Bukti

Heru Rahmat Mulyadi
Karya Heru Rahmat Mulyadi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Agustus 2016
Bukti

Terik sinar mentari yang ada di atasku, begitu mengganggu. Perutku yang kosong. Sudah berapa kali aku melakukan ini. Pergi kesana kemari, dengan harapan berhasil dibawah 50.  Memang, aku sepenuhnya sadar betapa hidup itu penuh dengan perjuangan. Akupun demikian. Dengan bekal seadanya, kubawa bongkahan kertas di dalam tas yang kugendong dipundakku. Hari itu, memang sengaja aku untuk mengosongkan isi perutku hingga datangnya waktu magrib. Kenapa, karena aku yakin seyakin-yakinnya, bahwa usaha tanpa do’a itu tidak diajarkan oleh orang tua dan guruku. Begitulah.

Perjalanan panjang menuju apa yang ingin kudapatka, begitu terasa berat. Berat sekali di atas pundak ini. Tidak, didalam dada ini, jauh di bawah sana, entah kenapa aku sendiri hampir-hampir merasa menyerah untuk mendapatkan apa yang aku inginkan setelah mendapatkan sebuah gelar di atas kertas. Kalau saja aku tidak mengingat wajah ceria dari waniata tua yang keriputnya sudah bermunculan di sekitar wajahnya yang kuyakin saat ia muda dulu, dia adalah primadona dikalangannya. Wanita yang telah melahirkan wanita yang kupanggil dengan ibu. Ibu yang sudah lama dipanggil oleh Tuhanku, Tuhannya juga. Lama, lama sekali, beberapa tahun yang yang lalu saat aku sedang masa-masanya ingin mendapatkan perhatian dari orang tua. Karena pada saat umur itulah aku sedang dilanda yang namanya masa peralihan. Dari anak-anak menuju remaja. Duka yang terasa saat itu sungguh dalam. Saking dalamnya, bahkan aku tak bisa mengeluarkan air mata yang harusnya mengalir pada saat itu. Subuh hari, selepas membereskan tempat sujudku, seseorang yang mengaku pamanku yang memang itu adalah dia, berhamburan dari arah pintu kamarku, memelukku entah mengapa mereka melakukan itu. Sembari matanya berkaca-kaca. Ia membisikkan kata-kata padaku. Kata-kata yang sama sekali tak ingin kudengar di masa aku sedang ingin-inginnya bercengkrama bersamanya. Betapa aku mencintainya. Aku yang satu ranjang bersama adikku terdiam terpaku, sampai suara maklumat dari penggawa masjid memecahkan kehenigan di dalam kamar.

“Innalillahi wainna ilaihi raji’uun innnalillaahi wainna ilaihi inna lillahi wa inna ilai raji’uun….”

Pecahlah air mata adikku yang saat itu masih kecil, seumuran dengan keponakanku yang kini berumur tiga belas tahun. Maka keheningan dalam ruangan itu, berubah menjadi suara jerita tangis kami semua. Ayahku, ua, teteh, saudara-saudara sepupuku semuanya berdatangan. Kami saling memeluk satu sama lain. Sebuah peristiwa yang bakal terjadi memang, namun kami berharap bukan, bukan hari ini. Perasaanku masih berkecamuk, jam tiga dini hari tadi, aku mendapat telepon dari pamankui yang menjaga di rumah sakit. Meminta nenekku yang ada di rumah, untuk segera menemuinya di rumah sakit. Maka dengan segera, dia pergi. Dan kini ia pun tak kalah histerisnya dengan kami yang tengah berpelukan satu sama lain, saling menguatkan dari kejadian, dari kenyataan pahit yang harus kami terima dengan lapag dada, karena kami manusia beriman, iman kepada takdir yang memang tak bisa dipungkir, kematian.

Minggu itu, yang biasanya kami semua, orang-orang didesa selalu mengisinya dengan kegembiraan bersama keluarga, kini bendera kuning berkibar di halaman rumah kami, sontak saja, tetangga-tetangga kami, saudara kami yang dari dekat maupun jauh, berdatangan. Sebuah peristiwa yang begitu menyesakkan. Ya, sesak sekali. Jabat tangan tangan, saling menguatkan satu sama lain begitu terasa, suasana haru pilu, hanya saat itu, ya, hanya saat itu saja. Meski satu kali, namun begitu dalam terasa.

