tanah warisan orang tua Reyhan untuk berangkat haji. Reyhan tidak pernah berkeinginan mematahkan cita-cita anak kandung Reyhan sendiri. Reyhan memang sudah tidak bisa menjanjikan materi pada anak-anak. Reyhan tidak mau menjual tanah itu untuk kuliah Dinda karena uang hasil penjualan tanah itu mungkin hanya bisa mencukupi biaya kuliahnya beberapa bulan. Setelah itu? Reyhan cukup tahu diri dengan kondisi ekonomi sekarang. Reyhan ini Cuma sopir angkot. Angkot sekarang sepi peminat. Penghasilan Reyhan sudah tidak mungkin untuk membiayai kuliah Dinda. Reyhan tidak mau memberikan kebahagiaan pada Dinda hanya beberapa bulan, untuk kemudian menjadi beban bagi Nai dan Dinda sendiri. Tapi tanah itu akan tetap Reyhan jual untuk berangkat haji. Hanya itu yang bisa Reyhan persembahkan untuk Nai.”

Intonasi suara Mas Reyhan melemah pada kalimat terakhir. Terdengar tulus beriring perasaan bersalah. Aku menjadi semakin merasa berdosa sempat berniat pergi umroh tanpa izinnya. Sementara ibu masih tampak tak puas dengan penjelasan yang menurutnya mengada-ada.

“Reyhan. Kamu sadar bahwa Nai bukan satu-satunya istrimu? Kalau kamu punya rencana berangkat haji dengan Nai, kamu pikir itu tak akan menimbulkan rasa iri istri keduamu? Atau kamu berencana memberangkatkan mereka berdua bersamaan? Kalau itu yang ada di pikiranmu, ibu orang pertama yang menolak. Jangan coba-coba kamu sandingkan Nai dengan perempuan itu.”

Aku tertegun. Tak menyangka ibu mengeluarkan kalimat itu. Aku hendak menyudahi semua perdebatan itu. Hatiku terkoyak menyaksikan ibu mengungkap semua kesalahan Mas Reyhan di hadapan keluargaku. Semua sudah terkubur bertahun-tahun. Mengapa hari ini harus diceritakan lagi? Luka-luka itu kembali menganga. Air mata menghalangi niatku melontarkan kalimat apa pun. Aku pasrah bila perdebatan itu terus berlanjut.

“Reyhan hanya akan membawa Nai, Bu. Reyhan mengaku salah telah menikah lagi. Reyhan minta maaf sudah menyakiti anak ibu. Semuanya terjadi begitu saja. Reyhan hanya mencoba bertanggung jawab atas kekhilafan yang Reyhan lakukan. Tapi sungguh, sampai hari ini Nai tetap istri yang Reyhan nikahi karena cinta. Nai, istri yang Reyhan nikahi sah secara hukum. Nai, Reyhan nikahi karena memang Nai yang Reyhan pilih.”

Mata itu mulai terlihat berkaca-kaca. Aku tidak pernah mendengar kalimat itu sebelumnya. Tapi, entah, aku meyakini kalimat itu diucapkan tulus tanpa mengada-ada. Sepanjang aku hidup bersamanya, hanya dua kali aku melihat matanya basah oleh air mata. Pertama, saat ibunya meninggal. Kedua, saat kakak satu-satunya ikut berpulang. Kini, lewat mata itu aku tahu persis semua cerita menyakitkan itu juga melukai hatinya. Ya, selama ini aku mengabaikan satu hal. Aku tak pernah memberinya kesempatan untuk menjelaskan. Begitu kabar pernikahannya sampai ke telingaku, aku memutuskan untuk tidak mendengar penjelasan apapun. Bagiku, satu-satunya alasan adalah ketidaksetiaan. Titik. Tanpa toleransi.

 “Tidak ada yang bisa Reyhan lakukan lagi. Tidak mungkin Reyhan menceraikan salah satu, sementara dari keduanya, ada anak-anak yang memanggil Reyhan dengan sebutan Ayah. Biarlah, bila Reyhan harus mendapat tatapan benci dari Nai dan orang-orang yang menyayangi Nai. Reyhan anggap itu sebagai hukuman. Itu lebih baik daripada Reyhan menjadi seorang laki-laki yang menelantarkan anaknya sendiri. Kali ini, Reyhan mohon maafkan Reyhan tidak bisa merestui Nai umroh dengan undian yang ibu berikan. Reyhan ingin ke tanah suci itu bersama Nai. Memang tidak sekarang. Tapi Reyhan janji, Bu. Kami pasti berangkat haji.”

