ARTI KEHIDUPAN DIDALAM KEHIDUPAN

Hotlider H Simamora
Karya Hotlider H Simamora Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Mei 2017
ARTI KEHIDUPAN DIDALAM KEHIDUPAN

Oleh.  Hotlider H Simamora

Salah satu hal yang sangat susah untuk dilakukan di dunia ini adalah melepaskan sesuatu yang tidak bisa untuk kita miliki,

Tetapi mungkin kita hanya bisa untuk belajar tersenyum dan tertawa seperti biasa. Hanya saja kali ini tanpa senyum dan bukan lagi karena senyuman.  Kali ini benar-benar karena diri kita sendiri yang harus bisa  bahagia menjadi apa pun diri kita, bersama siapa pun yang memang untuk diri kita nanti, yang pada akhirnya, mau tidak mau, dan tidak menutup kemungkinan, salah satu hal yang susah untuk dilakukan di dunia ini adalah melepaskan sesuatu yang tidak bisa kita miliki.

Suatu saat nanti, mau tidak mau, kita bisa menyadari bahwa memang bukan untuk saya miliki, mau dipikirkan dan diusahakan seberat apa pun juga, tetap tidak akan menjadi milik saya. Tapi mungkin kita baru bisa melepaskan hal tersebut setelah kita menyadari hal itu.

Sampai titik akhir dengan pelan-pelan, akan melupakan hal tersebut. Dengan Pelan-pelan, ingatan tentang yang tidak bisa dimiliki akan memudar. Dengan Pelan-pelan,  hanya akan mengingatnya suatu saat saja bisa saja kapan-kapan. Itu pun bisa karena kebetulan ketika kita  melihat hal-hal yang terjadi yang mirip dengan hal tersebut atau mungkin ada teman yang menanyakannya. Tapi pelan-pelan, dengan pelan-pelan, Yang banyak tidak dimengerti orang adalah dengan hal '‘pelan-pelan''

Mulailah dengan tidak mengingat sama sekali tentang hal itu dan berhentilah mencari tahu tentang hal itu.  Selalu Tetap, dengan pelan-pelan.

Pada saat seperti  ini, jangan dulu sering melihat atau mereview ke belakang. Terus saja berjalan. Terus saja. Pada akhirnya nanti, pasti akan  sampai pada satu titik tujuan yang membuat diri kita nyaman. Dimana titik tersebut suatu ketika menengok lagi ke belakang, semuanya sudah tidak sama lagi. Mungkin juga akan rindu dengan momen-momen itu, tapi tidak ingin kembali lagi ke momen itu. Hanya rindu, hanya kenangan. Bukan untuk dilupakan atau dihilangkan, hanya untuk sesekali menengok ke belakang, tapi bukan untuk menetap di sana.

Karena bagaimanapun juga, kita tidak bisa lupa, hati kita sendiri saja yang harus dijaga, bukan lukanya. Jangan lupa juga, bahagia kita yang harus dijaga, bukan keterpurukan yang pernah terjadi. Jadi, marilah kita terus berjalan. Kalau tidak, kita akan jauh ketinggalan.

Karena bahagia selalu menemukan jalan untuk tetap sampai ke tempat tujuan titik yang kita tempuh. Dari arah mana saja, ke arah mana saja.

Angkat lagi berdiri tegak kepala kita, mari kita bangun lagi bahagia didalam diri kita, mari kita lepaskan 'reruntuhan’ apa pun ang pernah terjadi, waktu masih ada untuk kita,  dan waktu selalu untuk kita.

Inilah sandiwaranya hidup yang selalu menggilirkan beberapa babak dalam hidup kita masing-masing, diantaranya adalah kapan kita menemui babak kemenangan dan babak kekalahan. 

Wajar saja jika sesekali waktu, dada kita berkembang karena kita menang, sekaligus pada waktu yang lain sekujur tubuh terasa lemah karena sedang kalah. Bergiliran saja, akan ada waktunya. Entah apapun pertarungan dan perlombaan yang kita jalani yang kita hadapi, dan apa yang kita pertaruhkan, apa yang kita perjuangkan bahkan hanya sekedar menepati sebuah janji, kita akan berhadapan pada tujuan menang atau kalah sebagai sebuah konsekuensi. 

Kiranya, yang cenderung banyak membuat lupa adalah ketika menang. Menang, memang jarang mengajarkan mengoreksi kesalahan. Terkadang pula menang hanya membuai perasaan. Namanya juga sedang menang, ya tak perlu ada yang diajak perang, ya cukuplah senang dan tenang.

