Permenungan 1; Zaman yang Gelisah

Husein Muhammad
Karya Husein Muhammad Kategori Inspiratif
dipublikasikan 20 Januari 2016
Permenungan 1; Zaman yang Gelisah


Aku acap merenung ketika malam larut dan sepi, kadang berkontempelasi dan membaca zaman yang berjalan dan yang pergi. Dalam permenungan itu aku membaca zaman yang gelisah, dunia galau, manusia-manusia yang ditelikung kecemasan, celoteh yang tak jelas dan kata-kata yang tumpang tindih, kemarahan, bising, gegap-gempita, simpang-siur, gemuruh berebut citra diri, dan pelampiasan segala hasrat untuk kenikmatan diri, perampasan hak milik orang lain, pemaksaan kehendak, menggali popularitas, pencitraan diri untuk kekuasaan dan pamer kekuatan. Begitu banyak Sengkuni di istana-istana. Ada orang-orang yang memandang semua orang seakan tak berharga, kecuali dirinya.?


Keseimbangan ruang sosial tampak sedang terganggu dan mencemaskan. Ini adalah realitas-realitas kehidupan yang terus bergerak begitu bebas bahkan liar dalam siklus-siklus kehidupan yang entah sampai kapan akan berakhir. Ia adalah produk zaman yang terserah orang ingin menamainya apa. Dunia manusia di hadapan kita sarat paradox, ambigu, ambivalen.?


Hari ini, paradoks kegelisahan manusia itu begitu nyata, menyeruak di setiap ruang. Pertarungan sedang berlangsung, nyaris bagai pada kisah Perang Baratayuda dalam legenda Mahabarata. Dan dalam kondisi itu Tuhan selalu menjadi senjata paling ampuh untuk mengalahkan yang lain, menjadi sumber kenikmatan dan tempat bersembunyi yang paling aman dan nyaman. Agama, di mana Tuhan selalu disebut di dalamnya, tampak bertambah amat penting dalam hidup orang banyak, memberi kekuatan, menerangi jalan dan menyediakan harapan-harapan keindahan. Nama Tuhan Maha Agung dan Kudus disebut ramai-ramai, dalam hening, dalam lirih dan dalam gempita. Hampir di setiap ruang nama Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Kuasa diulang-ulang beratus dan beribu kali ketika malam telah larut, dan dalam gemuruh yang meluluhkan hati dan mengembangkan air mata bahagia dan mengharubiru. Tetapi, betapa ironi, dalam waktu yang sama, di sudut lain, rumah-rumah tempat Tuhan dipuja dan diagungkan dirusak, para pemuja Tuhan diusir dengan pedang dan parang serta dipaksa mencabut keyakinannya, kadang hanya karena nama dan identitasnya yang tak sama. Perempuan-perempuan direndahkan, dibedakan, disingkirkan dan dihancurkan atas nama-Nya. Anak-anak dijajakan untuk segela kepentingan dan hasrat-hasrat paling rendah.?


Tuhan tak lagi menampakkan Wajah Lembut dan penuh Kasih, malahan menjadi begitu menakutkan, menyeramkan. Di jalan-jalan, hari ini, Kata-kata Tuhan diteriakkan dengan garang : "Ini kata Tuhan. Kata-kata-Nya tak boleh ditentang. Siapa menentang kafir dan zalim. Karena itu ia wajib dimampuskan". Semua orang ingin bicara atas nama Tuhan dan berebut mengaku paling mengerti Tuhan.?


Aku tertegun manakala membaca kata-kata seorang bijakbestari dalam sebuah buku: ?Sejak dahulu manusia memanfaatkan agama untuk membantu mereka mencari pemahaman bahwa hidup kita mempunyai arti dan nilai hakiki meski ada bukti-bukti yang kontras yang tidak membesarkan hati?. Sang bijak-bestari itu di tempat lain mengatakan kata yang memukau sekaligus mengentakkan: ?Mencari kebahagiaan dalam sesuatu yang fana dan tidak kekal hanyalah merupakan sesuatu yang tidak masuk akal?.?


Syams al-Din Muhammad al-Syahrzuri (w. 1288 M), pada pendahuluan bukunya ?Nuzhah al-Arwah wa Raudhah al-Afrah fi Tarikh al-Hukama wa al-Falasifah?, memberi saya pengetahuan ketika ia mengatakan :
?Zaman telah sunyi senyap dari kehadiran para tokoh besar kemanusiaan. Umat manusia diliputi ketidakmengertian, kegalauan dan kebimbangan. Bila engkau seorang pelajar yang rajin dan pemikir yang memperoleh petunjuk Tuhan, seyogyanya mengikuti jejak mereka dan mencari-cari dengan serius kabar mereka?.?


Thabarani, seorang ahli hadits terkenal, menginfomasikan kepada kita pesan Nabi :?
?Hadiah paling indah adalah kata-kata bijakbestari. Seyogyanya orang yang beriman mendengarkannya, mengembuskan ke dalam jiwanya, kemudian membagikannya kepada saudaranya?.


Masa depan adalah harapan-harapan manis. Gus Dur berharap esok akan lahir Parikesit-Parikesit, putra Arjuna. Semoga umat manusia, Keluarga Tuhan, berbahagia. Mengutip Gus Mus : ?Tahun 2016 (semoga) Selamat?.?

  • view 190