Gerobak Sampah Milik Pak Haji

Heru Rahmat Mulyadi
Karya Heru Rahmat Mulyadi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Juni 2016
Gerobak Sampah Milik Pak Haji

Sering kita dengar sebuah Mahfuzhat, “An Nadhafatu minal iiman” kebersihan itu sebagian dari iman. Bahkan surau pertama saya bertegur sapa dengan suatu huruf asing, keriting, yang cara membacanya harus dari kanan, tempat pertama kali saya mengaji ilmu agama, tulisan tersebut melengkung indah memperlihatkan lekuknya yang memesona. Diukir sedemikian rupa. Saya kira itu hanya sebuah karya seni biasa, tak berarti apa-apa, hanya hiasan dinding koridor menuju tempat wawasuh. Dan ternyata, keliru betul saya. Itu adalah pedoman dasar, bagian ilmu pertama yang harus dipelajari bagi seorang muslim, pintu menuju ritualitas suci, yakni Thaharah, bersuci. Tidak boleh bagi seseorang untuk menunaikan shalat sebelum bersuci terlebih dahulu.  Suci dari apapun, dari hadas kecil maupun besar. Pakaian yang dikenakan pun harus terhindar dari najis baik ringan, sedang apalagi yang berat. Sebuah hal kecil yang seringkali kita lupakan. Kecil namun akibatnya jangan dianggap sepele.

‘Kalau pingin tahu kualitas iman seseorang, ngga usah jauh-jauh dia ketalar berapa juz, seberapa banyak dia hafal hadis, seberapa tartil dia membaca Al-Qur’an, lihat saja WC nya, lihat saja kondisi lingkungan tempat dimana dia bermukim.’ Salah seorang guru saya pernah berkata demikian. Dan dari sinilah paradoks pertama saya kutemukan. Adalah Pak Haji, mudah-mudahan ridha Allah senantiasa menyertainya, Guru yang pemikirannya asyik, nyentrik, menarik. Beliau pembawaannya begitu santai namun ia tak pernah terlihat nyantai. Pemikiran beliau yang futuristik, begitu memikirkan umat bukan untuk hari ini saja melainkan untuk masa yang akan datang. Ia bukan fanatik golongan, semua golongan baginya sama, selama Tuhannya sama, Rasulnya sama, shalatnya sama, kitabnya sama, apa yang harus diperdebatkan. Yang berbeda itu adalah produk pemikirannya, isi kepala seorang ayah dan anaknya tentunya memiliki perbedaan, guru dan murid, sesuai dengn kapasistas keilmuan dan pengalaman hidup yang didapat. Pintu ijtihad dibuka seluas-luasnya bagi orang-orang berilmu. Sudah bukannya zamannya lagi memperdebatkan hal sedemikian rupa. Disaat tetangga jauh sudah memikirkan ekspansi ke luar angkasa, ini masih berkutat ke hal ini itu ini itu hanya karena perbedaan pendapat dan mempermasalahkan mana yang benar dan mana yang salah. Bahkan Imam Syafi’i pun mengungkapkan, ‘Pendapat saya benar tapi kalau ada pendapat saya yang keliru itu juga benar.’ Kalau pendapat tersebut benar, maka dia dapat dua pahala, akan tetapi kalau pendapat tersebut tidak benar maka dapat satu pahala. Bahkan jikalau ada pemikiran muridnya yang berbeda pun ia menerimanya dengan tangan terbuka. 

Okey kembali ke jalan yang benar. Tentang persoalan kebersihan di komplek asrama kami terdapat TPA yang letaknya masih di sekitaran asrama. Disedikan secara pribadi oleh Pak Haji untuk kemaslahatan bersama. Disanalah limbah produk dari setiap santri baik putri maupun putra bermuara. Dari organik, anorganik dan yang sudah tidak bisa lagi dibedakan antara keduanya. dan biasanya, setiap pagi kami ro’an, bebersih asrama kami masing-masing. Ada satu asrama terpencil, jauh dari peradaban pusat. Hal tersebut seolah menjadi alibi penduduknya untuk tidak menyetor stok sampah setiap pagi, minimal dua hari satu kali. Tak terbayangkan betapa numpuknya ampas tersebut. Apalagi jikalau sewaktu-waktu penduduknya kurang berminat dengan gerobak sampah, maka lebih dari dua hari sampah itu menggunung dibiarkan tak di didtribusikan. Lantas apa yang terjadi. Penduduk disana kerapkali terkena paparan perantaraan lisannya Pa haji. Tak jarang pula kepala daerah tersebut mengeluh lantaran ulah dari penduduknya.

