Kebohongan Kaktus

Husna Mulyati
Karya Husna Mulyati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Maret 2017
Kebohongan Kaktus

Di suatu negeri yang penuh keajaiban bernama Sukma Indah, hiduplah berbagai macam bunga. Di negeri ini semua anak para bunga masuk sekolah, seperti manusia. Bedanya, yang mereka pelajari di sekolah adalah berbagai macam ilmu sihir yang diperlukan para bunga untuk mewarnai kelopaknya, menyebarkan aroma wangi, mempertahankan diri dari serangan serangga, dan masih banyak lagi.

SD Mekar Indah adalah salah satu sekolah sihir para bunga. Di sana ada Mela si bunga Melati, Rosi si bunga Mawar, Ochi si bunga Anggrek, dan Kesia si bunga kaktus. Mereka berada dalam satu kelas. Mela adalah anak bunga Melati yang lembut, sederhana, dan suka menolong. Rosi adalah anak bunga Mawar yang anggun dan baik hati. Ochi adalah anak bunga Anggrek yang berani dan tegas. Sedangkan Kesia adalah anak bunga kaktus yang sangat cantik. Jaman dahulu kala bunga kaktus sangatlah indah, tidak berduri seperti sekarang. Batangnya kecil dan halus tak berduri. Daunnya memanjang seperti daun bunga tulip. Kelopaknya berwarna ungu dan putih, indah sekali. Sayangnya perilakunya tidak secantik wajahnya. Kesia sering kali berbuat curang dan berbohong.

Saat ujian Kesia sering menyontek jawaban temannya. Ochi si ketua kelas sampai kesal dibuatnya. Kesia juga pintar berbohong untuk menutupi perbuatannya itu. Suatu hari ada ujian praktek sihir. Semua siswa harus hafal mantra-mantra sihir dan menunjukkan kemampuan sihirnya di depan para guru. Giliran pertama adalah Mela si bunga Melati. Mela menunjukkan sihir Pesona Bunga. Mela mulai membaca mantra, tubuhnya memancarkan cahaya berwarna putih, dan seketika menyebarkan aroma wangi ke seluruh penjuru sekolah. Selanjutnya, giliran Rosi. Rosi menampilkan sihir Pertahanan Diri dari serangga. Saat Rosi membaca mantra, tiba-tiba dari tubuhnya memancarkan cahaya hijau, dan duri-duri tumbuh di sana. Rosi yang anggun kini nampak lebih kuat. Selanjutnya giliran Ochi. Ochi menampilkan sihir Pertahanan Diri dari kekeringan. Saat Ochi membacakan mantranya, tiba-tiba kelopaknya menjadi lebih tebal. Kini Ochi nampak lebih kuat, ia tidak mudah mati ketika kekurangan air.

Terakhir adalah giliran Kesia. Selama ini Kesia selalu menyontek saat ujian tulis, akibatnya ia tidak paham dengan pelajaran yang sudah diajarkan oleh bu guru. Banyak mantra yang tidak dihafal. Oleh karena itu, Kesia membacakan mantra yang dipakai oleh Ochi dengan sembarangan, sehingga tercampur dengan mantra yang dipakai oleh Rosi. Tiba-tiba tubuhnya memancarkan cahaya hijau yang sangat terang, hingga menyilaukan mata. Ketika cahaya itu hilang, nampaklah Kesia telah berubah wujud. Kesia yang cantik kini berubah menjadi batang tak berbunga, tebal, berwarna hijau, dan berduri. Mela, Rosi, dan Ochi pun terkejut melihatnya.

Bu guru Lavenda si bunga Lavender pun menghampiri Kesia. Ibu Lavenda berkata, “Kesia, kamu salah mantra, apa kamu tidak hafal mantranya?”. Kesia menjawab, “Saya sudah hafal bu, tapi tiba-tiba perut saya sakit, jadi lupa mantranya”. Kesia berbohong pada bu guru. Seketika itu juga tumbuh batang baru di tubuhnya. “Kamu bohong Kesia”, kata bu Lavenda. “Tidak bu, saya tadi pagi lupa sarapan, jadi sakit perut”, Kesia berbohong lagi. Tiba-tiba tumbuh batang baru lagi di tubuhnya. “Kesia, setiap kamu berbohong, maka akan tumbuh batang baru berduri di tubuhmu”, begitu kata Ibu Lavenda. Satu kebohongan akan menimbulkan kebohongan lainnya, dan kebohongan itu akan menimbulkan kebohongan yang lainnya lagi. Begitulah, kebohongan itu akan terus bercabang-cabang seperti pohon kaktus. Sejak saat itulah kaktus menjadi seperti sekarang.

  • view 108