Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 23 November 2017   15:04 WIB
Suara ‘Dut’ bersama Pak Haji

Hujan sirami sore, kala itu. Ramadhan ketigaku ditengah perkuliahanku yang kian terasa berat. Baik itu dengan perkuliahan itu sendiri, dengan para dosen yang entah mau mereka apa. Menghadapi keegoisan mereka yang beragam, bukan suatu hal mudah. Mengingat aku sendiri merupakan seorang kosma yang katakanlah abadi. Dengan asumsi setelah melewati semester tiga, tidak ada lagi pemilihan. Okey, bukan itu yang akan saya bagikan, melainkan pengalaman unik menggelitik yang kualami sendiri. Terasa lucu bila diingat kembali.

Seperti halnya sebuah tradisi di sekitar pondok bilamana hampir tiba waktu untuk berbuka, banyak sekali orang yang menjajakan dagangannya. Dari mulai kolak, bubur kacang, jus, sup buah, cilok, batagor, hingga makanan berat seperti warung nasi. Satu hal yang rasanya akan terasa rindu bila diingat kembali sensasi harus mengantri, mendahulukan santri putri tatkala membeli sesuatu, khususnya saat aku membeli baso ikan langganan, selepas mengaji ba’da isya. Kalau sekiranya menunggu malah mengakibatkan madarat bagiku, maksudnya kalau nanti malah mengakibatkan waktu buka tiba sedangkan masih mengantri kan ga lucu. Dengan terpaksa urungkan membelinya. Begitulah, bila tidak masak sendiri, ya beli.

Ramadhan kala itu terasa cukup berbeda. Kenapa, entah seperti apa awal mulanya, dan kok mau-maunya saya mau ketika salah seorang ustadz yang juga merupakan saudara dari Pa Haji pemilik pondok pesantren, meminta salah seorang santri untuk menjadi bilal,lantaran seorang bapak tua yang selalu ditugasi menjadi bilal tidak terlihat wujudnya. Berhubung, apesnya saya, posisi duduk usai shalat sunat rawatib ba’da isya saat itu dekat dengan tempat biasa bapak tua bilal itu berada. Hampir semua mata tertuju, ya mau tidak mau, sembari membaca teks saya baca tuh bacaan bilal untuk shalat sunnah tarawih, karena belum hafal betul kalimatnya.

Hari berganti hari, sore berganti sore, tak terasa bulan suci itu sudah berada di pertengahan. Ah akau jadi rindu menghabiskan bulan ramadhan di pondok. Memang ketika dijalani saat itu terasa berat, namun memang harus dilalui da mau bagaimana lagi jalan seorang mahasiswa yang mondok sambil kuliah, entah kuliah dan mondok gitu ya. Selalu ada acara pengajian pasaran, ngaji kitab khusus untuk di bulan ramadhan saja. Selepas tarawih dan ba’da shalat subuh. Itupun saya suka bolong-bolong sih, malah banyakan bolongnya. Ketahuan bukan santri benernya. Iya kok bener. Dan penyakit saya kalau ikut pengajian adalah satu, ngantuk. Allahumma bener begitu duduk, iya awalnya mah seger gitu, dengerin, manggut-manggut setuju, eh taunya lama kelamaan manggut-manggut terus alias kalau dalam bahasa sunda nundutan, ngalenggut-korejat-ngalenggut. Aduh.

Dan tiba pada salah satu sore selepas shalat tarawih, saat itu cuaca memang sedang musim hujan dan atas izin Dia, sekitaran pondok ditaburi hujan rintik-rintik awet, sedari ba’da ashar hingga lepas shalat tarawih pun masih saja begitu. Begitu keluar dari masjid.

“Her...Her... kadieu...”

Terdengar suara berwibawa dan itu bukan suara asing lagi buat telingaku. Mentranslasi setiap nada dan intonasi bicara secara transitif. Itu suara Pa Haji.

“Sudah buka puasanya?”

Dengan gaya sorban putih dililitkan di pundaknya, selaras dengan warna pecinya. Membawa payung kecil biasa beliau bawa.

“Sudah Pa.”

“Ikut Bapak ke pengajian!”

Bagiku saat itu, permintaan seorang guru, apalagi itu langsung di depan batang hidungku sendiri, diminta apapun dengan penuh rasa hormat harus diikuti, tadinya aku amu pergi dulu ke kamar, sembari posisi kedua tangan memegang sorban yang dibentangkan untuk menghalangi rintikan hujan membasahi badan, dengan penuh hormat, langsung saya ikuti beliau dari belakang.

Saya kira tadinya mau bawa kendaraan gitu ke acara pengajiannya, ini mah terus saja jalan melewati gang-gang kecil terus ke arah belakang pondok. Dengan kedua tangan memegang bentangan sorban, hati-hati kuhindari tampias air dari genting-genting rumah yang berdekatan itu. Langkahku kusesuaikan dengan langkah beliau, kadang cepat kadang juga lambat. Dalam hati deg-degan juga gitu ya jalan bareng Pa Haji, baru pertama kali juga berhubungan langsung seperti ini, biasanya hanya sekadar interaksi dalam pengajian begitu, untuk hungan menjadi teman seperjalanan, ini kali pertamaku.

