Oh... Matematika!

Hitari Senja
Karya Hitari Senja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Mei 2016
Oh... Matematika!

Kala itu hujan turun dengan derasnya hingga menimbulkan suara berisik di dapur. Maklum, atap dapur kami dari fiber plastik, jadi tidak heran jika setiap hujan dapur kami selalu ramai. Kami berkumpul di ruang keluarga sambil berbagi cerita penuh kehangatan. Entah kenapa, suasana ketika hujan jauh lebih hangat dibandingkan hari cerah. Maka, kami gunakan suasana hangat itu untuk berkumpul dan bercerita suka dan duka. Aku dan Ibu sedang asyik mendengarkan cerita Ayah sewaktu masih muda. Cerita Ayah sangat lucu, sehingga gelak tawa selalu muncul di setiap sesi ceritanya. Namun, aneh, dari tadi tak kudengar suara Senja, adikku.  Ku ajak kedua bola mataku melihat ke sekeliling ruangan. Ternyata, ia sedang asyik dengan dunianya sendiri, yaitu mengerjakan tugas matematika di sudut ruangan.

          Di antara kami berdua, memang Senja yang sangat berbeda. Ia sangat ambisius dalam belajar. Jika PR sudah menumpuk, ia tidak akan keluar kamar seharian karena mengerjakan PR-PR itu. Bahkan makan pun, ia bawa ke dalam kamarnya. Apalagi, jika sudah bertemu dengan pelajaran yang bagiku sungguh menakutkan, matematika, ia akan nguprek seharian. Senja sangat senang sekali dengan matematika. Ia sering mengikuti olimpiade matematika dari kelas 6 SD sampai sekarang kelas 2 SMP. Mulai dari tingkat kecamatan hingga tingkat provinsi. Namun sayangnya, ia tak pernah mendapatkan gelar juara.

          Suatu hari aku mendapatkan PR matematika tentang aljabar. Aku sungguh tak mengerti dengan angka yang tadinya minus, ketika pindah ke kanan angka itu berubah menjadi plus. Jika digambarkan dalam bentuk kartun, mungkin sekarang kepalaku sedang mengeluarkan asap. Dikelilingi tanda tanya besar dan setitik cucuran keringat di belakang kepalaku. Di saat seperti itu, tiba-tiba muncul bohlam lampu yang menyala cerah. Aku baru ingat, ketika aku berulang tahun yang ke-16, Senja menghadiahi sebuah buku yang berisi rumus cepat mengerjakan matematika. Maka, dengan secepat kilat aku mencari buku itu di seluruh penjuru kamarku. Kukeluarkan semua buku dari tempat peristirahatannya. Jika buku-buku ini bisa bicara, mungkin mereka akan berbicara kalau mereka senang karena akhirnya aku membukanya. Karena selama ini, jangankan membukanya, menyentuhnya saja aku tidak pernah. Setelah pencarian selama hampir satu jam, akhirnya buku kecil biru itu pun kutemukan juga. Sungguh hati senang bukan main bagai menemukan air di tengah padang pasir yang sangat panas disaat kerongkongan mengering karena haus.

          Lalu, dengan mengucap bismillah ku buka buku biru yang berjudul “Cara Cepat Mengerjakan Matematika”. Ku baca daftar isi dengan jari telunjuk yang mencari-cari tulisan “aljabar”. “Yak, halaman 20.” Aku berkata dalam hati. Seketika halaman 20 pun terbentang di depan wajahku dengan bertuliskan “Aljabar”. Kubaca penjelasan demi penjelasan mengenai aljabar. Dari mulai pengertian hingga contoh soal. Ketika tiba di halaman 22, mataku berbinar menemukan contoh soal yang sama dengan PRku. Alhamdulillah, ternyata buku dari Senja ini sangat bermanfaat sekali. Menyesal selama ini aku telah mehyia-nyiakannya. Tanpa ba-bi-bu lagi segera kutulis jawaban yang ada di buku biru itu. Namun, aku tak sekedar menulisnya, aku pun memahaminya terlebih dahulu. Dan sekarang kumengerti alasan angka minus yang berubah menjadi plus ketika pindah ke kanan. Yak, minus dan plus pun kini bisa kukuasai. Subhanallah.

***

          Kokokan ayam menggema menjadi alarm terbaik sepanjang masa. Semenjak Ayah memelihara ayam, aku bisa bangun subuh dengan mudah. Ayah membelinya dari seorang kakek tua yang ia temui di pinggir jalan ketika pulang ke rumah. Kata Ayah, ia sangat jatuh cinta dengan penampilan si ayam karena jenggernya yang menurutnya aneh, berbentuk inisial nama Ayah “S”. Dan memang benar, jika diperhatikan secara mendalam, jengger itu berbentuk huruf S. Ayam itu juga memiliki keistimewaan tersendiri bagiku, karena ia selalu berkokok lima menit setelah adzan subuh berkumandang. Sungguh amazing, maka aku menyebut ayam Ayah “Si Subuh”.

