Hanya Dua Puluh Ribu, Ayah!

intan puspita sari
Karya intan puspita sari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Mei 2016
Hanya Dua Puluh Ribu, Ayah!

Pandanganku kosong menatap jendela kereta, seolah tengah asyik memandangi setiap detail lukisan alam di luar sana. Lima jam sudah kereta ini membawaku pergi dari kampung halaman. Baru sekitar satu jam lalu aku mampu menyaksikan dengan jelas apa yang ada di luar sana. Perjalanan panjang yang ku mulai sejak pukul 1 dini hari tadi menjadikan pemandangan di luar sama sekali tak tertangkap oleh mataku. Hanya sesekali lampu-lampu putih beberapa stasiun-saat kereta ini berhenti-yang memberiku penjelasan tengah berada di mana. Di sampingku ada sosok lelaki paruh baya-yang amat aku kenal namun baru kali ini aku kembali merasakan keberadaannya-tengah asyik berbincang dengan orang di sebelahnya.

Perjalanan jauh berdua dengan ayah. Sejak awal aku sudah paham perjalanan ini tak akan ada bedanya dengan perjalanan sendirian. Sejak ibu menyiapkan perbekalan di rumah tadi, aku sudah membayangkan betapa kaku perjalanan ini. Ingin sekali, menganggap semua kisah buruk itu tak pernah ada. Sehingga tak perlu ragu bermanja-ria dengan ayahanda sendiri. Bahkan sekedar menciptakan dialog-dialog sederhana pun harus membuatku berperang dulu dengan amarah yang sudah bersemayam dalam lubuk hatiku bertahun-tahun sebelum hari  ini terjadi.

Memori tentang keceriaan masa kecilku, tentang tawa yang masih begitu tulus kupersembahkan untuknya, tentang kebanggaan menjadi salah satu putri kecilnya, tentang segala kasih sayang yang dulu kufikir milik keluarga kami seutuhnya. Segala lembaran memori kisah manis yang masih tersisa berusaha kukumpulkan demi menyingkirkan segala amarah di hati ini. Agar suasana kaku ini segera mencair. Namun tetap saja, cuplikan kisah pahit itu terus saja mendominasi otakku. Bayang-bayang tangisan ibu, keluhan-keluhan ibu, pertengkaran ayah dan kak haris, pertanyaan-pertanyaan teman-teman tentang keberadaan ayahku, semua bergantian muncul manakala aku berusaha mengingat masa-masa kecilku yang begitu manis bersamanya.. Aku bahkan kewalahan mengingatkan diriku bahwa ia ayahku!. Ini yang ku sebut perang batin. Pro dan kontra hanya tertuju untuk mempertanyakan statusnya dalam hidupku.

Astaghfirullah haladzim..

Segera kalimat itu terlontar dari bibirku.

“kamu kenapa mbak? Sakit?” ayah menoleh  dan bertanya pasca mendengarku beristighfar.

“tidak apa-apa yah.” Aku menjawabnya dengan sangat datar.

“mungkin sejam lagi kita nyampe mbak. Coba sms kak haris, Nanti gak usah dijemput. Tunggu aja di lampu merah unila.”

“iya, yah.”

Selalu begitu. Ucapannya tak pernah kujawab dengan panjang lebar. walau sepatah dua patah kata, bagiku itu sudah lebih baik daripada tidak sama sekali. Untuk selanjutnya, Aku kembali membeku dalam sunyi. Sementara jemariku mulai bermain diatas tombol-tombol handphone, melaksanakan perintahnya untuk mengirim pesan singkat pada kak haris.

****

Sunyi selalu mampu membawaku jauh tenggelam dalam fikiranku sendiri. Mungkin bila dianalogikan dengan jarak, sudah ribuan kilometer yang kutempuh bersama sunyi. Bagaimana tidak, bahkan sunyi mampu membawaku pada peristiwa bertahun-tahun silam hingga pada berbagai fikiran baik dan buruk yang kuciptakan sendiri. Namun semalam, sepotong dialog ayah dengan seorang bapak tua seusianya akhirnya mampu menyeretku dari sunyi.

“neng ini anak bapak?” bapak tua itu bertanya pada ayah tentangku. Mungkin ia heran, sejak tadi ayahnya bercengkrama dengan penumpang lain diriku malah asyik memandang keluar jendela tanpa bicara. Padahal tak ada yang bisa dilihat diluar sana selain gelap.

