Anna dan Kantong Plastik Cantik

Hilyatudini
Karya Hilyatudini  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2016
Anna dan Kantong Plastik Cantik

Perempuan muda tengah sibuk dengan ponselnya. Membuka satu per satu media sosial yang ia punya. Tak peduli meski seorang anak laki-laki sedari tadi terus-menerus menarik ujung bajunya. Mengajaknya pergi dari tempat tersebut. Anak itu sudah terlalu lelah berkeliling mengamati berbagai barang yang disusun rapi dan dikelompokkan sesuai jenisnya.

“Maaf Ibu mau menggunakan plastik atau membawa kantong belanja sendiri?” tanya seorang perempuan berkerudung dengan seragam berwarna merah.

Perempuan muda tadi akhirnya mengalihkan pandangannya dari ponsel. Mengerutkan dahi tidak mengerti dengan maksud perempuan berkerudung di hadapannya. Sejak kapan ada pertanyaan seperti itu ketika seorang pembeli akan membayar belanjaannya di kasir?

“Ada peraturan baru dari pemerintah Bu. Untuk satu lembar plastik, Ibu akan dikenai biaya dua ratus rupiah,” jelas si perempuan berkerudung dengan ramah.

Perempuan muda memasang wajah kesal dan menatap tajam anaknya yang terus merengek. Antrian di belakangnya sudah mengekor panjang dan ia buru-buru mengangguk. “Pakai plastik saja. Saya tidak bawa kantong belanja,” ujarnya ketus.

Setelah transaksi selesai, perempuan muda segera menarik lengan anaknya dan beranjak ke luar. Dalam hati ia mengoceh soal peraturan baru tersebut. Memangnya pemakaian plastik akan berkurang begitu? Percuma saja jika masyarakat sendiri masih tidak mau berubah. Yang ada anggaran belanjanya naik seribu rupiah untuk membayar lima kantong plastik.

“Ayo masuk ke mobil!” perintah perempuan muda itu kepada anak laki-lakinya. Setelah bocah itu masuk dan duduk, ia meletakkan barang-barangnya di samping anaknya di kursi belakang. Bocah itu hanya cemberut dimarahi ibunya.

***

Anak laki-lakinya, yang bernama Nobi, merasa bosan. Ia iseng mengintip setiap kantong belanjaan milik ibunya. Ia mencari susu coklat kesukaannya. Tidak juga menemukan, salah satu kantong dibalik dan seluruh isinya berserakan di atas kursi. Perempuan muda itu tak terlalu memperhatikan karena sibuk membalas chat dari teman-teman arisannya.

Nobi tersenyum lebar karena menemukan susu coklat yang ia cari. Ia menusuk sedotannya dan meminumnya habis sekaligus. Ia kemudian menurunkan kaca jendela dan membuang kotak kardus bekas susunya ke jalan.

“Ah!” Nobi terkejut ketika angin dari luar berhasil menerbangkan plastik yang tadi sudah kosong dan mendarat tepat di wajahnya. Ia segera menaikkan kaca jendela sebelum ibunya menyadari dan memarahinya lagi.

Nobi kemudian mencari spidol berwarna merah yang tadi terselip di sela-sela kursi. Ia memasukkan tangannya dan akhirnya berhasil mengeluarkan spidol tersebut. Plastik kosong tadi ia tuliskan sesuatu dengan spidol merahnya. Senang melihat karyanya sendiri dan ia tersenyum puas.

“Nobi! Kamu apa-apaan sih?!” bentak ibunya ketika menyadari barang-barangnya sudah berantakan. “Ayo masukkan lagi ke plastik tadi.”

Nobi menggeleng dan kembali membuka jendela. Plastik tadi malah ia buang ke jalan. Perempuan muda itu benar-benar kesal dan menepikan mobilnya. Ia keluar dan menghampiri anaknya di kursi belakang. “Kenapa plastiknya malah dibuang? Mama harus bayar tau buat plastik itu,” omelnya sambil  memasukkan belanjaannya ke kantong plastik lain.

“Bukannya gratis Ma?” tanya Nobi penasaran.

“Itu dulu. Sekarang Mama harus bayar.”

“Kenapa Ma?” tanya Nobi lagi.

“Sudah! Kamu masih kecil ga usah banyak tanya. Mama jelasin juga kamu engga bakal ngerti.”

“Ma ... coba lihat!” seru Nobi sambil menunjuk ke jalan. Kepalanya sudah melongok keluar melalui jendela.

Terlihat kerumunan orang-orang di tengah jalan, tidak jauh dari tempat mereka berhenti. Perempuan muda itu sebenarnya tidak berminat untuk tahu apa yang terjadi tetapi anaknya malah memaksa ingin keluar karena penasaran.

“Jangan Nobi ... kamu tunggu di mobil saja. Biar Mama yang lihat.” Nobi terpaksa mengangguk karena tatapan ibunya sangat menyeramkan. Perempuan muda itu pun mendekati kerumunan dan terlonjak kaget mengetahui apa yang terjadi. Seorang anak perempuan sudah tergeletak di aspal jalan dengan kondisi yang memilukan. Darah segar mengalir di sekitar pelipis kirinya. Perempuan muda itu hendak kembali ke mobilnya karena tujuannya memang hanya ingin ‘melihat’ saja. Namun tiba-tiba, langkahnya terhenti....

“Kenapa kalian diam saja? Nanti anak ini keburu mati. Ayo bawa ke mobilku,” perintahnya pada orang-orang di sana.

“Nobi...!” teriak perempuan muda itu mendengar perkataan anaknya tadi.

