BINAR^^

Hitari Senja
Karya Hitari Senja Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 30 Mei 2016
BINAR^^

Senja yang kala itu memayungi langit soreku. Bernyanyikan klakson-klakson mobil, bus, angkot, dan juga motor. Juga, dihiasi dengan asap-asap kendaraan yang sedang mengantri untuk menunggu gilirannya berjalan. Beginilah suasana yang sering terjadi di sekitar Terminal Pakupatan, Serang-Banten. Aku, ditemani dengan langkah kakiku yang pasti, menyusuri setapak demi setapak perjalanan menuju suatu tempat penuh impian dan harapan. Tempat dimana aku merasa paling beruntung. Suatu tempat dimana terdapat bocah-bocah kecil dan remaja yang selalu semangat untuk belajar dan bermimpi. Ku menyebutnya Saung Binar Baabsa (Bimbingan Anak dan Remaja Baabussalam).

            Di tempat itu aku berbagi ilmu. Namun, aku tak sendiri. Ada banyak rekan yang juga sama dengan ku, membagikan ilmu dan juga menyalurkan hobi untuk mendidik dan mengajar. Kami tergabung dalam sebuah salah satu departemen yang ada di LDK Baabussalam Untirta (UKM ter-keren di Untirta), yaitu Departemen Peduli. Peduli lah yang menjadi the founder salah satu program kerja terbaik kami, yaitu BINAR (Bimbingan Anak dan Remaja).

            Aku menyebutnya Saung Binar Baabsa karena tempat kami melakukan BINAR dekat dengan rumah-rumah mereka yang nampak seperti saung. Tempat itu adalah TPA (Taman Pendidikan Alqur’an) yang terletak di belakang Terminal Pakupatan. Sengaja kami memakai TPA itu karena merupakan tempat yang tidak hanya nyaman, tapi juga strategis, yang terletak dekat dengan rumah-rumah mereka. Sehingga mereka bisa terus mengikuti BINAR.

            Dari tadi aku menyebut-nyebut kata ‘mereka’. Sebenarnya ‘mereka’ itu siapa siiihh??

            Mereka adalah bocah-bocah kecil dan remaja yang tinggal di belakang Terminal Pakupatan. Mereka adalah anak-anak kurang mampu, yang beberapa dari mereka bekerja sambilan sebagai pemulung setelah pulang sekolah. Alhamdulillah, mereka semua bersekolah. Kebanyakan dari mereka adalah murid-murid SD, dari kelas 1sampai 6, dan ada beberapa yang sudah SMP. Mereka tinggal di bekas ruko. Ruko-ruko yang sudah tidak terpakai lagi itu, disulap menjadi rumah. Rumah yang menjadi saksi impian-impian besar mereka. Wajah ceria dan polos yang setiap Selasa sore mereka tunjukkan, sungguh melukiskan keoptimisan. Keoptimisan bahwa mereka pasti bisa menjadi sesuatu yang mereka impikan.           

            Berlanjut ke cerita di kala senja tadi.

                Langkah pasti yang menemani hingga akhirnya aku sampai di Saung Binar Baabsa. Sempat sedikit kecewa karena keadaan TPA yang masih kosong dengan pintu terbuka lebar. Segera, ku ajak langkah kaki ini untuk menghampiri anak-anak BINAR ke rumahnya masing-masing. Dan, langkahku terhenti di rumah yang pertama, rumah Dede, Desi, dan Euis. Sungguh, kebahagiaan yang tak bisa terlukiskan ketika mereka menyambut riang sambil berlari menghampiri dan berteriak memanggilku. “Tetteeeeeehhhhh..” Menyambut uluran tanganku dan menciumnya dengan tulus. Lalu ditengadahkannya kepala mereka ke arah wajahku sambil tersenyum malu. Senyum khas mereka yang selalu saja berhasil membuatku jatuh cinta. Senyum yang selalu saja membekas di hati hingga pulang. Membuatku tak pernah merasa lelah jika sudah berada di tempat itu.

                Ku duduk di bangku kayu sederhana yang terletak tepat di depan rumah Dede, Desi, Euis, dan Yepi. Seisi rumah menyambutku hangat, sehangat teh yang mereka sajikan untukku. Ketika sedang asyik berbincang dengan salah satu kakak dari Desi, Dede, Euis, dan Yepi, rekan yang sekaligus kakak tingkatku, Teh Gina, datang dengan wajah yang sumringah. Masih sama, mereka menyambut Teh Gina dengan wajah yang ceria lalu mencium tangannya. “Wah, apa kabar adek-adek?”, the Gina menyapa. “Baik teh, tapi Desi lagi sakit.”, jawab Dede.  “Iya teh, Desi lagi masuk angin. “, aku menambahkan. Dan percakapan itu pun terus berlangsung, hingga akhirnya aku dan teh Gina memutuskan untuk berkeliling, mencari anak-anak BINAR untuk diajak belajar. Maklum, mereka masih anak-anak, dan tingkat keinginan untuk bermain sangat tinggi, sehingga untuk belajar mereka harus di motivasi terlebih dahulu.