“iya, dia mau daftar kuliah di unila. Selama ini dia belum pernah ke Bandar lampung, makanya saya antar.”ayahku menjelaskan dengan senyum lebar. Aku menangkap ada perasaan bangga dalam dirinya saat bercerita pada orang lain bahwa ia tengah mengantar anaknya menuju masa depan. aku hanya bisa tersenyum sinis dalam hati. Mempertanyakan apa yang pantas ia banggakan? Aku masih ingat jelas bagaimana ibu kebingungan memperoleh uang 600.000 untuk biaya transport dan konsumsi di sana nanti. Sementara ayah hanya bisa bertanya apakah ada uang untuk mengantarku ke Bandar lampung. Batinku teriris menyaksikan peristiwa itu. Ingin sekali saat itu juga kubantah ucapan ayah. Bilang padanya bahwa aku tak perlu diantar olehnya. Ingin sekali mengatakan padanya bahwa ia tak pantas bangga hanya karna-saat ini-ia bersamaku dalam perjalanan ini. Tapi, karakter plegmatis dalam diriku lebih kuat memintaku menelan pahitnya kembali. Aku paham jika aku mengatakannya maka akan memicu konflik diantara kami. Aku benci konflik . Meski dengan begitu, aku harus mengalami konflik dalam batinku sendiri.

Aku hanya tersenyum pada bapak tua yang menanyakan tentangku tadi. Kemudian kembali memandang kosong ke arah jendela.

“jurusan apa dek?” kali ini bapak itu bertanya langsung padaku. Sepertinya, beliau masih penasaran kenapa aku begitu dingin.

“pendidikan kimia om” jawabku singkat.

Bapak itu nampaknya merasa aku tak begitu suka ditanya-tanya, beliau pun hanya mengangguk setelah mendengar jawaban dariku tanpa melontarkan pertanyaan lain. Kemudian kembali asyik berbincang-bincang dengan ayah. Meski pandanganku tak menghadap mereka, telingaku tak sekalipun kubiarkan lalai mengikuti kisah mereka. Tak kupungkiri aku tertarik mendengarkan kisah-kisah hidup yang mereka ceritakan. Sampai pada satu kalimat yang diucapkan bapak tua yang menengurku tadi, aku tersontak dan refleks memutar kepalaku pada mereka.

“bapak ini supir? wah, kalo kata orang, profesi supir itu dekat dengan poligami. Supir itu biasanya istrinya banyak disana-sini. Apalagi supir antar kota. Mereka sering gak pulang, akhirnya nemuin tempat bermalam yang baru di kota yang mereka datangi. Istri baru maksudnya… haha” bapak tua itu bicara tanpa beban. Mungkin ia bermaksud bercanda dengan ayah. Ia tak tahu bahwa perkataannya adalah benar. Namun, setelah melihat ekspresi wajahku dan ayah.. Ia seperti mengerti, lalu sesegera mungkin membatalkan kalimatnya.

“yaa, tapi itu kata orang-orang. Itu tergantung orangnya juga. Kalo bapak ini kayaknya enggak deh.hehe.. ya nggak dek?”

Aku tersenyum tipis merespon pertanyaan bapak itu. Kemudian sekilas menoleh pada ayah. Terlihat jelas sekali ia merasa tersudut dengan situasi ini. Seperti ada bisikan halus mencoba memompa kebencian dalam hatiku. amarahku tersulut. Aku menertawakan posisi ayah saat itu. Bagaimana bisa dialog yang ia ciptakan justru menyudutkan dirinya sendiri. Untuk selanjutnya aku tak tertarik lagi mendengar cerita ayah dengan bapak tua itu. Fikiranku kembali tenggelam pada cuplikan pahit kehidupan keluargaku.

****

Begitu kereta ini berhenti di stasiun Tanjung karang, ayah langsung mengarahkanku untuk mengikutinya mencari angkot menuju unila. Di angkot-sama seperti saat di kereta-ayah berlagak seperti seorang tour guide sibuk menjelaskan  tempat-tempat yang kami lewati. Dan seperti biasa pula aku hanya merespon dengan anggukan dan senyum yang sedikit dipaksakan.

Saat angkot biru ini berhenti di lampu merah unila. Pandanganku menangkap sosok kak haris.

