MANEKEN: OBSESI DAN SISI KEMANUSIAAN YANG MATI

intan puspita sari
Karya intan puspita sari Kategori Buku
dipublikasikan 26 Mei 2016
MANEKEN: OBSESI DAN SISI KEMANUSIAAN YANG MATI

Judul Novel : Maneken

Penulis        : Sengaji Munkian

Penerbit      : Mahaka Publishing (Imprint Republika Penerbit)

Cetakan I    : September 2015

Tebal buku  : x+181 halaman

 

“Apa yang dapat kita harapkan dari kehidupan dan diri kita? Apakah itu kesempurnaan? Jika memang begitu, buru-burulah kau merenung, barangkali itu menjadi obsesi butamu. Ketahuilah, bahwa hal tersebut tidak akan secara sungguh tercapai. Tidak ada kesempurnaan absolut yang dihasilkan homo sapiens – sekalipun homo sapiens modern, yakni kita! – kesempurnaan yang ada hanyalah puing-puing usaha paripurna yang patut dibanggakan sekadarnya, tak boleh lebih.”- hal 179

Kalimat pembuka dalam resensi ini kukutip dari bab epilog yang tak lain adalah bagianclosing dari novel ini. Aku menyebut kutipan itu sebagai pesan inti yang dimaksudkan penulis akan sampai kepada pembacanya. Sekaligus merupakan inspirasi untuk memberi judul pada resensi ini.

Menutup halaman terakhir adalah pencapaian terpenting bagi seorang pembaca. Namun akan menjadi pencapaian mengagumkan bagi seorang penulis, ketika mengetahui pembacanya tersenyum usai menuntaskan kalimat terakhir tulisannya, sembari mengendapkan kesan pesan ke dalam hatinya yang diperoleh dari hasil membaca novel dalam genggamannya. Kurasa memang sejatinya itulah tujuan si penulis: menyebarkan pemahaman baik. Kalau diperkenankan untuk berlebihan dalam berekspresi, kurasa kalimat ini yang akan kulontarkan sebagai caraku mengekspresikan kepuasan pada sebuah karya yang lahir dari buah pemikiran seorang Sengaji Munkian:

“Sebagai penulis, anda telah berada dalam pencapaian mengagumkan itu, Kak!” (Menilik biodatanya di novel ini, rasanya sah-sah saja bila kugunakan kata ‘Kak’ sebagai kata ganti untuk menyebut penulisnya yang berusia hanya sekitar tiga tahun di atasku :D )

Ketahuilah, Wahai pecinta novel, barangkali kalian sama sepertiku, bosan dengan cara bercerita novel-novel yang terlalu mainstream atau berdiksi sangat flat, maka dengan berani kurekomendasikan novel ini sebagai suplemen menumpas kebosanan itu. Atau kepadamu, para pembaca pemula, mungkin kau bingung novel apa yang akan membuatmu tertarik pada aktivitas membaca, yang mungkin nampak membosankan bagi sebagian orang. Maka kusarankan padamu, lekas mencoba novel ini. Barangkali kau akan dibuat jatuh cinta pada dunia kata-kata.

****

Sebelum kuceritakan bagian-bagian mengagumkan juga bagian lain yang kusebut sebagai kekurangan dari novel ini, sebaiknya kalian mengetahui lebih dulu garis besar ceritanya.

Namanya Sophie Claudia Fleur. Dialah tokoh sentral berwujud manusia dalam cerita yang ditulis Sengaji Munkian. Sophie diceritakan sebagai wanita perfectionist nan ambisius penggagas reformasi Medilon Shakespeare, sebuah toko busana yang ia ambil alih penanganannya dari tangan saudara tirinya, Vince – yang menurutnya sangat tidak berbakat dalam bisnis. Karakter ambisius Sophie digambarkan dengan sangat kuat oleh penulis. Sifat bossynya sangat menonjol ketika berkomunikasi dengan para karyawan maupun rekan bisnisnya, bahkan kepada Vince selaku saudaranya. Namun tak dapat dipungkiri, di tangan seorang perfectionist, Toko Medilon Shakespear berkembang pesat. Menjadi toko busana terkenal. Sebuah pencapaian yang selaras dengan ambisi dan kerja keras Sophie.