Setelah terbangun karena suara Si Subuh, aku bergegas menuju kamar Senja. Seperti biasa, Senja susah sekali untuk bangun subuh. Maka, beginilah tugasku, membangunkannya dengan sekuat tenaga dan pikiran. Setelah Senja terbangun, kami pun lekas ke kamar mandi untuk antri berwudhu. Maklum, kamar mandi yang ada di rumahku hanya satu. Sejurus kemudian, muncul Ibuku yang juga sudah terbangun. Ibu tak pernah membangunkan kami untuk sholat subuh. Katanya, ia tak mau membiasakan anak-anaknya bergantung kepada orang tua. Sholat adalah kewajiban, sudah sepatutnya tanpa dibangunkan pun harus bisa bangun sendiri. Ibuku menanamkan nilai-nilai agama kepada kami sejak kecil. Belajar membaca iqro’ dan Al-qur’an pun kami diajari Ibu. Memang Ibu madrasah pertamaku, pendidikan terbaikku.

Sholat subuh berjamaah yang diimami Ibuku pun usai. Kami mengambil Al-Qur’an kami untuk mengaji bersama-sama. Hari ini, sudah sampai di surat At-Taubah. Ibu membiasakan kami mengaji setelah sholat subuh selama 15 menit. Setelah mengaji arabnya, Ibu pun membahas terjemahan dari apa yang sudah kami baca hingga pukul 5.30, bertepatan dengan suara salam Ayah sepulang dari masjid. Lalu, mengaji pun diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Ayah.

***

“Assalamu’alaikum”. Terdengar suara memasuki ruang kelasku yang tiba-tiba memecah suasana gaduh menjadi sunyi. Suara itu adalah suara Pak Yusuf, guru matematikaku. Seperti namanya, beliau adalah guru yang tampan. Hampir semua siswa yang diajar olehnya ngefans dengannya. Namun, aku tidak termasuk dari siswa-siswa itu. Bagiku, beliau biasa saja, bahkan sangat menyebalkan karena cara mengajarnya yang tidak berkualitas. Membuatku semakin bingung dengan pelajaran yang sangat tidak kusuka ini, matematika. Mati-matian aku belajar, memahami kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir Pak Yusuf, tapi tak satupun yang dapat ku mengerti. Entah aku yang bodoh atau Pak Yusuf yang tidak bisa menggunakan bahasa yang lebih sederhana sehingga membuatku pusing tak karuan.

“Selamat pagi anak-anak”, Pak Yusuf membuka kelas. Lalu diijawab dengan suara serentak aku dan teman-teman sekelasku, “Selamat pagi, pak”.

“Baik, PRnya sudah dikerjakan?” Tanya Pak Yusuf sambil tersenyum.

“Sudah, Pak.” Kami menjawab.

“Bagus. Bapak percaya kalian adalah anak yang pintar. Maka, Bapak ingin ada salah satu dari kalian yang maju ke depan mengerjakan soal nomor satu. Bapak tunjuk saja ya. Hemmm, coba Hitari kamu maju ke depan.”

Bagai petir di pagi hari, Pak Yusuf memilihku untuk mengerjakan soal nomor satu. Seketika jantungku berdegup kencang tak karuan. Dengan langkah yang tak pasti, ku maju ke depan kelas, lalu mengambil spidol dan menuliskan jawabanku di papan tulis. Ku sangka, aku mendapat soal yang sulit, tapi setelah ku lihat soal yang akan ku kerjakan, hatiku bersorak riang. Jantung yang sedari tadi berdegup kencang tak karuan, kini mulai mengalun lembut bagai intrumen Depapepe yang berjudul Hi-Dattane. Mengiringiku mengerjakan soal yang sama percis dengan contoh soal yang ada di buku “Cara Cepat Mengerjakan Matematika”. Tangan ini dengan lincahnya menuliskan angka-angka minus dan plus. Mengutak-atik sehingga angka minus berubah menjadi plus ketika dipindahkan ke kanan. Higga di dapat hasil akhir 25. Yeah, Alhamdulillah selesai.

 “Pak, sudah selesai. Hasilnya 25.” Kataku pada Pak Yusuf dengan senyum mengembang.

“Wah, coba Bapak lihat dulu. Hem, gimana anak-anak, betul atau tidak?” Pak Yusuf menayakannya kepada teman-temanku setelah ia memeriksa hasil hitunganku.

