Jam Malam di Dunia Maya

Hitari Senja
Karya Hitari Senja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Mei 2016
Jam Malam di Dunia Maya

“Kita tutup dengan membaca doa kifaratul majelis dan istighfar sebanyak-banyaknya.” Seketika suasana menjadi hening sejenak. “Wabillahitaufik walhidayah wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.”

Bang Farid menutup syuro tepat pukul setengah enam. Syuro kali ini lebih cepat dari biasanya. Segera aku beranjak pergi meninggalkan ruangan syuro bersama dengan yang lain.

Langit mulai menghitam dan bintang-bintang pun berlomba-lomba menunjukkan cahaya terindahnya. Diiringi suara adzan maghrib yang bergema, semakin memperindah suasana petang itu. Ku percepat langkahku agar sampai ke kosan untuk segera bertemu dengan kekasihku, Allah SWT. Aku biasa menyebut ritual sholat dengan bahasa seperti itu, karena terkesan romantis. Sebagai hambaNya, terkadang perlu seperti itu, agar semakin semangat menjalankan ibadah. MengumpamakanNya sebagai kekasih bukanlah kesalahan, karena sejatinya yang harus ada di hati hanya satu, Tuhan semesta alam, Allah SWT.

Seperti layaknya seorang wanita yang ingin bertemu dengan orang tercintanya, pastilah ia memperhatikan penampilannya. Begitupun denganku. Sebelum bertemu dengan Nya, aku mandi dahulu supaya bersih dan juga wangi. Jadi, tak hanya menjaga penampilan di depan orang lain saja, tapi juga harus menjaga penampilan di hadapanNya. Allah sangat suka dengan kebersihan dan keindahan. Jika Ia tidak diperhatikan, Ia pun akan cemburu. Maka dari itu, setelah bersih dan wangi, baru ku mulai pertemuanku dengan Sang Kekasih. Sungguh nikmat dan khidmat.

Lalu, setelah asyik curhat dengan Sang Kekasih dan mengakhirinya dengan bertilawah, segera ku buka Si Putih. Si Putih adalah julukan notebook putihku yang ku beli bersama bapak dengan uang beasiswa ku. Walaupun Si Putih barang second, aku tetap senang. Karena ia ku beli dengan jerih payahku bersama dengan bapak tercinta.

Setelah kunyalakan tombol power yang ada di pojok kanan, Si Putih pun siap untuk dipakai. Aku berniat membuka facebook ku karena ingin memberi pengumuman tentang acara dan susunan kepanitiaan yang baru saja disyurokan sore tadi di grup Unit Kegiatan Mahasiswa Islam ku, yang bernama LDK (Lembaga Dakwah Kampus). Maka, segera ku pasang modem agar aku bisa menjelajah dunia mayaTak lama kemudian, modem ku sudah ter-connect, sehinggatanpa ba-bi-bu lagi aku segera surfing dengan membuka Mozilla Firefox.

Di kolom web, kutuliskan sebuah alamat yang pasti semua orang sudah mengetahuinya, ya, facebook.com, yang panggilan ngetrennya adalah ‘fb’. Beberapa detik kemudian, muncullah beranda facebookku. Sesaat ku melihat notifikasi yang berwarna merah dengan jumlah 24. Wow, banyak sekali. Ku klik angka 24 yang berwarna merah itu, lalu kubuka salah satu notifikasi yang cukup menarik bagiku. Setelah membaca sejenak komentar yang ada di statusku dan membalasnya, aku segera pergi ke grup. Hemm, langsung saja kutuliskan tanggal, tempat, dan susunan kepantiaan di kolom yang bertuliskan ‘Write something…’. Niat ku menulis ini adalah hanya untuk memberi informasi kepada anggota LDK tentang acara yang akan segera dilaksanakan beserta dengan job desk nya masing-masing. Supaya mereka bisa tahu dan berkontribusi dengan maksimal.

Aku menulis post di grup LDK pada jam setengah tujuh-an. Dan begitu aku buka lagi fb ku, setelah melaksanakan panggilan Sang Kekasih untuk sholat isya, ternyata sudah ada beberapa orang yang mengomentarti post ku. Mereka adalah teman-teman ku yang namanya ku tag dalam daftar kepanitiaan. Kulihat orang pertama yang mengomentaripost ku adalah Rani. Setelah Rani, ada lagi yang berkomentar, yaitu Reza dan Bang Didin. Aku kaget membaca komentar Bang Didin yang berisi kekecewaannya kalau selamasyuro tak pernah diajak dan bahkan tidak ada yang mengiriminya sms tentang hal iu. Karena maksud hati ingin mengklarifikasi komentarnya, jadi aku terpaksa untuk membalasnya. Pada saat itu, jam menunjukkan sudah pukul setengah delapan malam. Namun, kami terus saja saling berbalas komentar tanpa memperhatikan waktu yang semakin malam.