                Usaha kami memperoleh hasil. Kami temukan Febri, Apip, Sarguna, dan Toto sedang asyik mewarnai gambar kartun di depan rumah Sarguna. Kami hampiri mereka dan segera mengajak mereka ke TPA untuk belajar. Mereka menanggapi sambil terus mewarnai. Febri merengek agar belajar hari ini adalah menggambar dan mewarnai. Toto, Sarguna, dan Apip pun mendukung Febri. Dan apa mau dikata, kami hanya mengatakan “yak, ayo tenang aja, makanya cepet langsung ke TPA. Okay.” Dan mereka pun menjawab, “okay teh, tenang aja.” Dasar anak-anak.

                Teh Gina dan aku pun pergi lebih dulu ke TPA. Sesampainya di TPA, ku terkejut, melihat Dede yang sedang menyapu lantai dan terlihat meja-meja kecil sudah tersusun dengan rapi. “Subhanallah, Dede rajin banget.” Pujiku pada Dede. Memuji anak yang sedang atau sudah melakukan pekerjaan yang baik sangat penting bagi perkembangan emosionalnya. Karena dengan dipuji, ia jadi tahu bahwa pekerjaan yang dilakukannya adalah baik, sehingga ia akan melakukannya lagi. Begitu kata dosen ku. Dan mendengar pujianku, Dede hanya tersenyum sambil menatapku.

                Kemudian, Febri dan kawan-kawannya datang. Tak lupa mereka mengucapkan salam, dan mencium tangan aku dan Teh Gina. Lalu, menempati meja kecilnya masing-masing. Belajar kali ini dipimpin oleh Teh Gina. Ia berencana untuk memberikantraining motivasi kepada anak-anak agar mereka menyukai pelajaran yang tidak mereka sukai. Diawali dengan doa surat al-fatihah dan doa belajar, kegiatan BINAR pun dimulai.

                Setelah aku selesai mengabsen mereka, tiba-tiba Ocha datang. Aku meminta Ocha datang karena agar belajar hari ini menjadi lebih seru. Semakin banyak tenaga pembimbingnya, semakin semangat juga anak-anak Binar untuk belajar. Tak lama setelah Ocha datang, Tiba-tiba ada sesosok laki-laki yang mukanya tak asing masuk ke dalam TPA. Dengan sok tahunya diriku, aku menebaknya kalau dia adalah Danar. Namun, tebakanku salah. Ternyata laki-laki itu adalah Faisal, anggota LDK Baabussalam yang baru masuk di tahun 2012 ini. Selidik punya selidik, ia tetarik dengan Departemen Peduli dan ingin menjadi bagian darinya. Subhanallah, tahun 2012 ini hampir semua kader 2012 tertarik ingin masuk Departemen Peduli. Semoga Peduli kedepannya semakin lebih baik dan lebih peduli kepada sesama. Semangat peduli J

                Faisal dan Ocha pun diperkenalkan oleh Teh Gina. Mereka berdua terlihat senang berhadapan dengan anak-anak BINAR. Nampak pada ekspresi wajah mereka yang sumringah saat memperkenalkan diri di hadapan mereka dan kemudian disambut meriah oleh anak-anak.

                Setelah perkenalan itu, Teh gina segera melanjutkan pembelajaran. Sebelum sampai pada materi inti, Teh Gina memberikan brain storming dengan menanyakan pelajaran yang disukai dan tidak disukai serta makanan yang disukai dan tidak disukai kepada masing-masing anak.. Semua anak menjawab dengan penuh antusias. Ada yang suka pelajaran matematika, agama islam, IPA, dan bahkan Pkn. Makanan kesukaan mereka pun beraneka ragam, ada yang menyukai pizza, burger, nasi goreng, ayam goreng, dan makanan enak lainnya. Kemudian, sesuai dengan tujuan awal bahwa ia ingin memberikan training motivasi, disuruhnya anak-anak untuk menutup mata dan membayangkan pelajaran yang tidak disukai sambil memakan makanan yang disukai. Sayangnya, mungkin karena konsentrasi anak-anak itu belum terlalu jauh tingkatannya, tujuan training motivasi agar pelajaran yang tidak disukai menjadi disukai, sepertinya gagal. Karena semua anak malah lebih membayangkan pada makanan lezat yang mereka sukai. Hingga Mahesa pun berkata, “sampe ngiler ni, teh, ngebayangin pizza”. Sontak tawa pun pecah memeriahkan susasana.