Jalanan dan suasana gang disini masih teras asing buatku. Maklum saya kurang begitu memerhatikan dan jalan-jalan ke gang-gang warga sampai detail, paling cuman berinterkasi dengan warga yang secara sengaja karena merupakan trek saya pergi jalan kaki ke kampus. Terlihat de depan sana ada sebuah mushala dengan banyak jama’at di dalamnya. Sampai juga di tempat. Beliau langsung disambut warga sana, salam, saya sungkem pada bapak-bapak tua disana, ikut alur Pa Haji, lantas duduk di samping belakang beliau.

Dimulailah acara oleh seorang bapak, sepertinya pengurus di mushala ini. Formaslitas seperti biasa pembukaan, pembacaan ayat suci, dan sambutan-sambutan. Saya hanya manut saja bersila di dekat agak jauh di belakang beliau, sembari ditawari bapak-bapak disana camilan-camilan yang sengaja disajikan. Setelah didengar dan diperhatikan dengan saksama, ternyata ini merupakan acara tasyakur binnikmah terbentuknya kepengurusan sebuah majelis di desa ini dengan diketuai oleh Pa Haji sendiri. Hal itu saya ketahui setelah mendengar sambutan dari sesepuh di sini.

Tiba saatnya tausiah dari Pa Haji, dan inilah saat dimana aku harus berjuang sekuat tenaga menghadapi musuh utamaku manakala harus berlam-lama duduk dalam suatu majelis, ya rasa kantuk. Dan sialnya begitu beliau naik podium, seolah air yang bendungannya dilepas, rasa kantuk itu sekonyong-kongong menarik katup mataku, kurang ajar bener ini mata. Dengan alibi membetulkan posisi duduk, lalu mengusap-usap mata, muka, melakukan berbagai macam cara agar rasa kantuk ini tidak menuai apa yang sama sekali tidak diinginkan. Kemudian sepertinya, ya, Pa haji tahu kalau saya mengantuk dan hampir nundutan di sana, tempatku duduk sembari hampir menyulam bulu mata. Cukup malu dan risih juga berada di posisi demikian, orang lain pun tentunya memerhatikan kelakuanku, seorang santri yang secara kebetulan dan entah bisa jadi karena aa yang suka mendampingi beliau kesana-kemari sedang ada udzur, ada banyak rasa malu disini saat kembali mengaca diri.

Kemudian sampailah pada acara yang dinanti setiap jama’at disini, yakni makan-makan. Sialnya, begitu acara makan-makan mulai, ini mata seoalah tanpa salah langsung melek aja. Berbagai jamuan lain diberikan ibu-ibu pengajian, baik makanan mengenyangkan maupun makanan ringan tambahan yang sudah terlebih dahulu habis. Semuanya terlihat begitu bersemangat menyantap hidangan yang telah disediakan. Bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda-pemudi, hingga terlihat ada beberapa anak turut serta dalam acara makan-makan ini. Begitupun saya, setelah mendapat izin dari Pak Haji lantas mengambil beberapa sendok nasi untuk diletakkan di piring saya. Ada sedikit perasaan deja vu saat itu, perasaan tentram hantarkan saya entah kemana. Beginikah namanya barokah? Biasanya jam segini boro-boro makan, bisa buka puasa bareng teman-teman sekamar, satu asrama saja sudah alhamdulillaah kala itu. Tak pernah berencana pergi bersama Pa Haji, menyertainya seperti ini. Ada perasaan syukurku atas kesempatan ini. Setidaknya kurang lebih selama lima tahun saya mondok disini, ada hari dimana aku bisa menyertai beliau meski hanya beberapa jam.

Dalam riuhnya suara piring dan sendok, disertai gelak tawa dan obrolan ringan jama’at, begitu pula dengan Pa Haji, saya, hanya bisa meneruskan sendok demi sendok memasukkan makanan di piring. Hanya memerhatikan setiap momen di dalam mushala kecil ini. Sederhana, namun bukan sederhananya tetapi suasana kehangatan di dalamnya bisa memashlahatkan orang di lingkungannya, selaras dengan visi masyarakat disini, diberi kemampuan untuk bisa memakmurkan mushala kecil ini.

Suasana di luar masih ada gerimis ringan, sedang kami berdua harus undur diri dari majelis ini. Setelah bermushafahah satu sama lain, kami berdua menerobos gerimis, dan aku mengikuti beliau di belakangnya. Tak ada kata sama sekali mengudara selama perjalanan kaki kami, entah mengapa saya merasa kurang enak pada beliau. Sepertinya tahu perkara tadi, malu sendiri jadinya.

Ada momen yang tak kan pernah kulupa pada kejadian saat itu, sesaat sebelum kami tiba di komplek pondok, sambil basah-basahan sorban lusuh yang saya bentangkan di atas kepala saya. Aku tidak berani mengambil inisiatif membuka percakapan tentunya. Lantas, tiba-tiba terdengar suara ‘dut’.

‘Dut’

Waduh.

‘Dut’

Wah.

‘Duh’

Weleh.

Entah dari mana datangnya suara itu, mengingat hanya kami berdua saat itu. Tidak ada yang lain lagi. Saya di belakang beliau, dan tentunya Pa Haji sendiri di depan saya. Hening.    

Karya : Heru Rahmat Mulyadi