AYAH, TEGAKAH ENGKAU MEMBUATKU CEMBURU?

Huda Jamilah
Karya Huda Jamilah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Juni 2016
AYAH, TEGAKAH ENGKAU MEMBUATKU CEMBURU?

Poligami. Sebuah kata yang begitu sensitif di telinga perempuan sebagai seorang istri.

Poligami, bukan monogami. Artinya, suami sang istri akan memiliki istri lain. Oh, sungguh tidak enak di dengar bagi seorang perempuan. Adakah perempuan disini yang sejak di awal dan di akhir hidupnya selalu ikhlas, tanpa ada rasa cemburu sedikitpun meski hanya sejengkal kuku jari kelingking, bahwa suaminya berbagi cinta, kasih sayang, dan harta dengan wanita lain?

Tentu saja tiap lelaki memiliki argumen mereka tersendiri mengapa mereka ingin berpoligami. Ada yang ingin berpoligami, ada juga yang tidak ingin berpoligami. Alasan yang dikemukakan beragam, dimulai dari ada yang menganggap poligami adalah sunnah dan mencontoh Rasulullah SAW, ada pula yang tidak setuju karena alasan sederhana, "satu saja sudah cukup merepotkan." Hahahaha....

Aku adalah seseorang yang fakir ilmu agama. Yang hanya aku tahu bahwa poligami adalah pintu darurat, seperti Rasulullah SAW yang berpoligami karena atas perintah Allah (dalam hal ini bukan keinginan Baginda Rasul sendiri) dan Rasulullah SAW menikahi janda-janda yang umurnya di atas beliau, itu pun di akhir hidupnya. Tidak ada unsur nafsu karena paras dan kecantikan di dalamnya. Dan yang aku tahu, syarat poligami adalah ADIL (entah kenapa syarat ini terkesan digampangkan) dalam surat An-Nisa, yang kemudian Allah nyatakan dalam ayat selanjutnya bahwa sesungguhnya tidak ada manusia yang dapat berbuat adil.

Ada yang berkata bahwa Allah menjanjikan surga bagi istri yang mau di poligami. Disinilah aku ingin bertanya pada kaum lelaki yang ingin berpoligami.

"Ayah, adakah surga bagi seorang anak, terlebih aku sebagai anak perempuan, surga karena aku ikhlas ayah berpoligami dan membagi kasih dengan anak lain yang bukan merupakan anak dari ibu?"

Tidak aku temukan jawabannya. Yang aku tahu adalah seorang anak tidak dapat membangkang kepada orang tuanya. Aku tidak ingin membahas dari sisi agama. Sekali lagi, aku cuma seseorang yang fakir ilmu. Aku ingin berbicara dengan nurani, dari hati ke hati. BUKAN UNTUK MENCIPTAKAN SEBUAH PERDEBATAN LAGI!!

Seringkali di sekitar aku, yang aku temukan dalam pembahasan mengenai poligami adalah mengenai seorang istri. Jarang sekali dibahas di dalamnya mengenai dampaknya terhadap anak.

Tuhan, tidak adakah surga bagiku yang ikhlas menerima nasib dari Engkau bahwa ayahku membagi kasihnya dengan anak lain yang bahkan bersikap tidak sopan padaku, menyebar fitnah padaku, dan ayahku sangat mempercayainya dan menyayanginya?

Aku adalah anak perempuan dari seorang laki-laki yang memilih berpoligami, tanpa izin, diam-diam, tidak memperhatikan kesiapan mental istri dan anak-anaknya. Sungguh ketika terbongkar semuanya, kondisi menjadi hancur berantakan. Yang ada hanya kecemberuan, amarah, dan emosi, hingga aku bertanya sedari kecil, "Adakah lelaki yang memilih menikah lagi bukan karena nafsu meski hanya setetes embun?". Terutama untukku, sebagai seorang perempuan, kepercayaanku terhadap kaum lelaki menjadi hilang. Bahkan aku sempat menyatakan diri bahwa aku tidak akan mau menikah. Aku menyatakan diri sebagai seorang feminis... dahulu. 

Ayahku sungguh tega membuatku cemburu. Ketahuilah para ayah, jangan samakan rasa cemburu ini dengan ketika kalian lebih sayang pada salah satu anak kalian dari ibu yang sama. Rasa cemburu ini tidak dapat di deskripsikan dengan kata-kata. Rasa cemburu ini sungguh menyiksa batin dan menyulut amarah. Aku hanya dapat berkata bahwa mungkin jika kalian mengalami sendiri, kalian baru akan mengerti. Butuh kekuatan yang luar biasa untuk ikhlas pada nasib dan tersenyum menghadapi kenyataan. Para ayah, kalian pasti akan condong kepada salah satu anak kalian. Dan perlu kalian ketahui bahwa perempuan tidak mampu menahan rasa cemburunya.

Ayahku membuatku sangat cemburu dengan kasih sayangnya kepada anak-anak lainnya. Ayahku begitu percaya, bahwa dengan kata-kata mereka yang sangat tidak masuk akal, termasuk memfitnah aku, kakak dan adikku, ibuku, demi mendapatkan kasih sayang dan uangnya yang banyak. Ayahku pernah menelantarkan keluarga kami, hingga aku pun harus banting tulang, bersabar dengan penuh tangisan dan derita. Wahai para ayah, tegakah kalian membuat anak perempuan kalian merasakan hal ini? Aku memiliki seorang kenalan dan dia mengalami nasib sepertiku. Hanya saja, hidupnya sedikit lebih baik karena segala kebutuhannya dicukupi bahkan sangat berlebih. Adil? Tentu iya. Namun apa yang terjadi? Dia tumbuh menjadi seorang gadis yang berprinsip bahwa dialah yang harus memanfaatkan kaum lelaki, hingga pada akhirnya yang terjadi sebaliknya. Dia hamil di luar nikah.... tentu para Ayah tidak ingin hal ini terjadi pada para anak perempuanmu bukan?

Dan tahukah kalian? Masih banyak kasus yang lebih parah dari aku dan dia... dan semua ini berawal dari adanya RASA CEMBURU DARI SEORANG ANAK PEREMPUAN

Para ayah yang agung, aku tidak ingin menciptakan keributan disini. Aku hanya ingin kalian berpikir sekali lagi untuk berpoligami. Aku mohon, turunkan ego kalian dan tanyakan pada hati nurani perempuan di keluarga kalian. Akankah membawa kebaikan, atau justru keburukan dan kehancuran jika kalian memilih berpoligami? Apakah mereka ikhlas?

Ketahuilah para ayah... Anak perempuanmu pasti cemburu jika kau berpoligami. Dan kalian mungkin tidak tahu bahwa mereka masih berada di jalan yang lurus karena ada ibu mereka yang berjuang keras untuk terus mendidik dan mengawasi anaknya agar tidak terjerumus dalam kesesatan meskipun hati para ibu ini sedang hancur berkeping-keping dan berserakan...

Dan untuk ikhlas menerima nasib seperti ini... membutuhkan waktu yang lama... bertahun-tahun lamanya...

  • view 351