Obsesi Sophie pada kesempurnaan selalu ia terapkan dalam segala hal di hidupnya. Tak terkecuali urusan percintaan. Obsesi pada cinta yang ia punya, diwujudkan dengan mendatangi seorang pengrajin untuk minta dibuatkan sepasang maneken yang akan ia gunakan sebagai bagian dari dekorasi inti dalam Medilon Shakespear. Bahkan penamaan sepasang maneken ini, ia ambil dari namanya dan nama kekasihnya, Bailey Fereli. Inilah muasal munculnya tokoh maneken dalam cerita, Claudy dan Fereli, sebagai penguhuni etalase utama.

Ambisi yang mendasari penciptaan dua maneken ini selanjutnya menjadi alasan kenapa maneken Claudy dan Fereli sangat digandrungi pelanggan. Bagaimana tidak, di setiap pergantian tema toko, Sophie selalu menjadikan sepasang maneken ini sebagai bintang utama. Apapun yang ada di kepala Sophie sebagai ide untuk dekorasi tokonya, maka Claudy dan  Fereli harus siap untuk diperlakukan sesuai yang Sophie inginkan.

Tanpa disadari, obsesi Sophie menyebabkan tumbuhnya obsesi cinta antara Claudy dan Fereli sekaligus menjadi hambatan cinta sepasang maneken itu. Sophie yang mempersatukan Claudy dan Fereli dalam satu etalase, namun pada akhirnya Sophie juga yang memisahkan keduanya. Hmm, Mungkin kau penasaran bagaimana bisa sepasang benda mati bisa memiliki obsesi terhadap cinta? Kau pasti tidak tahu bahwa maneken memiliki lima kemampuan yang tidak diketahui oleh manusia. Atau kau juga penasaran apa saja yang pada akhirnya diperoleh Sophie atas ambisinya yang melambung itu? Maka sekali lagi kukatakan kepadamu, lekaslah memiliki buku ini dan menelusuri kisahnya secara lengkap. Maka akan kau temukan banyak sekali hikmah untuk dihubungkan dengan kehidupan yang sesungguhnya.

****

Everything about this novel is unique…

Di awal sudah kukatakan bahwa novel ini adalah suplemen pengusir kebosanan bagi pecinta novel yang nyaris berhenti membaca karena senantiasa mendapati novel dengan cara bercerita yang begitu-begitu saja. Dalam kalimat lain, dapat dikatakan bahwa novel ini berbeda. Novel ini unik. Maka perkenankan diriku untuk mengulas apa saja yang menjadi keunikan novel ini:

  1. Judul Novel dan Nama Penulis

Entahlah, apakah hanya kebetulan atau aku saja yang berlebihan. Ketika mengetahui adanya novel ini melalui media sosial, aku merasa ada yang menarik bahkan hanya dengan melihat covernya. Novel Maneken oleh Munkian? bukankah itu unik? Jika menurutmu tidak, maka lupakan! Ini  murni opiniku. :D

  1. Daftar Isi

Sebelum membaca isi novel secara menyeluruh, lazimnya, seorang pembaca tidak akan melewatkan bagian daftar isi. Selain karena letaknya di halaman permulaan, juga karena daftar isi menyajikan judul-judul bab dalam novel yang akan kita baca. Aku dibuat takjub dengan daftar isi novel maneken ini yang amat berbeda dari novel kebanyakan. Ya, judul-judul babnya diambil dari kata kerja pasif seperti: dinamai, diletakkan, diperlihatkan, dan sebagainya. Setelah kalian menamatkan novel ini, kalian akan dibuat menganggukkan kepala karena paham bahwa pilihan judul-judul bab itu sangat cocok dengan sudut pandang yang digunakan penulis. Sudut pandang benda mati yang pada hakikatnya tidak bisa menjadi pelaku kata kerja (subjek) melainkan menjadi yang dikenai kata kerja (objek).