Kemudian komentar Rio pun muncul. Ia menegur aku dan Rani untuk beristirahat dan tidak membalas komentarnya karena sudah malam. Namun, entah kenapa, sepertinya setan terus membisiskku untuk membalas komentar-komentar itu. Hingga akhirnya, aku merasa malas karena komentar-komentar itu sudah menjurus kemana-mana dan tidak beresensi dari apa yang awalnya aku niatkan untuk mempost tulisan itu. Karena itu, ku tinggalkan grup LDK dan segera surfing ke dunia maya lainnya, yaitu google.com,yang pada saat ini baik tua maupun muda menyebutnya dengan mbah google, om google, atau panggilan unik lainnya yang tak bisa ku sebutkan satu persatu di sini.

***

Dut, dut, dut, dut..” Handphoneku bergetar, tanda alarm sedang berbunyi. Sengaja ku pilih modus getar karena audio handphoneku sudah rusak, maklum handphoneku ‘sangat mahal’. Handphoneku sebelumnya yang ku juluki Si Merah sudah dua bulan hilang dicopet orang ketika aku berada di pasar. Sangat sedih ketika kehilangan Si Merah, karena untuk pertama kalinya aku membeli Si Merah dengan uang ku sendiri. Tapi, ya sudahlah, kata Ibuku lebih baik diikhlaskan saja, mungkin belum rezeki. Semoga Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Aamiin.

Aku terbangun mendengar getaran suara alarm handphoneku. Ku lihat jam dinding, pukul 3:30 WIB dini hari. Dengan duduk bersila di atas tempat tidur, ku tengadahkan kedua tanganku sambil berkomat-kamit mengucap doa setelah tidur. Tanda bersyukur kepada Allah bahwa aku masih diberi kesempatan untuk bangun kembali setelah dimatikan sejenak atau tertidur. Kuusap kedua tangan ke wajahku sambil mengaminkan doa. Lalu, segera meluncur ke kamar mandi untuk berwudhu karena aku ingin sholat tahajud.

Dengan dibalut mukena ungu kesayangan, ku bersimpuh menyembahNya. Sungguh nikmat dan khidmat sekali bisa menghadapNya, mencurahkan segala keluh kesah, dan memohon ampunan atas dosa-dosa yang ku perbuat di hari yang lalu. Sungguh tahajud inilah moment dimana kita bisa chatting dengan Allah, Sang Kekasih sejati. Dia yang selalu mendengar, memperhatikan, menemani, dan mengawasi hamba-hamba Nya. Tiada Tuhan sesempurnaNya, yang memberikan rezeki bagi siapapun yang dikehendakiNya, dan Dia maha pengasih lagi maha penyayang.

Disaat sedang asyik-asyiknya chatting, tiba-tiba handphone ku bergetar. Kali ini bukanalarm, tapi sms. Ku selesaikan dulu chattingan kali ini dengan menutupnya dengan doarabithah, doa favoritku. Kemudian, ku ambil handphone dan membuka sms yang tadi datang. Hemm, ternyata sms dari Nur. Nur adalah teman sekamarku yang juga anggota LDK. Dia tidak menginap untuk seminggu ini karena sedang dibutuhkan oleh ibunya. Nur mengirim sms tentang rasa rindunya padaku. Duh, jadi GR ni, hehe, batinku dalam hati. Seketika, jari-jari yang sudah sangat terlatih ini menari indah, menekan tombol-tombol huruf untuk disusunnya menjadi rangkaian kata indah lalu mengirimkannya ke nomor Nur. Semoga ukhuwah ini semakin erat dan akan menjadi indah pada akhirnya.

***

Tepat pukul 7 pagi aku sudah rapih. Dengan dibalut gamis ungu favoritku dan jilbab dengan warna senada, ku siap untuk menuntut ilmu hari ini. Tetapi sebelum berangkat ke kampus, ku sempatkan untuk melaksanakan sholat dhuha dahulu sebanyak 6raka’at. Kata Ustadz Yusuf Mansyur, shalat dhuha itu adalah tanda rasa syukur karena masih diberi kesempatan untuk bisa merasakan indahnya pagi. Selain itu, sholat dhuha juga bermanfaat untuk membantu memperlancar datangnya rezeki. Maka dari itu, aku tak mau meninggalkan sholat sunnah yang satu ini. Namun, persembahan niat terbaik untuk melaksanakan sholat dhuha tak semata-mata karena itu, tapi harus diniatkan karena Allah ta’ala.