Selalu ada wejangan ditiap selepas beliau mengajar dan yang frekuensinya relatiif lebih besar adalah mengenai kebersihan. Seolah kebersihan menjadi nafasnya. Sayangnya sedikit santri yang mengindahkan perkataanya. Jadwal piket setiap asrama tertempel rapih, di mading bahkan ditempel di pintu kamar. Bohong jikalau mereka tak bisa membacanya. Termasuk terkadang pribadi melakukannya hanya sebatas kewajiban saja, hanya karena ada jadwal. Jika tidak maka sekotor apapun itu, saya membiarkannya. Eits, tentunya tidak serta merta saya membiarkannya lho. Saya punya pikiran bahwasannya mereka sudah sama-sama dewasa, sama-sama mahasiswa, universitas, islam lagi, negeri lagi, jadi mereka akan peka dengan sendirinya. Lantas apa yang terjadi? Dugaan saya keliru 75%. Saya perhatikan, banyak sih diantara mereka yang jago pidatonya, jika diskusi selalu mendominasi, suaranya begitu merdu bila dipakai membaca ayat suci, musabaqah tidak pernah absen, setiap waktu yang lima, jika berada di asrama senantiasa melaksanakannya secara berjama’ah di masjid. Tapi, sungguh sangat disayangkan, hal-hal ritualitas sedemikian rupa benar-benar diartikannya sekadar ritualitas belaka tak berbekas makna. Hanya sebagian dari kelompok mereka yang memang murni melaksanakan kewajibannya karena kesadaran dan tanpa paksaan serta dorongan. Sisanya yang sebahagian besar saya perhatikan, ya mereka rajin, hanya jika ada instruksi terlebih dahulu dari Pa Haji, satu hari dua hari kemudian tak tahu mereka hilang ingatan atau apa, seolah tak pernah terjadi apa-apa, maka rutinitas pun tanpa sadar mereka jalankan kembali sesuai dengan program alam bawah sadar yang barang kali telah menjadi main program dalam instruksi kesehariannya.

Maka dari itulah paradoks yang saya temukan memang benar adanya. Zaman sekarang sudah terlampau banyak orang yang jago hal-hal yang serba formalitas, musabaqah tilawah, hifzhil, fahmil, barzanzy, marawis, dan lain-lain, tapi hanya sedikit yang mengaplikasikannya dalam main program sehari-harinya, selebihnya ya hanya sebatas hal sedemikian rupa. Dan bukannya pribadi sudah bener lho. Hanya merepresentasi kegiatan dalam lingkungan manusia-manusia yang menyebut dirinya sebagai santri. Tidak lebih. Jikalau dalam lingkungan begini saja kesadaran akan kebersihan, apalagi di luar.

Gerobak sampah yang Pak Haji sediakan barangkalai memiliki artian berbeda dari harfiahnya. Saya kira beliau ingin menyampaikan hal tersirat dibalik gerobak tersebut. Beliau sadari bahwasannya kadar keilmuan masing-masing santrinya sudah bukan lagi wadah kosong yang harus dituangkan isi lagi, ntar kepenuhan. Ia hanya berharap dengan adanya gerobak sampah itu, pemikiran-pemikiran keliru tentang ajaran yang dianggap sebagai ritualitas saja, sudah saatnya untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, jadi bukan hanya ‘sekadar’. Metode yang beliau sampaikan sama dengan metode pembelajaran dalam kitab suci. Ada ayat yang membahas neraka, maka dilanjutkan dengan ayat tentang surga. Ayat tentang orang kafir, dilanjutkan dengan orang beriman. Ada hasanah, ada sayiah. Ada buruk ada baik. ada golongan kanan, ya ada golongan kiri. Golongan yang dapat murka, golongan yang dapat ridha. Biner, jika ngga 1 ya 0. Tidak ada selain itu. Kenapa demikian, karena hidup adalah pilihan. Allah pun sudah mewanti-wanti, jikalau ingin selamat ya harus begini begini begini, jikalau tidak melaksanakan yang begini begini begini ya termasuk golongan lainnya, tidak ada tengah-tengah, bahkan yang tengah-tengah cenderung ke golongan berkebalikan. Dan itulah yang beliau sadari dari realitas kehidupan saat ini, saya rasa. Ingin merubah paradigma, pola pikir dari santri-santrinya menuju agama yang universal. Bahwa agama Islam itu bukan agama ritualitas belaka, tetapi merupakan ajaran aplikatif. Dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Dari mulai keluar dari lubang hingga berakhir masuk lubang lagi. Dari mulai takbiratul ihram hingga salam. Itu semua tidak lain adalah sebuah pola hidup seorang muslim yang kaafah, komprehensif, attakamul wa assyumuul. Tak bisa dipisahkan satu sama lain.

  • view 77