Tidak hanya itu, Sengaji Munkian juga melakukan pengelompokkan beberapa bab dengan satu tema. Lagi-lagi, setelah kau menuntaskan novel ini, kau akan dibuat mengangguk paham bahwa pengelompokkan itu berdasarkan tema-tema yang dipilih Sophie sebagai tema Medilon Shakespear dalam jangka waktu tertentu.

  1. Sudut Pandang

Bicara sudut pandang, berarti kita sedang bicara mengenai cara penulis masuk dalam cerita. Dalam novel ini, penulis menggunakan sudut pandang tokoh utama pelaku utama atau sebagai ‘aku’. Boleh kutebak, usai membaca uraian singkat atau garis besar cerita yang kutulis di atas, mungkin kalian menebak tokoh ‘aku’ adalah Sophie. Jika demikian pendapat kalian, maka itu keliru. Sengaji Munkian masuk dalam cerita dengan mengambil sudut pandang Claudy dan Fereli. Sebagai benda mati. Itulah letak keunikannya. Mayoritas ‘aku’ diperankan oleh Claudy, sisanya adalah Fereli. Tapi tenang, kalian tidak akan dibuat bingung karena Sengaji Munkian dengan baik hati memberitahu setiap kali berganti sudut pandang. Kalian akan tahu siapa tokoh ‘aku’ pada bagian-bagian tertentu karena ada nama yang ia cantumkan diawal pergantian sudut pandang itu, Claudy atau Fereli.

Dengan sudut pandang itu, maka pendeskripsian setting waktu, tempat, dan suasana terbatas hanya pada hal-hal yang dapat dijangkau oleh Claudy dan Fereli. Namun, kelebihan sudut pandang ini adalah kita pembaca dibuat seolah-olah merasakan menjadi Claudy atau Fereli. Dengan begitu, makna dibalik kalimat-kalimat penulis dapat dengan mudah kita rasakan karena kita seperti berperan dalam cerita.

  1. Pilihan kata (Diksi)

“Padahal bersajak sepenggal pun susah, namun ternyata SJ Munkian dalam Maneken mampu meramu ratusan halaman puitik. Setiap kata dalam novel Maneken ini seakan dipilih dengan kesadaran penuh akan rimanya, maknanya, filosofinya, dan kritiknya. Sebuah novel yang riuh dalam kesenyapan” – Tasaro GK, penulis novel Nibiru dan Kesatria Atlantis.

Aku sepakat sekali dengan kalimat testimoni yang tertulis dicover belakang novel ini. Diksi yang dipilih Sengaji Munkian benar-benar mengagumkan. Tidak hanya indah, tapi juga penuh makna. Puitik dan filosofis. Kalau kalian adalah penyuka kata, dapat kupastikan kalian akan jatuh cinta dengan kalimat-kalimat dalam novel ini. Kalimatnya punya kekuatan, daya tarik, dan makna yang mendalam. Perlu contoh? Perhatikan saja kutipan pembuka dan penutup resensi ini. :)

  1. Genre Novel

Bagiku, pembaca berlatar-belakang lingkungan yang terbiasa berpikir logis (aku mahasiswa fisika loh), ada dua jenis novel yang kelogisannya sering kupertanyakan: novel fantasi dan horor. Novel horor, menjelaskan kemustahilan sesuatu sebagai efek dari keberadaan hal-hal mistis. Hal-hal mistis ini terbilang masih diyakini ‘ada’nya di masyarakat. Itulah mengapa, penulis tidak perlu khawatir tentang penerimaan novel horornya ketika sampai kepada pembaca. Karena meski tanpa penjelasan ilmiah, penulis masih bisa menyelaraskannya dengan apa yang diyakini ‘ada’ oleh pembaca. Berbeda dengan novel fantasi, sebagai wujud dari permainan imajinasinya, penulis butuh kalimat-kalimat canggih untuk membangun cara berpikir pembaca agar dapat menerima imajinasinya. Sejujurnya, aku tidak begitu suka dua jenis novel ini. Tapi khusus novel bergenre fantasi, ada pengecualian. Jika fantasinya disajikan dalam bentuk science fiction, dengan senang hati aku menyebut kemustahilan itu sebagai buah imajinasi yang mengagumkan. Karena science fiction menyertakan alasan ilmiah atas terjadinya sebuah kemustahilan yang muncul dari pemikiran penulis.