***

Okay, see you next week in midterm test. Good luck for you. Assalamu’alaikum warNurtullahi wabarakatuh.” Tutup dosen favoritku di akhir perkuliahannya. 

Writing IV menjadi mata kuliah terakhir hari ini karena mata kuliah kedua, dosennya tidak masuk. Entah ini kabar baik atau kabar buruk, tapi yang pasti teman sekelasku terlihat sumringah semuanya, termasuk aku. 

Tiba-tiba Nuri menghampiriku sebelum aku beranjak keluar kelas dan bertanya padaku, “Luna, besok kan Idul Adha, jadi kamu mau pulang ke rumah ya after this?”

“Hemmmaybe I wanna go to my kosan first, then I”ll go home. .Why?” Jawabku dengan sok berbahasa Inggris. Ya, karena aku mahasiswa pendidikan bahasa Inggris, jadi wajar jika berbicara seperti ini di kelas.

            Hemm, nothing. Okay, see uBe ready to face midterm test and happy Idul Adha. Forgive me.” Balas Nuri dengan cas-cis-cus.

            “Okay, good luck for you and happy Iedul Adha too. Yeah, I forgive you and please forgive me too if I have some mistakes.” Balasku tak mau kalah.

Setelah bercakap-cakap cas-cis-cus dengan Nuri, ku langkahkan kaki, berjalan beriringan dengan Nuri keluar dari gedung A, gedung tempat kami biasa melaksanakan perkuliahan. Tepat di samping gedung A, kami berpisah. Tak lupa sebelum berpisah, kami saling berjabat tangan dan cipika-cipiki alias cium pipi kanan dan kiri lalu mengucapkan salam. Itu merupakan kebiasaan kami, sebagai anggota LDK. Hal itu dilakukan karena selain memperat silaturahmi dan menjaga keakraban, ada hadist juga yang mengatakan bahwa jika kau bertemu dengan saudaramu lalu  berjabat tangan, maka seketika itu dosamu akan terhapuskan. Subhanallah sekali.

Ku berjalan berlawanan arah dengan Nuri. Langkah kakiku hanya tertuju pada sebuah bangunan hijau muda yang ada di belakang masjid, yaitu kosan tercintaku. Sesampainya di kosan, ku rebahkan tubuhku sejenak. Beristirahat sebelum melakukan perjalanan pulang ke rumah. Sudah tiga minggu aku tidak pulang dan kebetulan besok adalah Hari Raya Idul Adha. Hati sangat senang sekali karena pasti Ibuku sudah memasak makanan enak. Rasanya rindu sekali, jadi tak sabar ingin cepat-cepat sampai di rumah.

***

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Laaailaahaillallahuallahuakbar, Allahu akbar walillahilhamd.” 

Suara takbir menggema diseluruh penjuru desaku. Aku dan kedua adikku bersiap untuk sholat ied. Ibuku tak sholat karena sedang berhalangan, biasa wanita. Sangat senang sekali dan bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa merasakan moment Idul Adha ini. Ku berdoa semoga tahun depan, aku dan keluarga masih diberi umur panjang dan bisa berkurban. Bismillah, itu adalah cita-cita terbesarku di tahun depan. Semoga Allah memberi kekuatan agar niatku ini tak sekedar niat, tapi dapat ku realisasikan mnjadi kenyatakan. Aku merasa iri dengan teman-temanku yang sudah bisa berkurban lebih dari satu kali dengan menggunakan uang tabungannya. Karena itu, aku jadi merasa termotivasi untuk fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan. Insya Allah, jika ada niat pasti ada jalan.

***

Sholat ied pun selesailaluku lanjutkan dengan menyetrika pakaian. Setelah semuanya beres, aku bergegas untuk mengambil Si Putih yang masih ada di tas unguku. Aku inginsurfing lagi, menyelami dunia maya sambil mencari referensi untuk tugas kuliahku. Seperti biasa, sambil googling mencarireferensi tugas kuliah, ku buka facebook ku dan terlihat ada sepuluh notifikasi. Ku buka notifikasi yang mengomentari postan ku di grup LDK. Aku kaget, sudah ada lima puluhan komentar. Ini merupakan komentar terbanyak dari yang pernah ada sebelumnya. Ku baca satu persatu komentar-komentar itu. Betapa sangat menyebalkan sekali, isi komentar-komentar itu benar-benar tak beresensi. Karena ulah Bang Didin yang menulis komentar seperti itu, sehingga memancing pembaca yang lain untuk berkomentar. Ditambah lagi dengan komentar dari Bang Qory, ketua LDK saat ini. Komentar beliau berupa peringatan bahwa siapa saja yang berkomentar di atas jam 7 malam mendapat hukumanberupa hafalan surat An-Nur ayat 30 dan 31.

