Belajar Cinta dari Ayah Ibu

Hilyatudini
Karya Hilyatudini  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 September 2016
Belajar Cinta dari Ayah Ibu

Aisha merebahkan tubuh sejenak di atas karpet di ruang TV. Ia sempat menggerutu tadi karena akhir pekannya malah harus diisi dengan agenda membereskan rumah. Rencana yang telah ia tulis rapi dalam pikirannya pun hilang. Membaca novel, menonton film atau melanjutkan tulisannya yang tak kunjung rampung, kini tak ada lagi niat untuk melakukan semua itu. Matanya tepat mengarah pada layar TV. Namun, pikirannya melayang entah kemana. Selirik kemudian, ia sudah tertidur pulas.

"Ka Aisha! Ka Aisha! Bangun!" Rania, adiknya Aisha, mengguncang tubuhnya dengan keras. Aisha menggeliat dan dengan malas membuka matanya. Ia melirik ke arah jam yang tergantung di sebelah kanan TV. Pukul setengah tiga siang.

"Ada apa? Belum ashar kan? Atau ibu dan ayah sudah pulang?" tanyanya sambil berusaha untuk duduk. Ia mengusap matanya beberapa kali agar pandangannya lebih fokus.

Rania hanya menggeleng dan mengatakan jika ada tamu di bawah. Ia menanyakan siapa tamunya namun Rania bilang jika dia tidak mengenalnya. Aisha sebenarnya enggan untuk turun dan memeriksanya, apalagi orang tuanya sedang tidak berada di rumah. Teringat pesan ibunya untuk selalu menghormati tamu, membuat Aisha beranjak untuk menemuinya.

Pintu baru terbuka setengah dan Aisha sudah bisa melihat dengan jelas rupa tamunya. Seorang perempuan paruh baya dengan tubuhnya yang kurus. Ia mengerutkan dahi bingung karena merasa tidak mengenalnya.

Tamunya itu meminta izin untuk masuk setelah sebelumnya menanyakan soal orang tuanya. Orang ini benar-benar mengenal orang tuaku, batin Aisha. Tanpa ragu akhirnya Aisha mempersilahkannya untuk masuk. Ia segera pergi ke dapur untuk membuatkan minum. Aisha merasa kasihan karena wajahnya terlihat kelelahan.

Tidak sampai lima menit, teh yang ia buat telah siap. Aisha kemudian mengambil kue dari kulkas dan memotongnya, untuk selanjutnya ia sajikan di atas piring. Ketika tiba di ruang tamu, Aisha tidak menemukan wanita tersebut. Ia sempat mencarinya di teras namun tetap tidak ada.

Terbersit dalam pikirannya jika wanita tadi adalah seorang pencuri. Aisha segera memeriksa laci-laci yang berada di ruang tamu dan bernapas lega karena tidak ada satupun barang yang hilang. Buru-buru ia memohon ampun karena telah berprasangka buruk dengan tamunya.

Ia akhirnya duduk dan meminum teh yang sudah terlanjur dibuat. Ia masih bertanya-tanya mengapa tamunya pulang begitu saja tanpa pamit. Di tengah lamunannya, suara motor milik ayahnya terdengar berhenti di depan rumah.

"Itu pasti mereka," ujarnya sambil beranjak membuka pintu. Ia mencium tangan ibu dan ayahnya bergantian.

"Tadi ada tamu Sha?" tanya Ibu ketika melihat cangkir bekas teh dan sepiring kue di atas meja.

Aisha pun menceritakan soal tamunya tadi. Ibu menaikkan kedua alisnya heran. Sedangkan ayahnya terlihat santai-santai saja. Tiba-tiba ibu menjatuhkan tasnya dan berlari ke arah lemari kaca yang berada di ruang tamu. Ibu terlihat sedang mencari-cari sesuatu yang Aisha sendiri tidak tahu apa.

"Cari apa Bu?" tanya Aisha penasaran.

"Uang Ibu. Tadi Ibu simpan di laci untuk sementara. Tetapi kok sekarang tidak ada ya? Oh, Ibu coba tanya Ayah dulu deh." Sedikit raut cemas tergambar di wajahnya.