Sungguh berbeda dengan novel maneken ini. Entahlah, aku bingung menggolongkan novel ini lebih rinci. Novel ini menceritakan tentang maneken yang sebenarnya punya lima kemampuan yang tidak diketahui oleh manusia. Diantaranya adalah merasakan emosi, bergerak, bahkan memasuki alam mimpi manusia. Dalam dunia nyata, sudah dapat dipastikan bahwa maneken yang hidup adalah menyeramkan. Tapi dengan ramuan kata Sengaji Munkian, cerita itu tidak jadi menyeramkan. Maka tak bisa kugolongkan novel ini sebagai novel horor. Yasudah, kita sebut saja ini novel fantasi. namun jelas novel ini tidak termasuk science fiction. Tapi aku tetap menyukai novel ini.

Lalu? bukankah tadi kubilang aku tidak begitu menyukai novel fantasi kecuali science fiction? Tapi kenapa bisa menulis kelebihannya sepanjang ini? Yapp. itulah uniknya novel Maneken. Tidak ada penjelasan logis bagaimana maneken bisa hidup seperti manusia. Tapi terus terang, aku tetap menyukai novel ini. Sengaji Munkian pandai sekali membuatku enggan meninggalkan novelnya meski aku tahu ceritanya tidak logis. Sengaji Munkian punya kata-kata yang berenergi. Mengalihkan fokusku bukan pada kelogisan cerita, tapi pada makna tersirat yang terkandung di dalamnya. Daebakk!

  1. Ide Cerita

Baiklah, mungkin bagian ini tidak akan kalian ketahui tanpa aksi kepo besar-besaran seputar penyusunan novel ini. Pada halaman celoteh penulis dan prolog, kita akan tahu bahwa novel ini punya hubungan khusus dengan Letto, sebuah grup band musik yang sempat booming di awal kemunculannya di layar kaca. Dilatarbelakangi alasan tersebut, akhirnya kuputuskan untuk browsing lebih mendalam mengenai novel ini. Tidak sulit, karena sebelum event resensi ini, sempat diadakan blogtour dan salah satu kupasannya adalah wawancara penulis. Ternyata, ide penulisan novel Maneken salah satunya diperoleh Munkian dari video klip lagu berjudul Dalam Duka - Letto. Seorang Sengaji Munkian akhirnya membuktikan bahwa ide dapat muncul darimana saja. Dan menurutku, dengan penjelasan seorang Munkian tentang lagu Letto yang menginspirasi akan berdampak positif bagi eksistensi Letto itu sendiri. Mereka yang mungkin tak mengenal Letto sama sekali, boleh jadi terdorong rasa penasarannnya untuk mencari tahu tentang grup band itu. Lalu bagi mereka yang sudah pernah mengenal Letto, akan muncul kerinduan untuk mendengarkan lagi lirik beriring nada yang dinyanyikan vokalisnya, Noe. Maka peminat Letto akan selalu ada. Inilah nilai plus sebuah karya: berdampak positif bagi sekitarnya.

“Cerita yang kita punya, takkan ada jika tak percaya”

Sebaris lirik ini benar-benar mewakili cerita Claudy dan Fereli dalam novel Maneken. Silahkan klik disini untuk mengerti betapa video klip lagu 'Dalam Duka-Letto' benar-benar menginspirasi novel ini.

