Salah Satu Bukti Cinta

Hitari Senja
Karya Hitari Senja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Mei 2016
Salah Satu Bukti Cinta

Awal bulan adalah hari yang mungkin ditunggu-tunggu oleh sebagian pekerja, karena tepat di awal bulan sang pemilik perusahaan akan memberikan hasil jerih payah yang telah dilakukan karyawannya selama 1 bulan. Ada yang diberikan langsung, dan ada juga yang dikirim via transfer ke bank.

Hari ini, tepat tanggal 1 Maret 2016 menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh seorang gadis manis yang berwajah ceria. Ia sudah mengawali hari ini dengan senyum penuh kegembiraan. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari dimana penghasilannya selama sebulan sudah singgah di dalam rekeningnya.

Setelah jam mengajar selesai, ia dengan segera meminjam Hamasah (red: nama motor) untuk dikendarai menuju sebuah tempat perbelanjaan yang di dalamnya terdapat ATM salah satu bank syariah, yaitu tempat dimana penghasilannya menunggu untuk diambil.

 

                                                               ***********

“Tanggal 1 sebentar lagi.. Berarti gajian dong..” Batinnya di dalam hati di kamar.

“Inget, bulan ini harus sisain uang buat Palestina, bayar hutang, dan beli buku di IBF!” Imajinasi menari-nari membagi-bagi uang penghasilannya.

Karena menurutnya harus segera dicatat, maka ia pun mengambil handphonenya  untuk menuliskan perkiraan uang gajian yang akan dipakai. Setelah menuliskan secara rinci pemasukan dan pengeluarannya dalam catatan handphone, ia terbelalak. Ia hanya mendapatkan seratus empat puluh sembilan ribu rupiah selama satu bulan ke depan. Namun, Ia tak bergeming. Tetap bismillah, kalo rizki itu dari mana saja. 

                                                         ******

Tepat lima belas menit, sang gadis yang bernama Kemuning ini sampai dengan selamat di salah satu tempat perbelanjaan. Segera ia mematikan Hamasah dan menggantungkan helm yang berwarna biru di spion sebelah kanan, kemudian dengan pasti masuk ke dalam tempat perbelanjaan itu. Ketika di dalam, langkahnya tanpa ba-bi-bu menuju ATM salah satu bank syariah. Sesampainya di ATM, segera Kemuning mengambil kartu ATM nya yang berada di dalam dompet, kemudian memasukkannya ke dalam ATM. 

Langkah pertama yang Kemuning lakukan adalah mentransfer sebesar Rp. 500.000 ke rekening Komite Nasional Rakyat Palestina (KNRP).  Kemuning sudah berjanji beberapa bulan yang lalu untuk membantu saudara-saudara muslim yang berada di Palestina. Akhirnya, di bulan Maret inilah Allah memberinya kesempatan bersedekah untuk negerinya para Nabi, yaitu Palestina.

Kemudian langkah yang kedua, Kemunging menekan angka-angka yang menjadi jumlah uang yang akan ia ambil. Setelah sejumlah uang keluar dari mesin ATM, Kemuning segera menyudahi transaksinya dan segera meluncur pulang. Sebelum sampai di rumah, Kemuning menyempatkan untuk membeli makanan sebagai oleh-oleh untuk keluarganya dengan sisa uang yang ada di dompetnya. Kemudian, bergegas menuju rumah.

Sesampainya di rumah, Kemuning menjumpai Ibunya dan memberikan oleh-oleh yang dibawanya. Ibunya sangat senang sekali. Tak lama kemudian, Dua adiknya sudah menyerbu makanan sampai ludes.

****

Setelah bersih-bersih dan sholat, Kemuning duduk di ruang televisi sambil meneguk secangkir kopi. Kemudian datang Ibunya dan mengajaknya mengobrol.

“Ning, udah gajian belom?”, Tanya Ibunya.

“Udah. Sebentar ya, Bu, Kemuning ambilin.” Kemuning menjawab. “Ini, Rp. 800.000 aja yaa..”

“Waahhh, Alhamdulillah. Terimakasih, Ning.”, Sang Ibu sangat bahagia menerima uang pemberian Kemuning. Bahagianya Nampak pada wajahnya yang tak henti-henti menyungging senyuman. Kemudian Ibu berkata lagi, “Ini buat bayar les adikmu, Rinto. Sisanya buat bayar hutang Ibu.”

Kemuning hanya menjawab, “Iya”. Kemudian melanjutkan, “Bu, uang Kemuning tinggal 200.000 di rekening karena buat nyumbang Palestina, bayar utang, dan beli buku nanti d IBF.”

Sang Ibu tiba-tiba mengerutkan dahi dan berkata, “Berapa nyumbang buat Palestina?”

Kemuning menjawab, “Lima ratus ribu.”

“Wah, banyak banget si, Ning. Dikit aja sisanya buat Ibu.”, Ibunya protes.

“Bu, in sya Allah, uang lima ratus ribunya akan diganti sama Allah swt yang lebih baik. Lagian, kalau kita bersedekah untuk Palestina, itu sama aja dapat pahala sholat di dalam Masjidil Aqso. Itu kata Syeikh Palestina yang waktu itu datang ke sekolah. Tenang aja.” , Kemuning panjang lebar menjelaskan.