Air mata itu akhirnya tak bisa lagi ia bendung. Mas Reyhan sudah tak bisa menyembunyikan tangisnya. Sementara aku? mukaku sudah basah sedari tadi. Aku sudah sesenggukan dalam pelukan Vina, adik perempuanku. Aku penasaran  reaksi ibu setelah itu. Aku tak akan menghentikannya jika memang ibu tetap menyalahkan mas Reyhan untuk membelaku. Aku paham rasa sakit seorang ibu melihat anak perempuannya terluka bertahun-tahun karena diduakan.

“Tidak bisakah memberinya izin sementara menunggumu mempersiapkan keberangkatan haji?”

Tak kusangka. Intonasi suara ibu menurun. Lebih terdengar lembut dan mengalah.

“Tidak, Bu. Reyhan tak mungkin membiarkan Nai melakukan perjalanan jauh sendirian. Reyhan khawatir terjadi sesuatu di jalan. Sementara Reyhan tak mungkin menemani karena belum ada biaya.”

Mas Reyhan? Dia masih mengkhawatirkan aku?

“Baiklah. Nduk, kamu sudah dengar alasan suamimu? sekarang, terserah padamu. tetap akan berangkat atau mengikuti apa kata Reyhan. Tapi Mamak mengingatkan, bahwa sebaik-baiknya istri adalah yang patuh pada suaminya. Jangan pergi tanpa restu dari suami, Nai.”

Aku masih sesenggukan. Belum bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Maaf bila Mas egois, Nai. Mas hanya ingin mempersembahkan yang terbaik untukmu. walaupun Mas tahu, sekalipun Mas membawamu keliling dunia, itu tidak akan pernah mengobati apa yang sudah Mas torehkan di hatimu. Izinkan Mas paling tidak sekali seumur hidup melakukan sesuatu yang berarti untukmu, Nai. Namun, bila kamu tetap ingin pergi, silakan. Tapi pegang baik-baik kalimat Mas tadi. Mas tidak memberi restu.”

Mas Reyhan menegaskan keputusannya sebelum aku menjawab. dengan tetap sesenggukan, aku melepaskan diri dari pelukan Vina, meraih kedua tangan Mas Reyhan dan mencium punggung telapak tangannya. Kemudian menghambur memeluk tubuhnya.

“Aku akan pergi ke tanah suci hanya denganmu, Mas.”

Aku lirih mengucapkan kalimat itu. Masih terus lanjut menangis dalam pelukannya. Tangis kami berpadu. Di sekeliling kami - ibu, anak, menantu, adik, serta iparku - sudah sibuk menyeka air matanya masing-masing.

Perdebatan diakhiri dengan air mata kelegaan. Pagi itu, setelah sekian lama, akhirnya aku paham cinta Mas Reyhan masih ada untukku. Mungkin aku yang selama ini terlalu dingin menyikapinya. Aku harusnya mengerti bahwa tindakannya mempertahankan kedua istrinya adalah bentuk tanggung jawab seorang laki-laki, seorang ayah. Pemahaman itu tertutupi perasaan sakit hati, kebencian, dan dendam. Padahal dengan penerimaan atau tidak, takdirku tak akan berubah.

Pagi ini kuputuskan, tak akan lagi bersikap dingin dengannya. Dia suamiku. Aku akan berdamai dengan takdir. Bukan karena aku terima telah diduakan. Tidak ada wanita yang mau cintanya dibagi. Tapi aku berhak atas kelegaan dan merasa masih dicintai oleh suamiku sendiri. Kebencian itu hanya akan membuatku mengabaikan cinta yang sesungguhnya selalu ada dalam hati Mas Reyhan.

Allah, terima kasih sudah menunjukkan cinta yang selalu ada dalam hatinya. Senantiasa bimbing hatiku untuk ikhlas menerima TakdirMu. Izinkan aku senantiasa berbahagia dengan keihklasan, juga cinta itu.

*****

                                                                                                                                                           

1 Aku sudah pernah ke Mekkah, Nak. Sekarang giliranmu

2 Terima kasih

3 Iya, Nak. mumpung gratis. kapan lagi bisa berangkat umroh gratis

4 Dulu

5 Bagaimana

  • view 163