***

Baiklah, kusudahi sesi menyanjung novel ini. Ada yang lebih esensial dan dinantikan penulis ketika karyanya sampai pada pembaca: Kritik!

Pertama, aku ingin membahas mengenai penulisan nama Fereli yang dicetak tebal pada halaman 54. Jika kita sudah sampai jauh di halaman berikutnya, kita akan menemui dua nama maneken – Claudy dan Fereli – dicetak tebal sebagai tanda pergantian sudut pandang. Disinilah letak kejanggalan halaman 54. Bila memang, penulisan nama Fereli di halaman tersebut untuk menunjukkan bahwa sudut pandang yang sedang digunakan pada bagian itu adalah Fereli, dengan sangat berani aku katakan bahwa ini merupakan kesalahan ketik. Karena di bagian itu, sudut pandangnya masih Claudy, sekalipun mayoritas dialog diambil alih oleh Fereli yang sibuk bercerita tentang muasal diciptakannya mereka berdua.

“Benar, kenapa aku ini. Dalam ingatanku tentulah aku tahu bahwa dia penciptaku. Namun, yang mengejutkannya ternyata aku dan Fereli…” – hal 54

Kutipan itu cukup menjelaskan bahwa tokoh ‘aku’nya adalah Claudy, bukan Fereli. Lalu apa maksud nama Fereli yang bercetak tebal di halaman itu?

Kedua, kalimat rancu. Ada beberapa kalimat yang membuatku, sebagai pembaca, dibuat ‘mikir’ sedikit lama untuk kemudian paham dan memakluminya sebagai kalimat rancu.

“Kremasi. Apa-apaan itu. Istilah itu hanya untuk jasad yang telah mati, bukan untuk Claudy yang hidup. Bukankah aku sudah bilang bahwa api tidak digunakan untuk menghukum benda mati” – hal 166.

Dengan kalimat tersebut, aku bingung. Karena di situ Fereli mengakui Claudy sebagai benda hidup. Tapi kemudian Fereli mengatakan bahwa api tidak digunakan untuk menghukum benda mati. Tidakkah itu berarti bahwa Claudy bukan benda mati dan layak dibakar dengan api? Sementara pada situasi itu, bukankah Fereli tidak menginginkan api menyentuh tubuh Claudy sedikit pun?

“Ayo kita letakkan dua pasangan bahagia ini pada posisinya. Claudia yang menaiki ayunan dan Fereli yang mendorongnya dari belakang” – hal 40

Kata ‘dua pasangan’ dalam kalimat tersebut dapat menimbulkan pemaknaan bahwa maneken yang dimaksud Sophie terdiri dari dua pasang, yakni dua maneken laki-laki dan dua maneken perempuan. Sementara yang dibahas adalah Claudy dan Fereli. Hanya sepasang. Ditambah lagi, pada akhir bab tersebut, kalimatnya diulang lagi dengan ketiadaan kata ‘dua’ setelah kata pasangan. Kesannya, dalam satu halaman menampilkan dua kalimat dengan maksud yang sama namun satu diantaranya adalah kalimat yang salah dan yang lainnya adalah kalimat yang benar.

“…Itulah yang paling malang, dan itulah yang terjadi padaku. Spesies benda mati semacam diriku” – hal 99

“Claudy bukan benda, dia sepertiku, dia kekasihku, dan dia pasanganku” – hal 165

Dua kutipan kalimat itu adalah tentang ketidakkonsistenan tokoh Fereli. Ini bukan tentang wujud Fereli yang tidak konsisten sebagai maneken, melainkan tentang ketidakkonsistenannya menyebut dirinya dan Claudy, sebagai benda atau bukan benda.