Yo wis-lah, terserah kamu.” , Ibunya membalas singkat.

Setiap bulan, Kemuning biasa menggunakan penghasilan bulanannya untuk diberikan kepada Ibu dan adik bungsunya, membayar hutang, membeli oleh-oleh untuk keluarga, dan membeli kebutuhan hidup selama satu bulan. Sehingga, uang yang tersisa dari penghasilannya masih bisa disimpan sebagai tabungan. Namun, untuk bulan ini, Kemuning menggunakan sebagian uangnya untuk Palestina dan beli buku di IBF, maka sisa penghasilannya pun menjadi sedikit. Oleh karena itu, Ibunya protes ketika Kemuning memberikan uangnya untuk Palestina.

Ibunya Kemuning merupakan salah satu dari sekian Ibu-Ibu yang masih harus banyak belajar tentang Islam. Maklum, sedari kecil, Ibunya bersekolah di sekolah Kristen karena pada saat itu orang tua Ibunya tidak punya biaya. Sedangkan di sekolah Kristen itu gratis bagi anak-anak yang tidak mampu, termasuk anak tidak mampu dari muslim.

Sebagai seorang anak, Kemuning ingin menjadi investasi terbaik bagi kedua orangtuanya. Caranya, kemuning sedikit demi sedikit berusaha untuk menumbuhkan jiwa keIslaman Ibunya melalui dakwah-dakwah di keluarganya. Sedikit demi sedikit dipahamkan tentang sholat, menutup aurat, dan mengaji. Alhamdulillah, kini Ibunya sudah rajin sholat, memakai kerudung, dan bisa mengaji iqro’.

                                                               ****

Hari-hari di bulan Maret pun berlalu. Kemuning sempat bingung, bagaimana ia membeli kebutuhannya di bulan Maret? Hanya tersisa lima puluh ribu di dompet, sementara tanggal satu April masih lama sekali, kira-kira 2 minggu lagi.

Namun ia teringat kata salah seorang ustadz, “Rizki itu bukan soal berapa, tapi soal rasa.”

Rizki bukanlah dilihat dari jumlah uang yang dimiliki, apalagi gaji. Dan uang gajian habis juga bukan untuk berhura-hura tapi untuk kebaikan. In sya Allah, Allah Maha Pemurah, pasti Allah kasih rizki darimana saja. Hatinya membatin sendiri, sambil menghibur diri.. Kalimat terakhir sebagai hiburannya, “Tenang, masih punya Allah swt..”

Tak lama setelah Kemuning menyerahkan segala rizkinya kepada Allah swt, Kemuning mendapatkan tawaran untuk menjadi pengawas ujian sekolah di salah satu sekolah ternama di kotanya. Sebelumnya, Kemuning tak pernah berpikir tentang uang yang akan didapatkannya dari mengawas. Yang ada dipikirannya adalah menjadi pengawas adalah salah satu rizki Allah yang tak disangka-sangka karena bisa merasakan duduk bersama dengan guru-guru yang dahulu pernah mendidiknya. Sungguh suatu kenikmatan bagi Kemuning bisa bersilaturahim, bersalaman, dan tersenyum manis kepada guru-guru yang sudah banyak berjasa kepadanya. Guru-guru yang dahulu menyumbangkan uangnya untuk membantunya membayar uang kuliah pertamanya. Sungguh rizki yang berharga.

                                                               ******

Seminggu pun berlalu. Tibalah di penghujung hari mengawas. Setelah mengawas pelajaran terakhir selesai, panitia Ujian Sekolah segera menggelar rapat penutupan.

Dalam rapat itu, sang waka kurikulum berkata, “Terimakasih kepada para pengawas yang sudah seminggu ini menjalankan tugasnya dengan baik, sehingga ujian dapat berjalan dengan lancar. Kemudian, untuk pengawas, sudah disiapkan hasil jerih payah sebesar Rp. 780.000, yang di dalamnya terdapat uang mengawas, konsumsi, dan transportasi.”

Mendengar kalimat itu, hati Kemuning berdesir. Jantungnya berdegup kencang, dan matanya berkaca-kaca, teringat akan Allah swt.

“Masya Allah, betapa janji Mu benar. Engkau beri ganti rizki yang lebih setelah hamba memberi. Sungguh, kini aku bisa merasakan nikmatnya menjadi salah satu bukti janjiMu..” , batin Kemuning di dalam hati. Kemuning tak henti-henti mengucapkan hamdallah dalam hatinya.

Amplop coklat pun kini ada di tangannya bertuliskan tujuh ratus delapan puluh ribu rupiah. Sungguh, Allah maha menepati janji. Sekali lagi, Allah menepati janjiNya. Rp. 500.000 yang diberikan untuk Palestina, Allah ganti dengan Rp. 780.000. Kini Kemuning mendapatkan kelebihan rizki dari Allah swt sebesar Rp. 280.000. Masya Allah.

Beginilah janji Allah dalam firman-Nya:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al – Baqarah : 262).

  • view 85