Hilang

Heru Rahmat Mulyadi
Karya Heru Rahmat Mulyadi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Juni 2016
Hilang

Barusan aku cek kembali ruangan tempat kegiatan rapat kami berlangsung. Tak ada siapa-siapa lagi. Yang tersisa hanyalah udara kosong dan puing-puing bekas acara tadi. Lantas kenapa barusan seolah ada seseorang yang memanggil namaku? Lambat laun akupun mencium adanya bau yang tidak beres. Bulu romaku tak bisa diajak kompromi. Pasti ada seseorang, ya seharusnya begitu. Aku membatin sendirian berharap perasaanku kali ini 99,99% salah. Jelas-jelas tadi saya hitung sekitar tiga kali ada suara anak perempuan yang memanggil. Kalau tidak salah suaranya pun saya kenal. Aktivis sebelah yang kerap kali bertegur sapa namun tak tahu entah siapa namanya.

Aku melihat sekeliling, lunturlah keberanian yang sudah susah payah kukumpulkan. Otomatis program defender dalam diriku berangsur aktif. Ruangan rapat tadi segera kukunci dan lekas mengambil langkah sedikit lebih lebar dari biasanya. Mencoba untuk sedikit tenang, menyingkirkan logika kurang ajar yang menguraikan beberapa kesimpulan yang bisa saja terjadi. Berada di lantai lima gedung ini, memilih lari justru malah berbahaya buatku. Mana tak ada lift lagi.

Sesampainya di lantai dua, entah bagaimana langkahku terhenti dengan sendirinya. Aku melihat ada cahaya di ruangan sidang yang selalu dipakai para dosen untuk keperluan mereka. Rapat, diskusi ilmiah atau apalah. Tunggu dulu, spesies dosen seperti apa yang masih berkeliaran selarut ini, akhir pekan pula. Terus siapa kalau begitu. Sialnya kaki ini malah sulit dibawa aman dalam situasi seperti ini. Kurang ajar betul. Aku memaki kaki sendiri yang malah melaju mendekati ruangan tersebut seolah ada medan magnet dengan sengaja menarik tungkai kaki ini.

Terdengan bunyi sakelar lampu dimatikan seiring pencahayaan ruangan tersebut lenyap terserap oleh kegelapan gedung, hanya temaram lampu luar satu-satunya sekumpulan cahaya tersisa. Kemudian terdengar ada suara langkah kaki. Kesadaran normalku akhirnya menangkap sinyal bagus. Lah tapi kok bukan dari dalam ruangan ya, seperti ada yang tengah menaiki anak tangga menuju lantai ini. Sontak aku menoleh ke arah tangga, dan kudapati satpam gedung berdiri dengan tatapan mengancam, Mang Olek sembari membawa sentar tergenggam mantap ditangan kanannya menghujaniku dengan sinar melesat darinya.

“Lagi ngapain, dek?” sapaan Mang Olek kepada hampir setiap mahasiswa selalu memakai kata panggilan depan dek. “Siapa suruh buka ruangan sidang dosen?!”

Lho kok ruangan sidang? Pikiranku kembali kesemutan. Baru sadar bahwa aku kini berada tepat di depan pintu ruangan sidang dimana daun pintunya dalam keadaan terbuka tanpa aku sadari sebelumnya yang jelas-jelas masih dalam keadaan tertutup. Keningku berkerut keras. Dengan segera aku mengumpilkan beberapa kesadaran sesaat sebelum datangnya Mang Olek. Perasaan tadi aku sama sekali tidak menyentuh gagang pintu sedikitpun.

Kulempar pandanganku pada Mang Olek yang berangsur mendekat ke arahku sembari merogoh saku celana gombrangnya, mengambil sederetan anak kunci. Bukan hal sulit baginya menemukan kunci yang pas untuk membuka ruangan sidang ini, meski dalam gelap sekalipun. Ia sudah hafal betul, semudah membalikan telapak tangan.

Sementara detik itu pula, aku mulai panik menyusun kata-kata ‘ajaib’ sebagai pembela. Bukan aku pelakunya. Aku hanya korban kesalahpahaman disini. Aku masih mematung di depan pintu.