Ketiga, Alur ceritanya terlalu cepat dan sedikit ‘maksa’ menurutku. Aku maklum karena memang novel ini relatif lebih sedikit jumlah halamannya dibanding novel lain yang bisa mencapai lebih dari 400 halaman, yang dengannya penulis dapat lebih leluasa mendeskripsikan apapun dalam setiap tahap alurnya. Ditambah lagi, keterbatasan sudut pandang yang diletakkan pada benda mati sehingga hanya situasi yang berada di sekitar manekenlah yang dapat diceritakan. Contoh ‘keterpaksaan’ yang kumaksud antara lain adalah kemunculan Bailey Fereli pada malam Gleam atau Fereli yang bisa membongkar catatan harian virtual Sophie persis ketika kesempatan terakhir memasukkan password yang jumlah karakternya serupa paragraf.

Keempat, Siapa Charlotte? Pertanyaan ini muncul sejak aku membaca halaman 92. Nama Charlotte muncul dalam permintaan putus hubungan dari Bailey Fereli pada Sophie.

“…Aku bertemu Charlotte. Dia adalah orang terakhir yang akan kau selamatkan dari  jurang atau mungkin kau orang pertama yang akan mendorongnya ke dasar jurang di detik pertama. Demi Tuhan, Sophie, dia masih hidup, masih sama seperti dulu, satu-satunya yang berubah darinya adalah dia tinggal bersama bibinya di desa. Berbeda sekali dengan versi yang kau ceritakan padaku…” – hal 92

Kemunculan kalimat ini benar-benar membuatku penasaran tentang siapa Charlotte yang membuat Bailey Fereli membatalkan pernikahannya dengan Sophie yang tinggal menghitung hari. Malangnya, aku benar-benar tak menemukan jawaban apapun hingga akhir cerita.

****

Perlu kutegaskan bahwa setiap tulisan selalu menuai presepsi pembaca. Tidak peduli banyak sedikitnya kelebihan dan kekurangan novel ini, aku hanya menuangkan apa yang menjadi presepsiku sebagai pembaca. Maka apabila muncul ketidaksepakatan pada resensiku, kalian tak perlu risau mempermasalahkannya. Bukankah isi kepala setiap manusia pada dasarnya berbeda-beda? Tapi sudah tentu, sepakat atau tidaknya kalian pada resensiku ini hanya bisa terjadi apabila kalian ikut membaca novel Maneken yang kumaksud. Bergegaslah mendapatkan buku ini, apapun caranya (yang penting halal).

Mari belajar makna obsesi, makna kesempurnaan, makna pengabaian, makna cinta, dan makna hidup lainnya melalui sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang benda mati. Mari sadari, persamaan dan perbedaan kita sebagai mahluk hidup dan mereka yang disebut benda mati. Mari renungkan, barangkali ada sisi kemanusiaan kita yang mati oleh obsesi yang terlampau tinggi. Mari belajar peka, terhadap kalimat-kalimat yang sampai tidak secara tersurat melainkan tersirat. Mari selami dunia fantasi berpikirnya seorang Sengaji Munkian dan bersiaplah jatuh cinta pada diksi yang ia pilih. Sebagai closingresensi mari simak sebuah paragraf yang kupilih, barangkali menambah minatmu pada novel ini.

“Jangan sekali-kali menyatakan diri sebagai entitas yang paling malang di muka bumi. Pernah dengar ungkapan ‘Engkau adalah bidadari suci dari kayangan dengan mahkota cahaya, sedangkan aku adalah gelandangan dari perkumuhan jorok dengan sandal buntung dan jeblok’. Ketahuilah, sekalipun kau berada di posisi manusia urakan yang hidup di perkumuhan nestapa, meskipun menjijikkan, keberadaanmu tetap berharga. Dipedulikan. Minimal orang menyeringai muak atau iba. Sandal buntung, butut,  terkelupas, dan nahas, yang memendamkan muka serta sekujur tubuhnya ke lumpur perkumuhan di musim penghujan. Bau tanah bercampur sampah, minyak, dan benda yang membusuk tak terkira. Itulah yang paling malang terjadi padaku. Spesies benda mati semacam diriku.” – hal 99

  • view 185