Ada Sayang dari Sepotong Cokelat~

Hitari Senja
Karya Hitari Senja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Mei 2016
Ada Sayang dari Sepotong Cokelat~

Semerbak harum cokelat tiba-tiba masuk ke kamarku mengusik ketenangan indera penciuman—hidung. Menerobos masuk ke goa kerongkonganku. Membuatku harus menelan air liurku karena tergiur dengan harum lezatnya. Terdengar pula suara berisik piring dan juga gelas, membuatku semakin tak sabar ingin keluar dari tempat ternyamanku. Ku matikan notebook ku sejenak. Lalu bergegas menuju dapur yang ku pikir di sanalah sumber bau dan harum itu berasal.

          Dengan berlari kecil, kususuri anak tangga. Hingga akhirnya sampai ke lantai bawah dan langsung ku ajak langkah kakiku menuju dapur sambil mengendap-endap. Ku mengintip dari belakang meja makan, dan betapa mengejutkannya. Di dapur kutemukan seorang perempuan sebayaku yang sedang menyusun cokelat-cokelat kecil di atas piring. Di sana juga ada Ibuku yang sedang menuangkan air jeruk segar ke dalam beberapa gelas. Aku sungguh penasaran dengan perempuan berkerudung panjang itu. Dari sini hanya terlihat punggungnya saja. Siapa ya kira-kira perempuan berjilbab itu? Maka dari itu, kuberanikan diri untuk menghampiri mereka dengan langkah perlahan. Seketika pikiran nakal menggoda untuk mengagetkan Ibuku. “Door…” Teriakku sambil memeluk Ibu. Lalu tiba-tiba terdengar suara kaca yang pecah. Ternyata, Ibu menjatuhkan gelas yang dipegangnya karena kaget dengan suaraku.

          “Ya Allah, Rini. Lihat akibat perbuatanmu! Gelas kesayangan mama pecah satu jadinya.” Mama memarahiku sambil merapikan serpihan kaca yang berserakan di lantai.

          “Maafin Rini, ma.. Rini gak sengaja. Kan tadi niatnya cuma iseng aja.” Aku membela diri dengan wajah memelas.

          “Tante, biar saya aja yang ngeberesin ini. Tante lanjut lagi aja menata gelasnya.” Perempuan berjilbab panjang itu berbicara sambil memegang pundak mama. Suaranya lembut sekali. Ketika aku melihat wajahnya, hem, sungguh cerah dan menyejukkan. Padahal kulitnya tak terlalu putih, tapi wajahnya bak batu pualam yang sangat indah, cerah. Seketika aku melupakan kejadian yang baru saja terjadi. Omelan mama tak kuhiraukan. Aku sudah terlalu terpesona melihat wajah nan cantik si perempuan berjilbab panjang itu.

          Tiba-tiba mama menjewer kupingku. Mungkin karena sudah sangat kesal denganku yang tidak menghiraukan perkataannya sejak tadi. Dibawanya aku dalam kamar mama dan menguncinya dari luar. Aku sungguh tak berdaya dan kesakitan. Kupingku memerah dan terasa sangat pedas. Yang bisa kulakukan hanya menangis dan berteriak-teriak mohon ampun kepada mama. Tapi mama sama sekali tidak menghiraukan dan tidak berkata apa-apa.

          Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Ku tersentak, karena ternyata aku ketiduran. Disusul suara lembut tak asing di telingaku, “Rini.. kamu bisa mendengar aku?” Suara itu, yah suara peremuan berjilbab panjang yang cantik itu. Bergegas ku turun dari tempat tidur mama lalu menuju arah pintu dan menjawab panggilannya, “Ya, aku mendengar. Tolong bilang sama mama, aku lapar. Aku ingin keluar.”

          “Ya, sebentar. Aku kesini memang ingin mengeluarkanmu.” Perempuan itu masih dengan suara lembutnya berbicara kepadaku.

          Terdengar suara kunci pintu yang dibuka. Seketika hatiku berbinar, pasti perempuan berjilbab panjang itu membukakan pintu untukku. “Krek..” Pintu pun terbuka. Sungguh bahagianya akhirnya aku bisa terbebas dari kamar mama, apalagi kini aku berada sangat dekat dengan perempuan berjilbab itu. Wajahnya begitu mempesona, cerah hingga membuatku tak berkedip beberapa detik sampai akhirnya perempuan itu memanggilku. “Hai Rini. Ini ada sepotong cokelat untukmu. Tadi kau bilang kamu lapar, kan? Nah, sekarang kamu bisa memakan cokelat itu untuk mengganjal perutmu yang lapar.” Perempuan itu tersenyum manis padaku sambil memberikan sepotong cokelat berbentuk kelinci.

          Karena saking laparnya, maka segera saja cokelat kelinci itu langsung masuk ke mulutku. Rasanya benar-benar lezat, teksturnya lembut, pokoknya yummy… Tak sadar, aku memakannya sambil memejamkan mata, begitu menghayati rasa lezat cokelat itu. Tiba-tiba tersadar dengan suara tertawa yang sangat lembut. “hehehhe…” Sontak, mukaku memerah. Tak kuasa menahan malu. Perempuan itu lalu berkata, “Rini, Rini. Kamu lucu banget. Ekspresinya kaya iklan-iklan cokelat yang ada di televisi.”

