Satu Rasa

Heru Rahmat Mulyadi
Karya Heru Rahmat Mulyadi Kategori Psikologi
dipublikasikan 13 November 2017
Satu Rasa

Apakah semuanya ini harus berakhir seperti ini?

Apakah aku menyesal pernah memiliki suatu pengharapan berlebih, meski pada akhirnya, aku harus terbakar sendiri oleh api yang kunyalakan sendiri.

Semua ini bukan tentang menyesal atau tidak pada akhirnya.

Tapi apakah aku akan menerima tau tidak, apa yang kumuali sendiri

Menyesal juga tak akan pernah ada gunanya

Kamu disana, apakah aku tahu, ya, sebenarnya aku tahu

Aku tahu pada akhirnya aku akan mengalami luka

Tapi dasar sifat dasar manusia yang ingin selalu mencoba dalamnya rasa, kunyalakan sensdiri api itu, kecil, tapi membakar sampai berdaki-daki

Hanya sebuah pengharapan semu pada burung yang sudah ada dalam sangkar si empunya

Indah nian nyaring suaranya, tapi terasa sakit di telinga pada akhirnya

Indah pun sudah ada di pelataran rumah orang lain, hanya bisa mendengar nyaringnya

Hanya bisa menatap nanar indah parasnya

Begitulah. Tak ada yang baik pada orang ketiga

Semuanya memang terlihat indah, dan konyolnya kau tahu sendiri endingnya

Kau tahu jalanan itu berduri, tapi kau tetap saja memaksa membawa kendaraanmu pada jalan berduri, dan kau sendiri memakan akibatnya.

Itulah, jangan pernah berani memainkan api bila kau sendiri masih takut dengan nyala api

Bersedihlah.

Lepaskan segalanya.

Biarlah kau disakiti lagi lagi dan lagi

Terbentur terbentur terbentur

Terbentuk

 Aku yang hanya tersakiti dalam kelakuanku sendiri

Apa salahku dan dimana letak kesalahan itu. Saat aku memiliki pengahrapan itu, lebih, saat itu pula kau jatuhkan aku dalam jurangmu yang terjal, dalam sekali

Dalam tempo yang singkat jarak itu terdistorsi, terus melebar berbanding lurus dengan waktu

Haruskah itu dilakukan

Sepertinya harus demikian, aku dulu membuat jarakku sendiri, mendekat sedekat-dekatnya

Kini aku harus pergi perlahan, perlahan, pergi lalu pergi sepergi-perginya

Lala, sebuah lara yang teramat sering kukecapi

Dalam isak tanpa suara, dalam tangis tanpa air mata

Aku mengaduhkan semuanya

Segalanya dalam ruang dimensi yang mendadak aku buat dalam imaji

Tolong sakiti saja aku sekali lagi, agar genap sudah hati ini tercabik tanpa sisa

Empedu pun tak berasa

Pahit yang ada kini hilang entah dimana rasa itu terasimilasi

 

  • view 35