Namun bila telah kalah, kita cenderung lupa pula mengoreksi langkah. Kita lupa memeriksa apa yang sebenarnya salah. Malah, kita terjerambah  dalam situasi menyerah, mengaduh-aduh kan keadaan dalam keadaan payah. 

Padahal, keduanya hanya babak yang silih berganti. Karena kita tahu hidup memang begini. Tergantung pula seberapa dalam pemahaman kita sepanjang hidup, tergantung seberapa jeli kita menghadapi situasi yang terus berganti. 

Dan semestinya, menang dan kalah inilah yang mengajarkan kita segenggam hikmah. Tentang posisi dalam keadaan menang, pada apa yang kita syukuri, apa yang kita mampu, hingga apa yang bisa kita pertahankan hingga nanti. Begitupula posisi dalam keadaan kalah, apa yang kita akui sebagai hal yang salah, apa yang kita perbaiki dalam setiap langkah, hingga kemauan kita untuk benar-benar berubah. 

Semoga kita benar-benar paham, agar tidak hanya menjalani hidup ini tanpa arti yang mendalam.

Perpisahan adalah perayaan syukur, bukanlah merupakan pesta kematian. Marilah kita hadapkan diri kita pada jiwa. Marilah kita sempurnakan dengan baik dan sebaik-baiknya.  karena dengan jiwa kita akan disebut manusia  bukanlah dengan badan kita, kita akan disebut sebagai manusia.

Begitu juga dengan perjalanan hidup yng kita jalani saat ini. hari, minggu, bulan dan tahun selalu ada dalam kalender. Begitulah pula Semakin bertambah usia, rasanya bulan berlalu begitu cepat, secepat satu jam. Tidak terasa kini sudah masuk ke wilayah abu-abu.

Sebuah wilayah yang menyajikan begitu banyak pilihan, begitu banyak jalan dan persimpangan, juga begitu banyak kekhawatiran dan ketakutan. Wilayah yang kita tidak tahu dimana arah matahari terbit dan tenggelam, seperti tersesat di tengah hutan yang rimbun. Dan kita dipaksa untuk terus berjalan, setiap detik mengambil keputusan antara hidup dan mati. Salah mengambil jalan, maka tersesatlah perjalanan ke depan. 

Dan di bulan-bulan yang sama lah, dalam beberapa tahun terakhir. Kejadian-kejadian besar terjadi. Keputusan-keputusan besar di ambil. Juga konsekuensi-konsekuensi besar terjadi.

Hidup ini singkat, sesingkat hitungan bulan dari 1 hingga 31. Semua terjadi begitu cepat. Sadar atau tidak sadar kita tengah membuat keputusan-keputusan sebelum ini dan tengah menjalani setiap detail konskuensi atas keputusan kita di masa lalu.

Semoga hari ini dan hari-hari kedepan, hati ini ditundukan dalam kerendahannya. Pikiran ini diredakan dari kecamuknya. Takwa ini dijaga dari lalainya. Dan iman ini tetap seperti awalnya aku mengabadikan diri dilahirkan kembali.

Pada saat ini, saya harus mampu menahan emosi, dimana  ketika kita berhak marah namaun kita bisa menahannya  itu lah hal yang sangat ajaib dan keren.

Atas nama segala titik-titik hati yang pernah terlukai, sekiranya saja maafku mencukupi walau tidak pasti mampu mengobati. Teruntuk rumah yang pada akhirnya justru aku lewati dan aku tiadakan, semoga akan kautemui penghuni lain yang lebih baik lagi untuk hidup didalam rumahmu.

Saat ini pula, Aku harus mendidik diriku sendiri. Karena aku ingin mendidik lebih jauh sebelum ada yang dilahirkan wahai calon anak-anakku dimasa yang akan datang.

Disaat aku meraskan kepedihan pada masa itu ada sesuatu hal yang sangat aku pendamkan yaitu salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup  saya adalah selalu hidup dalam rasa kekecewaan dimana pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah, sampai diri kita terasa lemah dan harus bangkit kembali memberontak yang hal-hal yang tidak wajar, yang tidak disadarinya.

Sampai saat ini "Terkadang aku merasa amat takut. Adakah langkah yang bisa kita ambil untuk berdamai dengan singkatnya kehidupan ?” Dengan mendamaikan diri kita sendiri.

Tiga kali sudah Ramadhan berkah  yang sdh aku jalani, semoga Ramadan Berkah tahun ini diberi kesehatan dan kelancaran segala urusan baik kita semua. 

