And When Did You Last See Your Father?

hisyam haikal
Karya hisyam haikal Kategori Inspiratif
dipublikasikan 17 November 2016
And When Did You Last See Your Father?

And When Did You Last See Your Father?  Kapan terakhir kali anda melihat ayah anda? Kapan anda mencium tangan lelaki yang mulai keriput itu? Kapan terakhir kali anda menyentuh bahu lelaki yang hampir bungkuk itu? Kapan anda menatap sayang kepala lelaki yang penuh uban itu? Kapan anda berjalan bersisian dengan lelaki yang menjadi perantara Tuhan menghadirkan anda di dunia itu? Kapan anda pergi nonton ke bioskop bersama lelaki yang dipandangi Ibu anda dengan penuh cinta itu? Kapan anda bersepeda berdua saja dengan dia? Atau, kapan terakhir kali anda menenang lelaki yang sudah pergi itu? Barusan, hari ini, kemarin, lebaran lalu, natal tiga tahun lalu, sepuluh tahun lalu, atau anda lupa mengingatnya? Atau.... tak pernah? Atau anda terlalu sibuk untuk mengingatnya? Baiklah, silakan menyesal di sisa hidup anda.  

 And When Did You Last See Your Father? adalah judul sebuah film yang saya beli di obralan sebuah supermarket besar seharga sembilan ribu perak, ya sembilan ribu perak. Saya sedang menemani istri belanja ketika tatapan saya jatuh VCD obralan, lima ribu, sepuluh ribu, sampai dua puluh sembilan ribu. Judul film itu membuat saya terpana. Hanya dengan membaca judul itu saja, pikiran kita sudah jauh menerawang. Sangat mengagumkan cara Blake Morrison memilih judul buat memoirnya. Oh ya, film ini diangkat ke layar lebar tahun 2007 oleh sutradara Anand Tucker dari memoir Blake.

Maka saya melalui malam minggu itu bersama istri, hanya dengan biaya sembilan ribu. Sungguh kencan yang murah. Istri saya menyiapkan sekotak tissue ketika melihat judul film. Dan dia memang tidak salah. Untung saja, keremangan malam mampu menyamarkan airmata lelaki saya di hadapan istri.        

Lelaki tua itu terkapar tak berdaya menjelang ajalnya. Istrinya mengusap-usap tangan keriput sang suami sambil menahan derasnya airmata. Di sisi lain tempat tidur, berdiri tegak lelaki muda, matanya  menerawang. Blake Morrison, nama sang lelaki muda, punya beribu kenangan bersama lelaki yang tengah sekarat itu, ayahnya. Celakanya, sebagian besar di antara kenangan itu tak menyenangkan.

Sang Ayah, Arthur, punya anggapan profesi yang paling mulia dan menjanjikan hanyalah dokter. Blake punya hobi menulis, sastra adalah dunianya. Suatu kali karya Blake memenangkan  penghargaan. Pada malam penganugerahan, sang ayah mengangkat piala anaknya sambil berteriak sinis, “Hahaha, plastik.... ”. sakita hati sang anak tak tertahan. Lelucon semacam ini memang seperti ini memang sudah jadi kebiasaan sang ayah, sejak sang anak kecil hingga mandiri dan dewasa. Mungkin sang ayah tak bermaksud menghina, tapi sang anak terlanjur sakit hati. Dan itu terjadi bertahun-tahun. Kemarahan yang tak terkomunikasikan dengan baik, begitulah kalimat yang bisa menggambarkan model hubungan mereka.

Kekesalan Blake semakin bertambah ketika mendapati kedekatan yang tidak wajar antara ayahnya dengan bibinya, Sarah. Blake bahkan curiga bahwa sepupunya, putri bibinya, merupakan buah hasil perselingkuhan mereka. Sekali lagi kecurigaan ini tak pernah terkomunikasikan. Kepasrahan sang Ibu menerima kenyataan bahwa sang ayah memang sangat dekat dengan sang Bibi, menambah kebencian Blake.

Layaknya sebuah memoir, alur film ini bukan “maju terus pantang mundur”, tapi “maju mundur maju”, begitu berulang-ulang. Puncak adegan ini adalah ketika sang ayah akhirnya benar-benar meninggal. Blake berdiri di sebuah persimpangan jalan. Di situ, beberapa tahun silam, ayahnya melepas dia pergi kuliah ke luar kota. Sang ayah menatap lekat-lekat wajah anaknya, anak kesayangan yang sering “disakitinya”. Mereka berpelukan, lama. Ekspresi Blake saat itu biasa saja, tak terlalu sedih. Jauh berbeda ketika dia berdiri sendirian bertahun kemudian, setelah sang ayah pergi. Untuk pertama kalinya dia merasa kehilangan sang ayah. Bukan ayah ideal memang, tapi tetap ayah, tak tergantikan siapapun. Adegan berputar-putar, pelukan mereka, dan teriakan sedih Blake menguras setengah isi kotak tissue.

Saat Blake sendirian dan membayangkan seakan memeluk sang ayah, itulah saatnya menjawab pertanyaan And When Did You Last See Your Father? Saat itulah Blake benar-benar merasa “melihat” ayahnya. Bukan sekedar melihat, tapi "melihat" seutuh-utuhnya sosok ayah. Ayah yang dirindukannya, dengan segala kasih sayang, perhatian sekaligus berbaur dengan hal-hal yang menyebalkan. Betapapun tidak menyenangkan perlakuan seorang ayah terhadap anak, seorang ayah tetaplah ayah, darah akan selalu lebih kental dari air. Hubungan darah adalah satu-satunya jenis hubungan yang tak bisa diputusakn oleh akta apapun.

Teringat saya cerita seorang kawan sekolah, sekaligus rekan kerja. Waktu kecil dulu, dia suka sekali main sepakbola dalam hujan dan lumpur. Setiap pulang ke rumah –dalam keadaan basah dan belepotan lumpur- sang ayah memarahinya, sambil melemparkan sandal kulit. Berpuluh tahun kemudian, saat sang ayah telah tiada, dia merindukan suasana itu. “Sekarang, waktu gue pulang kantor berbasah-basah, gue pengen ada yang ngelempar sandal sambil marah-marah... gue kangen bokap gue...”. Badannya kekar, tapi matanya basah. And When Did You Last See Your Father? 

Wahidin satu, Juanda dua, Lantai enam

  • view 262