Orang-orang di sana segera mengangkat tubuh anak perempuan itu dan membawanya ke mobil si perempuan muda.

***

“Kamu sudah sadar?” tanya Nobi pada anak perempuan yang ia tolong.

Yang ditanya hanya mengangguk lemah. Ia kemudian melihat ke sekeliling ruangan. “Kamu lihat karungku?” tanyanya pada Nobi.

“Aku Nobi. Nama kamu siapa?” ujar Nobi tak menghiraukan pertanyaan anak perempuan tadi.

“Aku Anna. Kamu lihat karungku tidak?” tanyanya sedikit kesal.

Nobi menggeleng dan Anna memasang wajah cemas. Ia berusaha untuk turun dari tempat tidur rumah sakit untuk mencari karungnya.

“Kamu jangan kemana-mana. Kamu kan masih sakit. Biar aku saja yang cari karungmu.” Nobi menahan lengan Anna dan segera bangkit berdiri. Ia melihat ke seluruh sudut ruangan, ke kolong tempat tidur Anna ataupun meja. Tetapi hasilnya tetap nihil.

“Kamu bawa karung untuk apa?” tanya Nobi sembari membungkuk mengatur napasnya. Ia lelah berkeliling ruangan itu beberapa kali.

“Untuk mengumpulkan sampah,” jawab Anna lesu. Matanya sudah memerah, hendak menangis.

“Sampah!” teriak Nobi sambil melompat. Ia berlari ke luar ruangan dan mencari tong sampah di sekitar sana. Matanya membulat karena berhasil menemukannya. “Ah, ini dia,” ujarnya senang ketika melihat sebuah karung kecil milik Anna. Kaki kecilnya langsung melesat menghampiri Anna dengan tangan yang mengangkat karung itu tinggi-tinggi.

Belum sempat karung itu berpindah pada pemiliknya, tangan Nobi sudah ditarik paksa oleh ibunya. “Kamu jorok sekali Nobi, main-main dengan tong sampah. Ayo cepat kita cuci tangan.” Karung itu akhirnya terjatuh ke lantai tepat di depan pintu ruangan.

Anna tersenyum karena anak laki-laki itu berhasil menemukan karungnya. Ia turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu. Tangannya dengan cekatan memeriksa isinya. Masih utuh dengan plastik dan bekas botol air mineral. Anna tak berniat untuk kembali ke ruangan itu. Ia lebih memilih untuk pulang ke rumahnya.

***

Anna sudah tiba di rumah. Rumah yang sangat nyaman baginya, tetapi tidak bagi orang lain. Rumah itu terbuat dari kardus bekas dan tempelan koran-koran di dindingnya. Tidak ada pintu atau jendela, yang ada hanya celah kotak tertutup kain putih lusuh yang ia fungsikan sebagai pintu. Di dalamnya pun juga tidak ada perabotan rumah apapun, yang ada hanya kardus bertumpuk untuk ia tidur, plastik digantung untuk menyimpan baju-bajunya, dan satu plastik lain untuk menyimpan mainannya yang ia temukan di TPA. Ya. Rumah Anna tepat berada di samping tumpukan sampah yang menggunung di tempat pembuangan akhir.

Anna keluar dari rumahnya. Ia menghirup udara pagi yang segar meskipun bercampur dengan aroma sampah di depannya. Bau tak sedap ini sudah menjadi teman untuk hidungnya. Anna sudah sangat terbiasa. Tiba-tiba di kejauhan, seorang anak laki-laki berlari sambil berteriak memanggil namanya. Anak laki-laki itu tidak peduli dengan tumpukan sampah yang ia injak. Kadang kakinya harus tercebur ke kubangan air sampah berwarna coklat dan berbau amis. Ia tetap tidak peduli meskipun ia memakai sepatu berwarna putih.

Anna tidak dapat melihat dengan jelas. Mata kirinya sudah tidak bisa berfungsi lagi, kakinya pun sudah tidak bisa digunakan dengan baik akibat kecelakaan itu. Ia tetap diam menunggu anak laki-laki itu, yang tak lain adalah Nobi. Anna sangat bahagia. Ia tidak menyangka Nobi mau ke rumahnya yang ‘kotor’ itu.

“Kamu tinggal sendirian di sini?” tanya Nobi setelah sampai di hadapan Anna.

“Iya, Ibu dan ayahku sudah meninggal karena hanyut dibawa banjir,” ujar Anna sambil tersenyum. Tak ada raut kesedihan yang muncul di wajahnya.

Nobi melihat ke sekeliling ruangan itu. Ada satu hal yang menarik perhatiannya. Sebuah plastik yang ditempel di dinding. Ia merasa mengenali plastik tersebut.

“Kenapa plastik itu ditempel? Itu jadi hiasan dinding begitu?”

“Iya, aku mendapatkan plastik itu di tengah jalan sebelum aku kecelakaan. Aku mengambilnya agar tidak mengotori jalan atau terbang masuk ke dalam selokan. Plastik itu cantik, ada tulisan dan gambar berbentuk hati-nya, ya meskipun aku tidak tahu apa maksudnya,” jelas Anna panjang lebar.

“Kamu tidak bisa membaca?” tanya Nobi penasaran.

“Tidak. Aku tidak pernah sekolah.”

Nobi penasaran dan berjalan mendekati plastik tersebut. Ia begitu terkejut karena plastik yang ditempel itu merupakan plastik yang ia corat-coret dan kemudian ia buang ke jalan waktu itu. Plastik itu bertuliskan ‘Mama, I Love You’. Nobi menatap Anna lekat-lekat.

“Maafkan aku,” suara Nobi bergetar menahan tangisnya.

  • view 208