Saya berkata dan bersiskusi dengan ati saya sendiri, Sabar ya, Hatiku hanya cukup ikhlas. Saya hanya cukup menarik nafas lebih panjang. Bahwa Semua akan baik baik saja, psaya meyakinkan diri saya untuk tetap percaya. Percayalah, Allah itu Maha Baik.  Allah tau betul apa yg sedang aku rasakan. Sebenarnya Tak perlu saya jelaskan, Allah pasti  sudah tau. Tak perlu juga saya jelaskan kepada manusia tentang apa yg aku harapkan  yang tak pernah kau dapatkan, karna bisa saja mungkin malah membuat  sakit hati.

Saya hanya bisa dengan senyuman yaa, dunia kadang tak sebaik yg sya kira dengan orang orangnya.  Perlakukanlah setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat yang tulus, meski mereka berlaku buruk padamu. lngatlah bahwa penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tapi karena siapakah diri kita, karena, Allah telah menciptakan dunia ini begitu indah, dengan beragam corak kehidupan.

Corak Kehidupan itu dapat dilihat dengan beragam bentuk, dunia ini sudah punya karakter masing-masing. 

"Ali bin Abi Thalib" menyampaikan hal tersebut. Aku khawatir terhadap suatu masa yg rodanya dapat menggilas keimanan Keyakinan hanya tinggal pemikiran, tak membekas dalam perbuatan.

Banyak orang baik, tapi tak berakal.

Banyak orang berakal, tapi tak beriman.

Ada lidah fasih, tapi berhati lalai.

Ada yang khusyuk namun sibuk dalam kesendirian.

Ada ahli ibadah, namun amalan bid’ah dan mewarisi kesombongan iblis.

Ada ahli maksiat, rendah hati bagaikan sufi.

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, ada yang banyak menangis karena kufur nikmat.

Ada yang murah tersenyum, tapi hatinya mengumpat.

Ada yang berhati tulus, tapi wajahnya cemberut.

Ada yang berlisan bijak, tapi tak memberi teladan.

Ada pezinah yang tampil jadi figur.

Ada orang punya ilmu tapi tak paham,

Ada yang paham tapi tak menjalankan.

Ada yang pintar tapi membodohi.

Ada yang bodoh tapi tak tahu diri.

Ada orang beragama, tapi tak berakhlaq, begitu juga sebaliknya ada yang berakhlaq tapi tak bertuhan.

Aku fun diam sejenak merenungi dirku sendiri.

Diantara semua itu, dimanakah aku berada ?!

Karena suatu saat nanti  saya berkeyakinan, bahwa  sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Terima kasih, hidup. Kamu selalu datang di saat yang tepat untuk menyuntikkan candu pada batin dan niatku. Tidak sedetik lebih lambat, tidak juga lebih cepat. Besok aku akan berguru padamu!

Hai Kebaikan, Hai Kedamaian, Wahai ketentraman, Aku menyebutmu sebagai rumah, bukan tempat singgah. Kamu menyamankan, mengamankan dan menyenangkan bagi hidupku. Kamu adalah alasan dibalik segala kehidupanku. Melewati hari-hari sulit, dengan menemukanmu ada disana saja sudah meringkankan bebanku meski hanya sedikit. Menghabiskan berjam-jam dalam diam atau percakapan yang tak kenal pemberhentian adalah beberapa hal-hal yang tak pernah bisa kutolak darimu.

Terlalu tinggikah jika bahagia yang paling sederhana buatku itu adalah kedamaian?, kebaikan?, dan ketenraman? Terlalu egoiskah jika aku hanya ingin kamu, bukan yang lain?

Karena bersamamu, kesedihanku tidur dengan lelap. Di ninabobokan oleh rasa nyaman yang terlalu sulit kugambarkan dan aku ungkapkan. Senyuman dan canda tawa yang selalu aku tebar, sudah memasuki dosis manis yang paling kritis. Aku terlalu suka dan tak bisa kucegah untuk bersikap lebih biasa dari biasanya. Perlakuanmu, dengan manis mengubah tangis jadi tawa paling manis. Semakin hari, semakin aku dibuatmu nyaman, damai dan tentram. Aku sudah sangat bahagia denganmu, wahai Kedamaian, wahai kebaikan, wahai ketentraman.

"Seorang Lelaki yang sedang terlihat ceria itu adalah lelaki tangguh yang tiap malam tenggelam dan meronta-ronta untuk tetap bisa hidup menyentuh danbmenggapai kedamaian, kebaikan dan ketentraman baginya. Tanpa seorangpun yang tahu, bahwa lelaki itu tiap malam berjuang sendirian, tenggelam di samudra yang luas berenang dengan semampunya dan menempuh jalan yang sangat terjal demi mencapai impiannya."

