Aku Suka Langit, Pik

intan puspita sari
Karya intan puspita sari Kategori Lainnya
dipublikasikan 26 Mei 2016
Aku Suka Langit, Pik

Tahukah, pik? Kenapa aku senang sekali berada di puncak ini? Karena aku memotong jarakku terhadap langit. Aku tinggi, aku merasa lebih dekat dengannya dari sini.

Aku menyukai langit, pik.
Ia pandai sekali bercerita. Aku suka cerita.
Tahukah, pik? Langit pernah bercerita padaku lewat senja. Darinya aku tahu, hal-hal indah tak selalu berujung pada keindahan sejati. Lihatlah senja. Langitnya cantik. Warnanya jingga. Apalagi dari sini. Amat memesona. Tapi, pik, Coba pikirkan dari mana jingga itu berasal? Sadarkah bahwa itu salam perpisahan? Iya, pik. Dalam hitungan menit, matahari akan undur diri. Sementara matahari pernah bertutur padaku tentang ambisinya. Aku menyukai mimpi-mimpinya. Teriknya adalah semangat. Tapi ia lekas sadar, Ada yang tak suka teriknya. Mungkin itu sebab ia pamit. Aku terlanjur menyukai matahari sebagai bagian dari langit, pik. Tapi ia pamit di senja itu. Lantas, harus bagaimana aku dengan pemandangan cantik nan menyesakkan seperti itu?

Aku menyukai langit, pik.
Lain waktu dia pernah berkisah tentang harapan baru. Pada langit fajar. Bahwa kegelapan akan berakhir. Matahariku akan terbit lagi. Pendar cahaya dari Langit timur itu pertanda matahari akan muncul. Aku senang, pik. Waktu bergulir, matahari semakin menampakkan diri. Embun di dedaunan pertanda dinginnya tadi malam, ia angkat dengan sinarnya yang sungguh menghangatkan. Pik, langit membuka kisah matahariku lagi. Pada hari baru, dan mungkin cerita baru.

Aku suka langit, pik. Dia pernah pula bising sekali bercerita melalui hujan. Bukan main bahagianya menyambut tetesan dari langit seramai itu. hujanlah yang membuatku lupa soal matahari. Aku tak menduga kedatangannya teramat menyejukkan. Aku merasa hujan itu milikku. Ia memburu, menyampaikan teduhnya pada tetes yang luruh menyentuh ragaku. Tapi tahukah kau, pik?sesungguhnya saat itu langit sedang menunjukkan padaku. Yang menentramkan, yang terasa sangat menggebu-gebu, itu bukan pertanda ia milikku satu-satunya dan selamanya. Aku malu pada langit, pik. Hujan tak hanya membasahiku. Ia milik seluruh mahluk di bumi. Dan pada sekian detik berikutnya, hujan itu berhenti.

Aku suka langit, pik. Lain waktu akan kubagi kisah lainnya padamu.

  • view 191