Untukmu yang berbeda

Untukmu yang berbeda

Hima Sabrina
Karya Hima Sabrina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Juni 2016
Untukmu yang berbeda

Jakarta, 15 September 2013

9 September lalu, hanya 5 hari. Ya, 5 hari aku mengenalmu dan merasa seperti sudah tahunan aku menemukanmu. Sejujurnya aku terpukul dengan apa yang ku hadapi sekarang. Seperti pertanyaanku semalam, "pernahkah kau begitu berharap?" 

Mengapa perbedaan itu muncul justru disaat aku menemukan orang yang paling aku inginkan? Kamu bilang, Tuhan menciptakan semuanya berbeda dan itu yang membuat semua begitu indah. Ya aku tahu. Aku faham. Aku mengerti betul pelangipun indah justru karena warnanya yang berbeda.

Tapi hey! Bukan itu. Kau tahu mengapa saat aku mendengar dengan frontal pernyataan aqidah mu lalu aku menangis tak karuan seperti orang keren? Itu karena aku tahu, sudah bisa dipastikan aku takkan bisa selamanya bersamamu. Pun kalau sekarang kita masih bersama, akhirnya aku harus melepasmu juga kan? Dan kau tahu rasanya dipisahkan oleh sesuatu yang abstrak tapi mutlak? Itu pedih luar biasa. 

"Aku hanya membenci perbedaan, bukan keadaan." 

Seketika aku merasa menjadi dukun. Menjalani apa yang sudah kita tahu akhirnya seperti membuang waktu. Aku memang tak ingin mendahului kehendak Tuhan, tapi ada begitu banyak tapi yang tak bisa ku jelaskan. Banyak tapi yang tak bisa ku teruskan. Sebab "tapi" hanya akan memperkeruh keadaan. "tapi" hanya akan mematahkan apa yang jelas-jelas kita tahu. 

Mengapa mencintai dan dicintai bisa jadi begitu rumit saat sekeliling sudah mulai angkat bicara? Salahkah hati hanya karena kita berbeda? Aku membenci perbedaan. Tidak semua. Bukan perbedaan dunia lantaran Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan. Bukan. Tapi perbedaan antara kau dan aku. Perbedaan yang sudah ada bahkan sebelum kita dilahirkan. Perbedaan mutlak yang bukan kita buat. 

Sebenarnya perbedaan itu apa? Rekayasa atau apa? Aku ingin sekali protes pada Tuhan, kenapa Dia hadirkan perasaanku untukmu dan sebaliknya padahal Dia tahu kita berbeda? Aku tahu aku bahkan tak lebih berharga dari sebutir debu didunia ini dimata Tuhan. Hey! Aku bukan orang tua Tuhan yang bisa membuat Tuhan mu dan Tuhan ku jadi besanan. 

Ada tanda tanya besar yang aku sendiri bingung harus bertanya pada siapa. Tentang keadaan, tentang hati, tentang kondisi. Tentang seberapa mutlak yang mereka sebut "perbedaan".

Dalam hidup memang selalu banyak pilihan. Seperti katamu, "Ini kita yang jalani, bukan mereka. Ini kita yang tentukan, bukan mereka. Ini kita yang rasa, bukan mereka"

Setiap pilihan memang benar ada resikonya. Dan aku akhirnya memilih untuk bahagia dan mendengar apa yang hatiku inginkan. Meski cuma sebentar. Untuk tetap bisa menatap sepasang bola mata indah yang selalu menatapku dengan tatapan tulus penuh rindu. Meski hanya sementara. Untuk tetap bisa mencintai, karena tenyata aku tak sendiri. Karena ternyata kau juga merasa. Karena kau juga mencinta. Karena ternyata hati tidak pernah bisa berbohong saat ia sudah memutuskan kemana ia ingin berlabuh. 

-----------------