“yah, itu kak haris.” Ujarku pada ayah.

Ayah mengangguk dan menyuruhku mengikutinya .Ya Rabb, aku hanya berharap selama kami bertiga tinggal bersama semoga tak lagi terjadi pertengkaran seperti yang sudah-sudah ketika bapak dan anak ini berinteraksi.

****

Kak haris mengantarkan kami menuju kost nya. Aku hanya beristirahat sejenak kemudian mengajak kak haris mengantarku ke unila untuk verifikasi berkasku. Sementara ayah tetap menunggu dikamar kost ini. Ia Nampak lelah setelah melalui perjalan jauh. Sejujurnya, batinku benar-benar dilema. Meski sepanjang perjalanan tadi aku banyak mengutuki takdirku sebagai anaknya, aku lebih kasihan melihat raganya yang mulai renta harus mengantarku jauh-jauh kesini. Bagaimanapun, ikatan darah tak pernah bisa membuat seseorang membenci seutuhnya. Tentu masih ada kasih sayang dan cinta yang dialirkan Tuhan di dalam tiap aliran darah. Hanya terkadang, orang tersebut terlalu munafik untuk mengaku bahwa dirinya teramat cinta. Dan  mungkin itu yang terjadi padaku saat ini.

“kamu berangkat sama kak haris ya? Naik motor biar ngga capek. Biar ayah tunggu disini” ujar ayah sebelum kami berangkat.

“iya yah. Ayah istirahat aja. Pasti capek abis jalan jauh. Doain semoga lancar.”

Entah kenapa, tiba-tiba  aku  bisa mengucapkan kalimat semanis itu pada ayah. Aku sendiri bingung. Lalu pergi ke kampus unila bersama kakakku.

****

Usai magrib, aku dan ayah segera menuju ke stasiun. Kami akan pulang hari ini juga. Aku merasa hari ini begitu cepat berlalu. Baru tadi pagi aku menginjakkan kaki di Bandar lampung, malam ini sudah harus kembali ke kampung halaman. Aku masih merasa ini seperti mimpi.

Tiba di stasiun, ayah menuju loket. Aku mengikutinya dibelakang. Setelah berbicara dengan petugas tiket, entah kenapa ayah menarik kembali uang dan ktp yang ada di genggamannya. Tanpa memegang tiket kereta yang seharusnya ia beli. Kemudian membimbingku mengikutinya menuju keluar stasiun.

“kenapa yah?”tanyaku heran.

“masih punya uang ngga mbak? Uang dari ibu tadi ngga cukup. Tiket ke baturaja disamakan sama tiket kertapati. Jadi lebih mahal. Kurang dua puluh ribu lagi. Ayah ngga punya uang sama sekali.” Ayah menjawab getir.

“ngga ada yah. Trus gimana? Balik lagi ketempat kak haris?”

Ayah sedikit lama berfikir kemudian memintaku menelpon kak haris. Minta ia mengantarkan uang 20.000 yang dibutuhkan. Tanganku terampil menekan sejumlah tombol dan menunggu jawaban diujung telepon.

Setelah telepon ditutup, entah kenapa ayah justru mengajukan ide lain.

“gimana kalo mbak yang pulang duluan? Ayah besok nyusul naik bis aja.”

“kok gitu? Kan kak haris lagi kesini nganterin uangnya.”

“tapi keretanya udah mau jalan.”

“kita tunggu aja yah. Kalo ngga bisa malem ini,yaudah besok aja pulangnya.”

Situasi ini kembali mengantarkanku pada gemuruh benci yang bersemayam dihatiku. Benar-benar tak bisa diandalkan. Bagaimana mungkin ia hanya bergantung pada uang pemberian ibu. Benar-benar tak memikirkan jika terjadi sesuatu dalam perjalanan.  Aku terus mempertanyakan dimana peran dia dalam keluarga ini. Bahkan perihal uang 20.000 pun tak ia siapkan untuk anaknya. Ya Rabb, sebegitu tak perdulikah pria yang disebut kepala keluarga ini?

Lamunanku terhenti begitu melihat kak haris datang. Ia menyerahkan uang 50.000 kepadaku.

“begitu sampe rumah, kirimin lagi uang 50.000 ini. Ini uang terakhir yang kakak punya.boro-boro mau ngasih uang anaknya ayah ini, buat ongkos aja ngga cukup. makanya kemaren mending berangkat sendiri dek. Ngga usah pake dianter ayah.”