Dengungan ayat suci ramai terdengar saat itu, setelahnya ibu dimandikan dan dikafani, sebelum nantinya akan dishalatkan. Teman, kalau kalian dengan sengaja tinggal shalat, maka kalian inginnya cepat-cepat dishalatkan? Na’udzubillaah. Karena saat itu situasi begitu ramai, banyak warga berdatangan yang hendak ingi ikut shaalatkan mayit, maka pemuka agama kami mengambil inisiatif untuk menshalatkannya di masjid, yang memang kebetulan tidak jauh dari kediaman kami berada. “Laa ilaaha illallaah…laaa ilaaha illallaah..laaa ilaaha illallaah….”

Lafazh khas yang dilakukan manakala mengiringi mayit. Ada hal yang kurasa tak wajar dari sini. Begitu banyaknya orang-orang saat itu, tidak biasanya isi masjid penuh di pagi hari, minggu lagi, meski dalam suasana tengah berkabung, tapi bagikuu yng kutahu satu hal. Ibuku tidak pergi begitu saja. Ia bergi dengan kebaikan yang ia tinggalkan di duinia ini. Kebaikan-kebaikannya akan senantiasa hidup didalam sanubari mereka. Ibu, kau memang pantas mendaapatkan ini semua. Kaulah pahlawanku. Kaulah yang membuatku ada, hidup, bernafas, menangis ketika datang di dunia ini, dunia yang fana, duina yang penuh dengan panggung sandiwara. Iu semua bukanlah ungkapan semata. Memang pada kenyataannya demikian. Dan hari ini buktinya.

Dengan belajar dari pengalaman-pengalaman terdahulu, aku ingin kembali mencoba nasibku. Gagalkah, atau berhasil, semua hanya Dia yang tentukan kemana arahannya. Yang kutahu hanyalah dua hal, berdoa’ dan berikhtiar. Semuanya tampak jelas bagiku tentang hidup yang bisa mengubah baik menjadi buruk, mengubah hitam jadi putih, mengubah atas menjadi bawah. Semua kemungkinan tersebut bisa saja terjadi jika kau memang hidup di duina ini. Hari ini buktinya.

Tuhan, tak apa jika memang Kau ingin sedikit lebih lama bermain denganku. Aku sebagai makhluk-Mu, ciptaanmu, akan menerima dengan lapang dada. Menerima apa adanya hasil dari usahaku. Aku akan berusa sekuat tenaga berada pada jalurku. Empat tahun kebelakang, teori boleh saja jago, tapi hari dan seterusnya hanya ada praktik lapangan. Teori hanya akan menjadi pengiring dari apa yang kita lakukan. Kita tahu teori X begini begini, namun ketika kita berada di lapangan, bisa jadi X adalah bla bla bla. Itulah hidup yang selalu berubah kemungkinan. Itu hanya pandanganku saja.

Hampir setahun setelah kelulusanku dari tingkat strata 1. Dan segalanya masih sama saja. Tak ada yang berubah sama sekali. Hanya saja, resolusi tahun ini sedikit demi sedikit terealisasi dengan baik, meski aku masih belum puas sama sekali akan hal yang telah didapatkan hingga hari ini. Bukannya aku tak bersyukur, hanya saja aku ingin mengukur diriku sejauh mana dapat bertahan pada prinsip yang kupegang teguh selama dalam masa karantinaku, masa kuliah.