          Aku pun membela diri, “Aku kan ekspresif. Cokelatnya enak banget sih, jadi ya gitu deh. Hehehe. Ngomong-ngomong, emang ini cokelatnya buatan siapa sih?” Aku bertanya pada perempuan berjilbab panjang nan ayu itu.

          “Hem, mau tahu banget ya, siapa yg buat? Hehe.. Coba tebak aja!” Perempuan itu menggodaku. Hem, membuatku semakin geregetan untuk mengenalnya lebih jauh.

          “Iya, mau tahu banget ni, kepo ni aku. Kasih tahu dong..” Aku memelas.

          “Yang buat cokelat itu namanya Tanti.” Jawab perempuan itu.

          “Tanti??? Siapa Tanti? Kok aku baru denger namanya ya.. Dia pembantu baru di rumah ini???” Tanyaku sangat penasaran.

          “Hehehe. Tanti itu perempuan yang saat ini ada di depan kamu. Hehehe..” Perempuan itu menjawab dengan tertawa renyah. Semakin menggemaskan.

          Obrolan pun terus berlanjut hingga ku tahu bahwa Tanti adalah anak seorang tukang sayur yang setiap hari berkeliling di komplek perumahanku. Mama sengaja mengajaknya ke rumah karena Tanti pintar membuat cokelat. Mama ingin mengadakan arisan sore ini, jadi mama memanggil Tanti ke rumah untuk membuatkan cokelat-cokelat lezat berbentuk yang sangat unik. Mama sangat akrab dengan ibu tukang sayur itu, ibunya Tanti, karena beliau adalah teman mama ketika berada di bangku sekolah dasar. Pantas saja, mama sangat semangat membeli sayur ketika suara ibunya Tanti menggelegar di pagi hari, berteriak “Sayuuuuuuurrrrrr, yur, sayuuuuurrr…!!!”

“Allahu akbar, Allahu Kabar”, suara adzan dzuhur terdengar di seantero komplek hingga sampai ke rumahku. Obrolan itu pun kami pending sementara. Mengingat panggilan Allah lebih penting dari segalanya. Kami pun bergegas untuk mengambil air wudhu. Setelah itu, kami sholat berjamaah dengan Tanti sebagai imamnya di kamar mama. Sungguh indah sekali.

“Assalamu’alaikum warrahmatullah..” salam pun terucap di akhir sholat kami. Lalu menutupnya dengan berdoa. Setelah mengucap kata “amin”, tangan kami pun saling berjabat hangat, disempurnakan dengan pelukan dan kecupan di pipi kanan dan kiri kami sambil berbisik “Maaf ya atas segala kesalahan.” Alangkah indahnya. Langit kala itu berwarna biru cerah, secerah hati-hati kami yang baru saja mendapatkan saudara baru. Matahari pun merayakannya dengan terang benderangnya. Membuat hari ini semakin menggelora.

“Krek..” Tiba-tiba pintu dibuka. Mama menemukan kami dengan kagetnya. Karena setahunya, aku masih terkunci di kamar. “Kok, Tanti ada di sini? Kamu yang membukakan pintu untuk Rini?” Mama bertanya agak marah.

“Eh iya, tante. Tadi tanti merasa kasihan sama Rini, soalnya Rini terus berteriak kalau dia lapar. Jadi, Tanti ngebukain pintunya dan memberikannya sepotong cokelat. Maaf ya, tante.” Tanti merasa sangat bersalah, tampak matanya berkaca-kaca.

“Ya Allah, Tanti, tante bangga sama kamu. Itu perbuatan yang sangat mulia. Kamu anak yang baik, mirip sekali seperti ibumu yang tante kenal sejak masa SD. Ibumu tak pernah sekalipun tega melihat orang lain kesusahan. Tidak apa-apa. Tante tadi bertanya seperti itu karena ingin melihat sejauh mana kejujuran kalian. Dan kamu, Rini. Kamu harus banyak belajar dari Tanti. Mama sengaja mengunci kamu di kamar agar kamu tidak jahil lagi.

Sekarang, kamu punya saudara baru, Tanti. Bersaudaralah yang baik dengannya, karena Tanti akan tinggal di sini selama 6 bulan.” Perkataan mama sungguh menyadarkan sekaligus membuat Tanti dan aku terkejut. Mama bilang Tanti mau tinggal di sini selama 6 bulan. Untuk apa ya? Batinku dalam hati.

“Tanti harus tinggal di sini karena Ibunya harus pergi ke Malaysia, diajak temannya mama membantu usaha toko sayurannya di sana. Memang awalnya Ibumu menolak Tanti, tapi semoga saja, sepulang dari sana Ibumu mendapatkan banyak ilmu untuk berbisnis sayuran sehingga siapa tahu Ibumu bisa membuka toko sayuran juga di Indonesia.”

Mendengar hal itu, Tanti menangis. Dia hanya bisa menatap mama haru sambil berbisik lirih “terima kasih mama Rini” Melihat pemandangan itu, seketika air mataku jatuh dari pelupuk mataku, tak kuasa menahan haru.

Sepotong cokelat dari Tanti, sungguh menggugah hati. Bukan hanya mulut yang merasakan lezatnya, tapi juga hati, pun turut merasakan indahnya persaudaraan dan ketulusan yang diberikan Tanti kepadaku. Hingga akhirnya, membuahkan buah yang sangat manis, bernama ukhuwah. 

 

Hitari Senja

 

Sumber gambar di ambil dari Google.

  • view 107