                Mensisasati hal itu, Teh Gina segera membagi kelompok berdasarkan tingkatan kelasnya. Lalu mereka diinstruksikan untuk menggambar kaligrafi (bagi yang bisa) atau apapun. Mendengar hal tersebut, semua anak bersorak riang, karena menggambar dan mewarnai adalah kesukaan mereka. Lalu, tanpa ba-bi-bu lagi, dengan buku gambar, pensil, dan pensil warna, mereka segara menggambar. Pada saat itu yang hadir hanya sepuluh orang. Yang lainnya, berdasarkan info dari anak-anak, sedang sekolah agama dan ada juga yang tidak masuk tanpa alasan yang jelas. Namun, walaupun hanya sepuluh orang, tapi tetap saja BINAR selalu seru dan menyenangkan.

                Kebanyakan dari mereka menggambar kaligrafi, dan ada juga beberapa yang menggambar rumah, kupu-kupu, dan gunung. Semua anak terlihat sangat serius. Lukisan-lukisan yang tercipta, asli dari tangan-tangan kreatif mereka, sungguh sangat berharga. Terdapat makna yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata dari setiap goresan pensil di atas kertas gambar itu. Di sana terdapat asa dan mimpi. Lukisan-lukisan anak Binar ini menjadi cerminan betapa sangat kreatifnya mereka. Semakin optimis, kelak mereka akan menjadi sesosok manusia gagah yang saat bertemu dengan ku atau yang lainnya nanti berkata, “teh, kak, terimakasih yaa.. sekarang saya sudah menjadi apa yang saya impikan dulu.” Subhanallah, membayangkan hal itu seketika bulu roma ku berdiri. Untungnya, air mata yang hampir sedikit lagi terjatuh di pipi, bisa dikendalikan.

                Suara anak-anak BINAR selalu saja riuh. Mereka hampir tak pernah mau diam. Sungguh anak-anak yang luar biasa. Lukisan-lukisan itu pun akhirnya menjadi bentuk yang sempurna dengan warna-warna indah yang menghiasinya. Segera Teh Gina menginstruksikan agar lukisan yang sudah jadi dikumpulkan ke depan. Sempat terpana dengan salah satu lukisan yang berlafadzkan Allah SWT. Lukisan kaligrafi itu benar-benar mencuri hatiku. Ternyata lukisan itu milik Mahesa. Anak penyuka pelajaran agama Islam itu, memang sangat berbakat dalam menggambar. Ia sangat cerdas. Bakat menggambarnya dijadikannya sebagai penambah uang jajan. Ia menggambar kartun-kartun yang umum disukai oleh anak-anak SD, lalu menjualnya seharga seratus rupiah pergambarnya. Subhanallah, semakin optimis.

                Setelah semua terkumpul, Faisal segera menilai karya-karya terbaik mereka satu persatu. Dengan harap-harap cemas, mereka menanti-nanti siapa yang akan terpilih menjadi lukisan terbaik. Akhirnya, setelah kami menimbang-nimbang dan berdiskusi, lukisan terbaik pun jatuh pada lukisan Mahesa. Segera Teh Gina mengumumkannya kepada anak-anak. “Akhirnya, pemenangnya adalaaaaahhhh… Mahesa!” Mendengar itu, semua anak bertepuk tangan riang. Tak ada wajah yang kecewa. Semuanya terlihat senang dan masih penuh dengan antusias. Mahesa pun maju untuk diberikan hadiah berupa cokelat enak. Setelah itu, kami berfoto bersama dengan pose anak-anak yang menunjukkan hasil lukisan mereka. Semuanya nampak senang. Sungguh Selasa sore yang selalu menyenangkan. Akhirnya, dengan diiringi suara adzan maghrib yang menggema, kami pun mengakhiri BINAR dengan mengucap hamdalah. Anak-anak pun mengantri untuk bersalaman dengan Teh Gina, Ocha, Faisal, dan juga aku. Satu per satu mereka hilang stelah keluar dari pintu TPA. Menghambur ke rumah mereka masing-masing untuk pulang dan segera melaksanakan sholat maghrib. Lalu, kami pun bergegas untuk menunaikan panggilan sang Illahi, sholat maghrib.

                Selasa sore. Bagiku, sungguh sore dengan senja yang selalu indah. Selalu ada cerita yang tak akan pernah ada habisnya. Kisah kami, para pejuang Peduli dan anak-anak BINAR luar biasa yang penuh dengan mimpi dan cita-cita, selalu akan terkenang sepanjang masa. Karenanya kami bisa saling berbagi, karenanya kami bisa saling bercerita, dan karenanya, kami bisa selalu bersyukur.

                Semangat PEDULI bersama Departemen Peduli LDK Baabussalam Untirta Serang-Banten.

 

Hitari Senja

  • view 167