“Benar, Pak. Yeeee… Hitari hebat.” Suara riuh teman-temanku memberikan pujian kepadaku.

Aku kembali ke tempat dudukku dengan hati yang suka cita dan senyum yang mengembang. Tak menyangka mengerjakan matematika itu menyenangkan. Apalagi setelah paham dengan angka minus dan plus. Dua angka yang sebelumnya telah membingungkanku. Bagiku, ini adalah suatu pencapaian yang luar biasa. Walaupun cara yang kutulis ku dapat dari buku biru pemberian Senja, tapi aku senang. Karena aku tak hanya menulisnya, tapi aku juga memahaminya terlebih dahulu.

Semenjak saat itu aku mulai meyukai pelajaran matematika. Aku baru menyadari bahwa mempelajari matematika itu mengasyikan jika kita mau menikmatinya. Dulu aku begitu malasnya membaca buku. Namun sekarang, aku mulai menikmati betapa menyenangkannya membaca buku, terutama buku biru pemberian Senja, adikku. Buku biru yang berisi rumus cepat mengerjakan matematika menjadi buku favoritku sekarang. Buku biru itu berhasil membuatku jatuh cinta dengan matematika. Karenanya, aku bisa berkenalan dengan angka plus dan minus. Hingga akhirnya, kini aku mulai mengerti dan memahami si angka plus dan minus. Mereka adalah angka yang berlawanan. Angka plus berada di sebelah kanan dan angka minus ada di sebelah kiri. Masya Allah!

 

***

“Kak Hitari, lagi ngapain?” Tiba-tiba Senja mengahampiriku sambil bertanya ketika aku sedang asyik mengutak-atik PR matematikaku.

“Lagi ngerjain PR matematika ni. Coba sini Nja, bantuin kakak. Kan katanya kamu jago tu matematikanya.” Ledekku pada Senja.

Wedeew, soal apaan sih kak? Aljabar, bangun datar, bangun ruang, semuanya bisa aku kerjain.” Jawab Senja dengan nada sombongnya.

“Hem, tentang apa ya? Mau tau banget ya? Hehehehe..”

Dari percakapan itu, aku bertanya banyak tentang matematika pada Senja. Senja pun menceritakan banyak hal tentang keluarbiasaan matematika, tentang asyiknya dunia matematika, tentang kenikmatan memecahkan soal matematika yang sulit, dan segalanya tentang matematika yang tidak kuketahui sebelumnya. Baru kusadari, itulah mengapa Senja selalu asyik dengan dunianya sendiri ketika mengerjakan matematika. Saking asyiknya hingga cerita Ayah sewaktu muda pun ia lewatkan hanya untuk mengerjakan PR matematikanya. Oh, matematika.

Senja pun menceritakan alasannya menghadiahiku buku biru yang berisi cara cepat mengerjakan matematika. Ia bercerita bahwa buku itu didapatnya ketika berkunjung ke toko buku favoritya “Math is Fun” –– toko yang berisi berbagai macam buku tentang matematika, mulai dari aljabar, logaritma, trigonometri, bangun ruang, bangun datar, dan banyak lagi. Ketika itu ia tidak berniat untuk membelikanku buku biru itu. Ia hanya berniat untuk berjalan-jalan melepas penat. Namun, ketika ia menemukan sebuah buku berwarna biru dengan bertuliskan angka 10 di sampul depannya, ia jadi teringat ulang tahunku. Tanggal 10 adalah ulang tahunku dan biru adalah warna kesukaanku. Maka, tanpa membuka isi dari buku itu, ia segera mengambilnya dan membawanya ke kasir untuk membelinya.

Mendengar cerita itu, aku sugguh sangat terharu. Begitu perhatiannya adikku ini padaku. Dan apa yang aku lakukan pada buku itu? Aku malah menaruhnya sia-sia. Tidak kupandang bahkan tidak kubaca sedikitpun. Hanya ketika membutuhkannya saja, buku itu aku cari-cari hingga satu jam lamanya. Oh, matematika. Tidak hanya menyadarkanku akan sebuah pentingnya membaca, tapi juga pentingnya makna kasih sayang.

Kala itu, di senja nan indah, Senja sedang asyik duduk di meja belajarnya. Ditemani sinar jingga yang menyorot menembus kaca jendela kamarnya. Mentari mengintip malu dari balik awan yang mulai kejinggaan, bersiap untuk menjemput bulan. Aku, di balik jendela kamarku, memperhatikan langit sore itu. Memandangi awan jingga yang membentuk huruf “M”. Ya, “M” untuk Matematika. Oh, matematika…

 

Hitari Senja

Gambar diambil dari Google.

  • view 173