Sungguh kaget bukan main dan malu seketika menyergap diri ku, karena aku termasuk dari salah satu orang yang berkomentar di atas jam 7 malam. Rasanya seperti di lempari batu membaca peryataan bang Qory yang menghukumdi forum terbuka seperti itu. Aku sebel, padahal dari segi komentar tak begitu berarti, hanya waktunya saja di malam hari, tapi harus dihukummenghafal qur’an surat An-Nur ayat 30 dan 31. Pada saat itu, rasanya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Baru pertama kali ini aku dihukum dan banyak orang mengetahuinya, hanya karena komentar di jam malam. Sungguh jam malam telah membuatku dilema, kalo bahasa anak muda jaman sekarangnya itu galau.

Karena terlalu sakit hati melihat komentar itu, akhirnya ku pergi ke beranda facebookku. Tak sengaja ku melihat status Nur yang berisi tentang kepatuhan kepada pemimpinakan peraturan jam malam yang membedakan Aktivis Dakwah Kampus dengan orang kebanyakanStatus itu sungguh jleb banget di hatiku. Rasanya jodoh banget ngebaca status Nur. Aku baru engeh kalau ada peraturan mengenai jam malam. Ikhwan dan akhwat dibatasi berinteraksi baik melalui sms atau dunia maya sampai hanya jam 7 malam, selebihnya tidak boleh. Bagi yang melanggar akan mendapat hukuman. Karena hati masih galau, jadi aku komentari saja statusnya Nur dengan segala unek-unek yang ada di hatiku.

Ternyata, kegalauanku terbaca oleh Teh Zahra, mantan ketua keputrian LDK. Beliau sepertinya mengawasi setiap gerak-gerik adik-adiknya melaui dunia maya. Ini terbukti dengan datangnya sms dari beliau yang mencoba untuk menenangkan hatiku. Kata-kata dari sms beliau yang paling mengena di hatiku adalah:

Sekarang Luna sudah menjadi kakak. Seorang kakak harus menjadi contoh yang baik bagi adik-adiknya. Luna harus bijak menilai, dilurusin lagi hafalan iqobnya bukan karena iqob, tapi karena Allah, biar berkah. Ditaati ya mas’ulnya. Sungguh dibedakannya siang dan malam dalam hal berinteraksi antara ikhwan dan akhwat semata hanya usaha untuk menjaga agar hati tidak tertancap panah-panah syetan. Semoga semakin mengerti. Salam ikhtiar. Love you coz Allah.”

            Kata-kata teh Zahra sungguh bagai semilir angin sejuk di hatiku. Maha suci Allah, yang telah memperingatkan aku dengan teguran itu. Sungguh dua ayat iqob itu sirat makna dan cerita. Hingga aku menuliskannya dalam bentuk sebuah puisi.

Aku, hanyalah anak kemarin sore..

Yang baru saja ada di jalan ini, dimana hati lebih sering terluka namun sadar di akhirnya..

Hanya ia yang berniat lurus dan benar, serta komitmen yang terus diperbaharui, yang akan bertahan di jalan ini..

Aku, hanyalah anak kemarin sore..

Yang baru memahami makna sami’na wa atho’na..

Dan sekali lagi, aku hanyalah anak kemarin sore..

Yang sedang bermetamorfosa menjadi prajurit tangguh yang patuh pada pemimpinnya..

***

Kala itu, di senja yang mendung, kitab berwarna pink itu terbentang di depan wajahku. Dibalut dengan kerudung putih, ku duduk bersila sambil berkomat-kamit mengulang-ulang setiap huruf yang ada di kitab pink itu. 

“Ah, sedikit lagi!” Gumamku dalam hati. Tak putus asa hingga akhirnya, 

Alhamdulillahyes bissaaa!” Teriakku hingga membuat Ibuku menoleh heran ke arahku. Hemm, dua ayat itu. Ayat yang sirat makna dan cerita. QS. An-Nur ayat 30 sampai dengan 31.

Hitari Senja~

*Gambar diambil dari Google.

  • view 243