Pesantren dan Toleransi

Husein Muhammad
Karya Husein Muhammad Kategori Agama
dipublikasikan 20 Januari 2016
Pesantren dan Toleransi

Para ulama penyebar Islam pertama yang dikenal Wali Songo dalam menanamkan doktrin Tauhid Islam terkenal sangat toleran terhadap praktik-praktik keagamaan lokal yang telah mentradisi dalam masyarakat jauh sebelum Islam datang. Toleransi mereka terhadap tradisi lokal membawa dampak positif di mana Islam menjadi mudah diterima oleh masyarakat. Berkat pendekatan melalui beragam budaya lokal tersebut bumi Indonesia berkembang menjadi negara dengan penduduk?muslim terbesar di dunia.

Satu hal yang saya kira menarik adalah kenyataan bagaimana hubungan Islam dan agama-agama lain bisa hidup bersama secara damai (co eksistensi damai), dapat dilihat dari rumah-rumah ibadah yang didirikan secara saling berhadapan atau berdekatan. Ini misalnya dapat dilihat antara lain di desa Arjawinangun, Cirbon. Masjid Jami? dan Pondok Pesantren yang didirikan oleh Kiyai Abdullah Syatori, santri hadratusyeikh K.H. Hasyim Asy'ari (w. 1963), kakek saya dan ayah K.H. A. Ibnu Ubaidillah, pengasuh utama pesanten Dar al Tauhid sekarang, dibangun sangat berdekatan/berdampingan dengan dua rumah ibadah non muslim ; Vihara dan Gereja. Bangunan antara Vihara dan Gereja sendiri berada dalam posisi berhadap-hadapan dan hanya dipisah oleh jalan raya. Hubungan antara masyarakat muslim yang nota bene mayoritas mutlak dengan para pemeluk agama non muslim di sana terjalin dengan baik, saling menghargai dan saling membantu sampai hari ini. Beberapa kali mereka menyelenggarakan kegiatan sosial bersama.

  • view 298