Balkon

Heru Rahmat Mulyadi
Karya Heru Rahmat Mulyadi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Juni 2016
Balkon

Semilir angin membelai rambutnya yang terurai. Di atas balkon itu, kulihat ia menengadahkan pandangannya, pamerkan jenjang lehernya. Anggun. Dari kejauhan, aku yang masih bisa melihat air mukanya, kepasrahan mendalam tampak membungkus wajahnya nan merona.

Malam itu, rasanya malam terdingin pekan ini. Karena itulah aku melilitkan sweater biru ke tubuhku. Terasa sedikit hangat. Ia pun begitu. Yang kurasakan sama halnya dengan apa yang ia rasakan, tampaknya. Dingin. Ia selimuti tubuhnya dengan dengan sweater, sama denganku, biru. Lantas tampak bandana merah muda nangkring di atas kepalanya.

Mata indahnya terpejam. Semakin terlihat aura kecantikannya. Memesona. Kemudian ia bentangkan kedua tangannya. Aih, apa pula ini, apa yang hendak ia lakukan. Aku berprasangka. Namun setelah aku melihat dua lesung pipinya menyeringai. Aku mafhum apa gerangan yang tengah ia pikirkan di dalam batok kepalanya. Raut wajahnya memneritahukan hal itu.

Hah… Aku berpikir yang tidak-tidak. Aku berprasangka buruk padanya. Seharusnya tidak boleh seperti itu.

Tahukan kawan, kesan apa yang timbul ketika melihat ia membentangkan kedua tangannya sembari pejamkan mata. Lalu ia berada diatas ketinggian yang lumayan. Ditambah lagi, malam itu sepi. Jarang terlihat orang berlalu lalang di punggung jalanan. Sungguh prasangkan buruk. Tak kuasa kudefinisikan.

Aku kembali memerhatikan tingkah lakunya. Menarik. Aku tahu ia sedang mengalami sesuatu yang membahagiakan, dan ingin sampaikan apa yang dia rasakan itu pada malam kelam yang dingin. Gelap gulita, namun terang benderang oleh lampu jalanan.

Terpaku. Kali ini enggan untuk melangkah. Berat. Gaya gravitasi yang begitu kuat. Bergeming. Tak mau bergerak semili pun.

Tapi bukan itu, sebenarnya kaki ini sudah lelah sejak tadi, menompang baerat badan ini. Ingin rasanya pergi dan lekas pulang ke rumah. Karena takut orang tua gundah gulana. Gaya tarik pun biasa-biasa saja. Mata. Mata ini ternyata enggan lepaskan pandangan dari seorang putri menarik hati. Kunikmati keadaan di malam ini. Hanya aku kawan. Hanya aku saja yang tahu. Dan disaksikan Tuhan Yang Mahatahu. Malu.

Sejurus kemudian, wanita itu tersadar, bahwasannya ia telah diperhatikan sekian lama olehku.  Dan, amazing. Ia menjatuhkan kedua bola mataku dengan senyumannya. Senyumannya itu, ah aku tak mampu mendeskripsikannya, sungguh tak mampu.

Pikiranku melayang. Merefleksikan atas apa yang dianugerahkan padaku saat ini berupa senyuman. Oh indahnya bukan main. Ku review apa yang kulakukan tadi. Hari ini. Hingga detik ini. Pergi mengantarkan pesanan pelanggan, membaca newspaper, menonton acara televisi kesukaan, lalu mengantar pesanan kembali, dan akhirnya dimarahi ibu karena tahu bahwa aku telat mengantarkannya. Empedu.

Inilah madu. Aku disuapi senyuman yang manis. Saking manisnya, aku lupa mengukur kadar gula darahku tadi, takut mengalami diabetes mellitus. Ah. Rasanya, rasanya begitu manis semanis madu. Oh, andai ia tahu perasaanku.

Sementara aku masih tenggelam dalam lamunanku. Tak sadarkan diri. Walau hanya senyuman. Permasalahannya kamu tidak tahu sih, aku yang hampir setiap hari dijejali kata-kata pedih dari ibuku yang killer itu, ups. Ngga deng, just kidding. Meski demikian aku syang ibu kok. Hatinya serupa malaikat. Mengajariku tentang arti kedisiplinan waktu. Tepat waktu. Barang dagangan laku.

Itu adalah senyuman yang berarti besar buatku. Baru pertama kali aku dapatkan hal seperti ini. Seingatku belum ada senyuman indah memesona serupa. Meski kutahu, senyuman itu tidak lebih hanya sebuah sapaan.

Di tengah semua itu, tiba-tiba ada seseorang yang menarik-narik sweater-ku. Aku terperanjat. Seorang anak kecil, imut, nan lucu. Kutaksir umurnya berkisar sepuluh. Dialah Sesylya, adik perempuanku.

“Kak, ayo pulang. Dimarahi ibu lho!”

Hei bocah kecil, ganggu aja dikau! Keluhku.

Aku lupa. Aku disini untuk menjemput adikku yang les biola.

“Ya adikku sayang, bawel ah, dah mirip ibu saja” Kucubit hidung bangirnya.

Serta merta kuraih sepeda soulmate yang berada di tempat parkiran sepeda. “Yuk, naik!”

Untuk kali terakhir, aku kembali menatapnya. Kulemparkan senyum balik badanya. Dan tak lupa, kukerlipkan sebelah mataku, sebelah halisku. Nakal.

  • view 86