Takdir Saja, Bagaimana?

intan puspita sari
Karya intan puspita sari Kategori Lainnya
dipublikasikan 27 Mei 2016
Takdir Saja, Bagaimana?

Baiklah...
Cerita kita sudah selesai pada kalimat saling melepaskan.
Apapun lelucon tentang pernikahan, akan kulupakan.
Kalaupun sempat berharap sesegera itu.
Kalaupun sempat kalah memperturutkan perasaan itu.
Kalaupun pernah kalut sama rindu semendesak itu.
Nyatanya tidak pernah ada kata 'sekarang' untuk mewujudkannya, kan?
Aku tidak ingin kita terjebak dengan kata nanti.
Yang pada akhirnya hanya tentang momen menunggu tanpa kepastian.
Hanya sebuah kesia-siaan, membenamkan diri dalam dosa.
Bukan tentang sok suci atau kadar keimanan yang terlampau tinggi.
Tapi sungguh karena aku merasa imanku tak sekuat itu untuk terus berpegang pada kebenaran yg kuyakini, jika terus berdiam diri pada kesalahan yang terselubung seperti ini.
 
 
Maka karena itulah, Mas.
Kuputuskan untuk menyudahinya.
Tidak peduli kau jauh di negeri seribu menara dan aku di negeri seribu pulau.
Syaitan selalu punya cara untuk menemukan kawan.
Paling tidak, ia melemahkan apa yang kita sebut hati. 
Membuatnya didominasi oleh selainNya.
Astaghfirullah. Apakah kita akan merusak sesuatu yang kita sebut cinta?
 
Ah, Entah kau tidak ada atau memang senyata itu. 
Aku cuma tau, kita salah. Maka sudah!
Nanti kalau jodoh, Tuhan punya cara untuk takdir yang sudah dituliskanNya.
Kalaupun tidak, minimal kita tidak membangun perasaan itu terlalu jauh. 
Sehingga jika nanti Tuhan tak memberi restu, kita tidak perlu jatuh sesakit itu hanya karena harapan yang kita pupuk setiap harinya tak berbuah sesuai maunya kita.
Kita ikut skenario Dia saja, ya?
Pasti lebih membahagiakan, kok.
Percaya kan?
Mari fokus pada kedua kaki dimana kita berpijak sekarang.
Pada mimpi kita.
Tanggung jawab kita.
Entah itu tahun depan, yang terdengar lebih mungkin, atau tahun-tahun selanjutnya.
Datanglah jika memang semua keinginan itu masih sama dengan hari kemarin.
Juga dengan kita yang jauh lebih siap.
 
*Midnight di Indonesia.
Magrib di Kairo.*