Sejak kapan aku sendiri mengubah paradigmaku terhadap diriku sendiri, akupun tidak begitu tahu. Dulu. Sekitar lima tahun lalu disaat aku dibagikan piagam ijazah dari sekolah aliyah di Babakan Ciwaringin, belum pernah terbayangkan aku ingin jadi apa. Aku masih melihat berbagai kemugkkinan yang ada. Dimana ia terlihat olehku, maka disaat itu pula aku mulai menimbang. Apakah itu pantas ataukan tidak untukku. Ketika almarhum masih hidup. Aku sering bercerita padanya. Tentang masa depanku kelak seperti apa. Seperti apakah aku harus menjalaninya. Begitu asyik hingga saat ini aku masih terbayang disana, sambil beralaskan dua sajadah, aku didepan dan dia belakangku. Selepas shalat, aku selalu saja mencium tangannya erat-erat, saat itu aku membayangkan sebuah tayangan iklan sebuah detergen di televisi, dimana ada seoarang anak yang mencium tangan ibunya lekat-lekat lantaran menggunakan sebuah produk detergen tertentu, dan aku mempraktikannya. Tangan lembut yang selalu menjagaku dalam keadaan apapun, aku selalu mencium tangannya lekat-lekat. Wangi dan aku masih ingin terus melekatkan tangannya kehidungku, harum, itu saja yang selalu terasa. Dari sana biasanya ibu suka berbaring santai, masih beralaskan sajadah yang kami pakai untuk shalat berjama’ah. Beliau suka bercerita tentang masa kecilnya, masa remajanya, kisah asmaranya, hingga kemudian bertemu dengan seorang duda beranak dua yang kemudian menjadi ayahku hingga saaat ini. Sungguh asyik, namun saya rasa itu kurang baik jika dilakukan secara rutin. Orang lain selepas shalat kemudian wiridan dan membaca al-qur’an, lha ini malah ngobrol ngalor ngidul.

Hidup itu rupanya seperti ini. Jauh dari perkataan yang ada di dalam buku-buku yang saya baca, tidak semuanya memang. Namun yang saya rasa hingga saat ini. Itu hanyalah sebuah role model yang dibuat para penulis dengan berlatar belakang pengalaman mereka sendiri. Terlepas dari semuanya itu tak bisa dibuktikan secara empiris.

Tak ada yang namanya adil dalam hidup. Tuhanlah yang Maha Adil, hidup tidak. Ia hanyalah makhluk, hidup dan mati. Keduanya sama-sama tak pasti. Kita tak kan pernah tahu kapan dan dimana kita hidup lalu mati.

Aku sama sekali tak pernah berpikir bahwa akan mengambil jurusan ini. Bisa dibilan saya salah masuk jurusan. Bukan ini yang aku inginkan dulu ketika kubicarakan bersama ibu. Dosen, itulah yang aku sampaikan padanya. Terlepas dari dosen apa aku tak pernah memikirkannya sejauh itu. Saat itu pengetahuanku akan pendidikan belum sebegitu luasnya seperti saat ini. Tak salah kan jikalau anak kecil memiliki mimpi seperti itu?

Saya rasa alasannya adalah adanya rasa ingin mendapatkan pengakuan dari seseorang, yang dalam beberapa kasus apakah ia masih membenciku atau tidak. Sampai saat ini aku tak mengetahuinya kenapa ia sebegitunya membenciku. Padahal aku hanya mengirim beberapa surel. Ya mungkin saja bagiku itu biasa, tapi baginya itu tidak biasa dan malah bisa membawa petaka. Ironi sekali. Saat itu aku memiliki orang yang aku suka, tapi rasa itu malah balik menjadi petaka. Tadinya aku dan dia masih bersama-sama dalam beberapa kondisi. Kami sama-sama menyukai hal yang sama. Dan itulah saya rasa hal membuat saya mulai menyukainya. Dan itu pulalah hal yang berimbas pada hari-hari berikutnya sampai hari ini. Aku merasa trauma dengan kejadian tersebut. Aku menyukai seseorang, namun itu malah akan membawa penghalang yang kian tebal diantara kami. Dan jujur, perasaan itu masih saja menghantuiku.

Dan pada akhirnya aku hanya memutuskan secara sepihak. Aku tak akan menghubunginya lagi dalam bentuk apapun. Saya rasa itu lebih dari cukup sebagai bentuk permintaan maaf. Bener gak?

Duniawi, duniawi, duniawi. Sebegitu parahkah hidupku ini? Oke, fix sekarang boleh jadi saatnya saya berada dalam keadaan jatuh sejatuh-jatuhnya. Menjadi seorang NEET disaat memiliki tulisan tinta cum laude di atasnya, dicetak tebal miring, bukanlah hal yang mudah. Apa yang aku lakukan saat ini? Kuatkah aku mengalaminya? Akankah aku menyimpang dari jalurku saat ini? Pertanyaan klise yang kerpa kali kuucap dalam kesenyapan ini.

Tuhan, imankah aku padamu?

Tuhan, islamkah aku?

Tuhan, ihsankah kami?

  • view 177