Kak haris bicara dengan sedikit berbisik. Batinku teriris kembali mendengar kalimat kak haris. Sudah ada air mata yang menggenang dipelupuk mataku yang siap tumpah ruah.

Aku menyerahkan uang 50.000 itu pada ayah. Kemudian ayah bergegas kembali ke loket. Kali ini aku tak mengikutinya. Tetap berdiri di luar mengusap air mata yang tak terbendung lagi.  

Setelah tiket dalam genggaman, kami segera memasuki gerbong kereta. Suasana pulang kali ini lebih dingin dari keberangkatan tadi. Aku sibuk mengontrol batinku agar tak ada air mata menyusul jatuh. Sembari berusaha membendung perasaan benci itu agar tak membumbung tinggi. Sementara ayah, entahlah, aku tak lagi memperhatikannya. Entah ia merasa berdosa atau merasa tak pernah terjadi apapun. Aku sudah tak peduli..

****

Lebih dari setahun setelah hari itu terjadi, aku sudah berstatus mahasiswi semester tiga. Hari ini tengah libur tenang sebelum ujian akhir. Aku memutuskan pulang kampung. Beberapa hari dirumah,  mbak via-yang sejak kuliah dan bersuami tak lagi tinggal dirumah ini-ternyata juga pulang kerumah. Layaknya orang yang tak pernah bertemu, kami sibuk menceritakan pengalaman masing-masing. Entah kenapa, pada suatu pembicaraan mbak via mengungkit kembali peristiwa kekurangan ongkos diawal kuliahku dulu.

“baru ketika kamu kuliah ayah turun tangan ngurusin anaknya nggun. Waktu mbak kuliah mana ada dia peduli. Berangkat tes sendiri, ngurus berkas sendiri. Untung waktu mau ngekost dia ikut nganter.” Mbak via bercerita seperti iri denganku yang diantar ayah saat pendaftaran.

“turun tangan apanya? Ayah Cuma nemenin. Uang segala macem juga dari ibu. Itu aja sempet nyaris ga bisa pulang gara-gara kurang 20.000.” aku membantah jengkel.

“haha, iya ya. Ibu pernah cerita kamu sama ayah bingung di stasiun gara-gara ongkosnya kurang. Kamu tahu nggak? Begitu sampe di rumah ayah nangis di hadapan ibu. Miris ngeliat anaknya mau kuliah dia ngga bisa bantu apa-apa.” Papar mbak via.

“apa iya?”

“hmm, dia nangis setelah peristiwa itu. Ayah itu sudah tua, sakit-sakitan. Udah nggak bisa kerja keras kayak dulu. Dia sekarang Cuma bisa pasrahh, nyesel sama kesalahannya di masa lalu. Kita nggak boleh benci terus-terusan sama dia. Bahkan ibu bisa bertahan sejauh ini untuk tetap jadi pendampingnya walau sudah diduakan. Yang penting ayah udah sadar kalo dia salah. Dan udah nggak mungkin buat dia ngelepasin salah satu istrinya. Tindakan itu justru lebih nggak bertanggung jawab. nggun, ayah sayang sama kita. Tapi ia masih diliputi rasa malu dan bersalah untuk menunjukkan sayangnya ke kita.“

Aku tertegun. Aku tahu ayah masih peduli. Ia hanya pasrah atas kesalahan yang telah ia lakukan dan sudah tak bisa berbuat apapun untuk membantu banyak perekonomian keluarga ini. Mobil angkot miliknya yang sudah sangat tua serta badannya yang semakin ringkih karena penyakitnya-dan karena ia menua-sudah tak mungkin baginya bekerja maksimal mencari nafkah. Aku tahu, semasa di kereta ada banyak yang ingin ia sampaikan padaku. Mungkin pengakuan atas kesalahannya, permintaan maaf, atau kegembiraannya atas kelulusanku di universitas negeri. Tapi aku terlalu dingin menatapnya, aku terlalu menampakkan kebencian padanya. Sehingga tak ada yang ia ungkapkan padaku. Ayah, takdir memang membuatku tak bisa menyayangimu. Tapi takdir juga yang membuatku tak bisa membencimu seutuhnya.

****

  • view 98