Tiba-tiba, entah dengan alasan apa Mang Olek lari ke arahku sambil berteriak memaki seolah aku ini mau melarikan diri. Dari apa? Ada apa disini? Aku balik berteriak. Memogram ulang tubuhku agar bisa mengimbangi kemungkinan tubrukan antara dua tubuh manusia yang berbentuk dan bermassa. Namun, sesuatu terjadi diluar nalarku.Ringan, inikah yang dirasakan kaum tertentu dengan sebutan nge-fly? Seolah ada jutaan partikel cahaya memukulku bertubi-tubi, dan tak terasa sama sekali. Jika kau tembakan cahaya senter ke arah dadamu, kau akan dapati cahaya itu disana –bagian dada yang terkena cahaya. Dan yang kurasakan dan kulihat saat ini cahaya tersebut mendobrak begitu saja satuan massa padat, gumpalan daging tubuhku sendiri, melesat begitu saja melewatiku. Bedanya, ini bukan cahaya, tetapi Mang Olek itu sendiri. Makhluk bermateri seperti dia kini dengan mudahnya menembus tubuhku begitu saja. Apa sebab? Tolong jangan tanya disaat seperti ini, mengerti? Aku pun masih belum bisa mencerna kejadian yang super tiba-tiba ini.

Akhirnya aku tahu alasan mengapa Mang Olek terburu-buru mengejar seseorang seperti itu. Kulihat di belakang sana sekelebat bayangan hitam yang aku kenal betul siluetnya, caranya berlari. Ya, aku kenal dia, itu adalah aku. Tubuhku, tepatnya.

Kejadian demi kejadian tidak lucu ini, membuat telingaku berdenging. Seperti ada suara lonceng berdentang keras dengan sengaja didekatkan. Aku diambang batas antara simpatik dan parasimpatik. Kalkulasi dari serangkaian kejadian memuakan ini. Aku sungguh tak ingin mengalami hal seperti ini.

Yang tersisa kini hanyalah umpatan Mang Olek, ia mengusap wajah was-wasnya, mempertimbangkan sesuatu. Memilih untuk mengejar ‘wujud’ tadi atau kembali ke ruangan siding dan menguncinya. Ia pun berbalik memutar tubuh tegapnya ke arahku, titik dimana aku, jasad tak bertubuh ini terkena badai salju mendadak, membeku. Tak bergerak satu inci pun. Sebentar ia masuk ruangan itu. Kulihat ia seperti tengah mengecek sesuatu.kali aja ada satu atau dua benda penting raib akibat peristiwa barusan. Aku tebak Mang Olek pun sepertinya hafal didalam batok kepalanya setiap benda yang ada di dalam gedung, satu detail benda pun tak bisa berpaling dari daya tangkap Mang Olek.

Tunggu dulu, aku punya masalah lain yang lebih serius disini. Aku tak kasat mata. Jika ini mimpi, maka kesadaranku harusnya berlalu seiring kejadian menegangkan tadi. Rata-rata manusia terbangun jika mendapatkan kejadian yang tidak menyenangkan. Baginya, adrenalin berlebih dapat menjadi filter distorsi antara dunia mimpi dan realita.

Syukurlah, sepertinya taka da apapun yang menghilang di dalam ruangan ini. Terlihat dari air muka Mang Olek yang sedikit lebih rileks. Nekad, dari situ pun aku mencoba lagi kali aja itu hanyalah sebuah refleksi alam bawah sadarku terhadap serangkaian kejadian memuakkan tak masuk akal semenjak ada suara yang memanggil-manggil namaku.

“Mang Olek, ini aku mang, Johny!”

Beberapa kali aku berusaha menarik perhatiannya dengan sedikit meninggikan volume suaraku. Bergeming. Ia seperti menganggapku taka da di dalam ruangan ini. Celakanya dugaanku benar adanya. Aku tidak benar-benar ada di ruangan ini. Setidaknya definisi ada menurut kacamata manusia bermateri. Putus asa, kucoba melakukan improvisasi laiknya difilm-film. Maafkan aku Mang.

Kucoba menyentuh setumpukan buku tebal di atas meja di belakang punggungnya. Kujatuhkan mereka. Tenyata hal itu bekerja. Sedikit terkaget, kulihat ia tengah mengamati sekelilingnya. Dari gelagatnya, bisa kuterka ada sedikit rasa takut dalam dirinya meski hanya selintas saja. Setelah itu, seperti sudah terbiasa dengan hal demikian mengingat Mang Olek adalah seorang penjaga gedung ini. Kucoba beberapa kali, nihil. Benar. Tak tahu dengan cara seperti apa dan kapan ini terjadi, diriku benar-benar menghilang dari rangkulan cahaya, kasat mata.

  • view 64