Sesampainya di pagi hari akan terlihat kembali suasana hari yang terang benderang, dan melihat aktivitas yang beragam. Kita semua sudah terbiasa menggunakan standar yang berbeda melihat orang lain dan memandang diri sendiri, terlihat juga didalam kehidupan kita ada orang lain yang selalu menuntut diri kita dengan serius, namun  tidak pernah memperlakukan dirinya sendiri dengan penuh toleransi.

Marilah kita memulai untuk berhenti memainkan peran KORBAN, dan mulai memainkan peran PEMENANG.

Saya harus keluar dari comfort zone saya memahami bahwa selalu ada langit di atas langit. Dan belajar sesuatu yang baru dengan posisi sebagai anak bawang, bisa jadi sangat menyenangkan. Jadi mari bicara tentang mengosongkan gelas. Tentang keikhlasan untuk lebih banyak mendengar dari pada bicara. Tentang keberanian untuk hidup di kehidupan yang kita bayangkan. Karena bahagia, kita sendirilah  yang menciptakannya.

Jangan selalu memasang muka Cemberut , apalagi itu sering, harusnya Anda sadar mungkin Senyum Anda itu manis, membuat orang bahagia, menenangkan, memberi kedamaian dan mungkin Jodoh Anda hadir karena dia tau betapa manisnya senyum Anda. Rubahlah Cemberut, karena senyum Anda akan menaklukkan dunia.

Kalau kita menyerah hari ini, lantas siapa yang akan membungkam segala caci maki mereka nanti? Siapa yang akan membuktikan bahwa cemoohan mereka itu salah? Siapa yang akan membuat mereka diam ketika mereka dengan bebas mengatakan bahwa saya bukanlah orang yang tepat dalam bidang ini?

Menyerah dan berhentilah hanya ketika kau sudah selesai. Bukan ketika sedang berjuang di tengah-tengah. Kalau kau berhenti sekarang, maka itu mengartikan seluruh perkataan mereka yang merendahkan itu benar. Kau tidak bisa, kau payah, kau tak sanggup bertahan.

Selama kau nyaman di tempat ini, selama kau merasa bahagia di tiap pagi, tetaplah berjuang sekuatnya. Jangan berhenti hanya karena hasilnya masih sedikit. Semua butuh waktu. Jangan hanya karena orang lain sudah lebih dulu ‘Besar’ maka kita jadi berkecil hati dan merasa apa yang dikerjakan sekarang itu ‘Kecil’.

Selama kita bahagia dengan apa yang kita kerjakan sekarang, percayalah suatu saat itu akan menjadi besar. Jika tidak besar bagi mereka, setidaknya itu besar bagi dirimu sendiri.

Orangtuaku pun berkata, Kamu akan menjadi Manusia(Dewasa) anakku! 

Jika Kamu kuat mendengarkan kebenaran,lalu omonganmu diputar balikan oleh orang yang ingin menjatuhkanmu, Atau melihat hal-hal yang kamu susun dalam hidupmu hancur, kemudian kamu bangkit dan bangun kembali dari puing-puing kehancuran itu; maka kamu pun akan jadi seseorang yang tangguh dan kuat.

Pribadi yang kuat dan kokoh saya tidak pernah mengukapkannya dengan nyata, karena aku lebih menyukai tulisan untuk tempat ku mengungkapkan apa yang akurasakan, dan emosionalku pun aku ungkapkan didalam tulisan, memang orang menganggap bahwa aku bukanlah orang yang tegas, namun ketegasan yang aku punya akan dibaca melalui tulisanku.

Menulis adalah cara yang dipakai hati ketika mulut menolak untuk berbicara. Bukan diri tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan secara lisan, namun beberapa orang menulis karena tahu lisannya tak akan didengar.

Apakah kau akan mendengarkan jika aku menjelaskan tentang apa yang sedang kurasa? Atau lebih tepatnya, apa kau akan peduli? 

Menulis adalah cara orang-orang melarikan diri. Dari dirinya sendiri. Tentang betapa hatinya ingin berteriak, namun kepala enggan melepaskan.

Menulis adalah cara orang-orang menangis. Menangis tanpa air mata. Tanpa suara. Namun maknanya lebih dalam dari teriakan-teriakan angkuh yang minta untuk didengarkan oleh telinga.

Menulis adalah cara orang-orang beristirahat. Dari beratnya memikul beban muka yang ditunjukkan pada dunia. Dari senyum palsu yang menutupi luka. Dari semua tawa bahagia, yang ada air mata di baliknya.

Lewat menulis, kau membuat dirimu bebas berbicara tanpa harus berkata. Bebas mengutarakan tanpa butuh didengar. Puas melampiaskan tanpa harus mengacungkan tangan.

 

  • view 276