Masa kecil yang berbahagia

Hima Sabrina
Karya Hima Sabrina Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 14 September 2016
Masa kecil yang berbahagia


Aku masih 5 tahun saat itu, dan sudah harus merantau jauh sekali dari orang tua. Hanya sendiri. Sendiri berjuang sebab tak tau bagaimana caranya keluar. Aku diasramakan ibuku. Bukan, bukan tega. Aku tau ibuku hanya bingung "menitipkan" aku kemana sedang beliau harus berkonsentrasi bekerja dan mencari uang untuk anaknya satu-satunya. Aku menerima bukan karena aku ingin belajar. Aku menerima bukan karena aku ingin menjadi sholehah. Bukan juga karena cinta akan agamaku dan bersedia mati syahid suatu saat nanti, terlalu tinggi untuk pemikiran bocah yang menghapus lendir hidung saja belum fasih. Aku menerima sebab tak ada pilihan.

Aku tumbuh ditengah keluarga yang hanya ada aku dan ibuku. Tanpa sedikitpun campur tangan ayah kecuali selembar kertas yang dititipkan tetangga untuk ibuku ; Hima Sabrina. Itu saja. Sedang wujud lelaki itu pergi entah kemana membuang serta tanggung jawab dan ingatannya tentang aku yang masih merah.

Dua tahun aku merantau. Setelah itu aku pulang bersama toga hapalan Al-Quran dan kitab-kitab gundul berbahasa arab melayu. Aku memegang erat kitab merah itu membiarkan ibu melambai sambil meneriakkan namaku.

Aku hanya bercita-cita membuat ibu nyaman memiliki aku.

Dengan semua jatuh bangun yang aku dan ibu rasakan. Aku memutuskan untuk menurutinya disegala suasana keadaan. Saat sekolah dasar, aku disekolahkan ditempat yang jam berangkat dan pulangnya hampir sama dengan jam kantor ibuku. Tujuannya agar aku tidak kesepian dirumah. Saat beliau pulang aku selalu cerewet bercerita tentang kegiatan sekolah dan teman-teman. Setiap hari. Padahal aku tidak pernah ikut bermain. Aku hanya mengamati mereka sambil terduduk di meja sekolah berhadapan dengan buku harian. Barangkali bukan karena aku enggan. Tapi aku membutuhkan cara lain untuk mengalihkan rasa lelah dan kesepian.

Di SMA, aku kembali diasramakan. Semuanya memaksa untuk bersosialisasi. Tapi aku justru menikmati duniaku sendiri. Dengan pena dan buku harian yang selalu ku dekap meski aku sedang mengaji. Sampai ketika hari kelulusan, aku keluar sebagai pemenang dan menyampaikan sambutan di depan lebih dari seribu pasang mata. Aku menikmati semua itu, berjaya diatas mimbar dan menguasai sepuluh menit waktu milik seribu manusia.

Saat kuliah, aku memaksakan diri mengikuti kehendak ibu. Untuk menjadi seorang bidan. Aku lakukan sampai terperah habis keringat. Hingga lulus sidang dengan nilai terbaik.

Aku hanya bercita-cita membuat ibu nyaman memiliki aku.

Aku sudah selesai untuk itu. Untuk menjadi apa yang ibu cita-citakan. Tapi aku belum selesai menjadi HIMA. Aku malah baru terlahir. Hima yang masih merah dan pernah tidak diharapkan kehadirannya. Aku baru bersiap untuk bangkit. Aku belum sukses. Belum bahagia menjadi diriku sendiri. Dan sepertinya perjalanan ini akan sangat panjang.

Dua puluh tahun kemudian, Aku datang menemui orang yang pernah sengaja melupakan. Dengan setitik harapan ; mungkin dia akan ingat. Mungkin dia sudah berbeda. Mungkin saat ini dia sudah menginginkan. Tapi ternyata aku terlalu limbung memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak mungkin. Nyatanya, segumpal darah yang busuk dan membusukkan seluruh jiwa raga manusia, tidak semudah itu berubah.

Barangkali urusan ku sekarang hanya dengan diriku sendiri. Untuk menjadi ibu, ayah, sekaligus Hima yang baru lahir. Aku akan membalas semuanya. Dengan segala kesuksesan dan kebahagiaan suatu hari nanti yang aku pamerkan. Mungkin juga harus ku titip selembar kertas lusuh ke tetengga yang bertuliskan ; Terima kasih. Untuknya.

  • Sebab tak semua orang hidup bisa merasakan sari pati hidup. Sebab tak semua orang mendapat kesempatan untuk tersungkur, tersungkur, untuk kemudian berada pada posisi sempurna untuk bersujud.

  • view 171