Ibu berjalan menyusul ayah ke kamar. Ia menutup pintunya rapat-rapat. Aisha akhirnya kembali ke lantai atas dan masuk ke kamarnya. Aisha merasa bersalah. Ia merasa telah ceroboh jika uang ibunya benar-benar hilang. Ia menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Semoga ibu hanya lupa menaruh uangnya, doanya dalam hati.

***

Aisha mengintip ke ruang tamu. Ada ibu dan ayahnya sedang duduk di sana. Aisha mencoba memberanikan diri untuk menghampiri mereka. Ia hendak menanyakan soal uang ibunya yang diduga hilang. Baru satu langkah, Aisha kembali mundur, menunda niatnya. Ia lebih memilih untuk memperhatikan keduanya dari balik dinding.

Ibunya terlihat mengoceh kesal soal uangnya sedangkan ayah hanya diam. Ayah dengan sabar mendengarkan keluh kesah Ibu. Ia baru akan bicara setelah kondisi Ibu lebih tenang. Begitulah keduanya, menahan diri jika emosi salah satu di antara mereka sedang memanas. Mungkin itu cara mereka saling mencintai dengan lebih banyak memaklumi dan mendengarkan.

"Kamu ngapain ngelamun di situ Sha?" Tanpa sadar setengah tubuh Aisha sudah terlihat oleh orang tuanya. Ia sedikit terkejut dan melemparkan senyum canggung.

Raut wajah ibunya yang semula tegang langsung berubah melembut. Ibunya kemudian tertawa kecil dan berkata, "Uang Ibu ternyata hilang Sha. Padahal Ibu sudah minta tolong Ayahmu buat pindahin uangnya, tetapi Ayahmu lupa juga ternyata."

Mereka selalu seperti itu. Jika 'tertangkap basah' sedang berdebat, mereka pasti langsung tersenyum dan menjadikan bahan debat mereka sebagai candaan. Seakan-akan pertengkaran mereka tadi bukanlah hal yang serius dan tidak perlu dipikirkan. Aisha memang tidak pernah melihat keduanya terlibat adu mulut. Setidaknya di hadapan dirinya dan Rania. Aisha bersyukur memiliki mereka. Orang tua yang selalu berusaha menjaga perasaan anak-anaknya.

Hati Aisha mencelos mendengarnya. Jelas-jelas ini kesalahannya yang tidak hati-hati terhadap orang asing. Aisha menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai basah. Seperti mengerti perasaan Aisha, Ibu membelai rambutnya. "Tidak apa-apa kok. Mungkin uangnya memang bukan rezeki Ibu. Iya kan Yah?"

Ayah mengiyakan dan tiba-tiba menepuk lengan sofa dengan keras. Ia seperti baru mengingat sesuatu. "Tadi kan Ayah beli buah naga. Kamu kan suka banget Sha. Sebentar Ayah ambilkan di kulkas dulu." Ayah bangkit berdiri dan meninggalkan Aisha serta ibunya.

"Oh iya Yah. Ibu hampir lupa," timpal Ibu sambil tersenyum.

Aisha mulai berani mengangkat kepalanya. Ibunya sedang tersenyum menatapnya. Dengan suara bergetar, Aisha berkata, "Maafin Aisha ya Bu. Aisha ceroboh."

Ibunya menggeleng dan berkata 'tidak apa-apa' tanpa mengeluarkan suara.

Ayah kemudian kembali dengan membawa buah naga, dibantu oleh Rania. Seperti biasa, Rania mulai menceritakan apapun yang terjadi kemarin di sekolah. Kami pun tertawa melihat ekspresinya yang berubah-ubah dengan cepat sesuai isi ceritanya. Di dalam hati Aisha berdoa, semoga kebersamaan mereka akan berlanjut hingga tahap kehidupan selanjutnya. Sehidup Sesurga.

"Aamiin...," ucap ayah, ibu, dan Rania serentak.

Aisha membuka matanya dan merasa heran. Ia baru sadar jika tangannya mengusap wajahnya seperti yang biasa orang lakukan selepas berdoa.

Aisha pun menggaruk tengkuknya sambil tersenyum canggung. Malu dengan kepolosannya sendiri.[]

 

  • view 222