Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 14 September 2018   15:42 WIB
jatirogo

Hutan jatirogo

23/08/2018
20:35

Pemandangan warung si mbah di bawah beringin hutan jatirogo malam Jumat kliwon terlihat ramai. Sepi menyeramkan menurut manusia normal. Tidak dengan dukun kondang yang bisa meminta bantuan jin pohon itu untuk kepentingan perdukunannya. Keadaannya begitu ramai. Banyak hantu-hantu pelancong yang sekarang sedang mampir membicarakan politis cancut negara kadal.
"Selama dapur rumah negara kita hanya menghasilkan pentolan-pentolan tokoh cengeng dan baperan di dunia yang keras ini, negara kita takkan pernah maju." Teriaknya. Salah satu siluman penghuni jatirogo. "emang benar mang, keadilan hanya dalam buku dongeng anak-anak kiri yang mulai meranjak belajar dewasa dalam memahami politis komunis praktis." Tambah darwo. Tepatnya genderwo namanya. Dia memang terlihat seram, bulunya panjang lima senti merata di sekujur tubuhnya. Baunya pun gak sedap.
Memang benar, negara yang kaya raya dengan hasil bumi yang melimpah, tanahnya yang subur, rakyatpun makmur, airnya yang jernih dan udaranya yang bersih. Tapi semua itu hanya omongan iseng zaman dulu bukan zaman now.
Salah satu siluman masuk warung sambil membawa tablet, siluman itu terkenal memilki jurus andalan yang bisa memusnahkan seluruh wilayah kota. Dengan jurus itu semua orang tunduk, dari orang-orang berjabat, wakil rakyat, tokoh agama, atau manusia pecundang dan gelandangan. Akupun semakin tertarik. Kuberanikan untuk menyapa dan menanyakan beberapa hal.
"selamat datang Pak? Malam ini dingin benar ya Pak?" Pertanyaan garing yang kadang membuat pelakunya culun itu aku luncurkan. Kau sendiri akan tahu akibatnya. Dia diam, datar. Seolah-olah acuh padaku. Semakin menarik hatiku untuk bisa mengenalnya.
"kau ingin dancuk tidak saudara?" Jawabnya seolah tahu apa yang ku inginkan. Basa-basi garing yang biasa digunakan untuk penghangat suasana. Aku terdiam sedikit kaget. Aku tak mengira dia menjawab seperti itu.
Dia menoleh, menatapku tajam. "apa kau ingin menghancurkan wilayah kota?" Tanyanya.
"mau Pak". Jawabku lugu. Diapun menodongkan tablet model baru. "kau tahu ini saudara? Ini tablet. Dengan inilah aku menghabisi kota. Menghancurkannya." Timpalnya datar.
Aku terkejut dan bengong, apa yang dimaksud olehnya. "dengan tablet aku menulis, memproganda, mengedit video, mengedit ceramah, membuat-buat berita buatan cabul agar negara ini semakin ruwet." Timpalnya.
"dunia sekarang ini, kebanyakan orang tidak mengukur banyak hal dengan akal sehat dan pikiran, mereka dengan emosi kesukuan dan pembenaran yang terpaksa itulah mereka menghukumi sesuatu. Apalagi menanggapi berita, mereka sama sekali tidak menyaring kebenarannya dengan akal sehat. Dan kau perlu tahu nak. Pemikiran sepihak yang dipaksakan pada anak SD kapan waktunya mereka sadar. Bahwa mereka hanya dibodohi oleh doktrinal yang bersifat pembodohan dan tidak menyelesaikan ragam masalah yang runyam di negeri cancur ini." Ceramahnya.
Aku sempat tak mengerti, apa maksudnya. Tapi aku sadar sedikitnya itu menyindir pemerintah maha kocak yang sejak lama main ludrug dengan para wakil rakyat dan tokoh-tokoh berdasinya.

Karya : hoesni mubarok