“#SumpahPemuda2017 : Pemuda Zaman Now, Tunggu Apa Lagi!

Hilmy Farhan
Karya Hilmy Farhan Kategori Renungan
dipublikasikan 28 Oktober 2017
“#SumpahPemuda2017 : Pemuda Zaman Now, Tunggu Apa Lagi!

Izinkan saya mengemas tulisan mengenai Sumpah Pemuda ini dengan gaya bahasa “kekinian”; karena bila berbicara tentang pemuda, maka kita berbicara dengan generasi “kekinian”. Kita sebut saja, “pemuda zaman now”, alias pemuda zaman sekarang.#sumpahpemuda2017

“Berikan padaku 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia!”
=Ir. Soekarno=

Sekiranya, nih, ketika Ir. Soekarno berucap seperti itu di sebelah saya, mungkin saya akan bertanya seperti ini,

 “nuwunsewu Pak Presiden, pemuda yang seperti apa ya? Pasalnya pemuda zaman now beda-beda e, pak *sambil menunjukkan linimasa di aplikasi line dan twitter*”

Simon Sinek, salah seorang ahli leadership, mempunyai pandangan terhadap pemuda zaman now. Ada empat faktor yang mewarnai pemuda ini.  Kesalahan pendidikan dalam keluarga, penggunaan teknologi yang salah, gratifikasi instan, serta lingkungan yang buruk.

Berat? Let me make it simple.

Empat faktor ini membentuk sebuah generasi yang kurang kesabaran, kurang sopan dan kurang berambisi. Memang, kita tidak bisa menyamaratakan pandangan ini, tapi teori ini tidak salah sepenuhnya pula.

Bukankah kita sering melihat rekan kita yang menaruh gawai (gadget) di atas meja ketika kuliah? Seolah menandakan (secara bawah sadar) bahwa kuliah dan sosial media tidak beda prioritas.

Bukankah zaman sekarang untuk memesan barang, menonton film, memanggil ojek sudah semudah “swipe” dan “tap”? Semua sangat mudah untuk dicapai secara instan; tanpa “perjuangan” seperti zaman dulu.

Perkembangan zaman itu ya begitu, tergantung pintar-pintarnya manusia menggunakannya. Kalau pemuda tidak mempunyai value daya juang, nilai luhur cinta Indonesia yang kuat, teknologi akan menjadi alat perusak. Bisa-bisa malah mematahkan semangat Soekarno ketika beliau berkata “beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia,”.

Semoga benar-benar mengguncang dunia. Bukan mengguncang sosial media. Terguncang dengan komen-komen berbau intoleransi.

Wadaw. Rusak.

Pemuda zaman now harus “greget” melihat masalah bangsa, bukan “greget” komen tak berfaedah di sosial media!

Tidakkah kita rindu akan sosok Habibie; pribadi bernilai luhur Indonesia yang berkiprah jauh di Aachen, Jerman?
Tidakkah kita rindu dengan dr. Soetomo, penggebrak kemerdekaan dengan Budi Utomo?
Tidakkah kita rindu dengan Prof. Taruna Ikrar, ahli neurosains dunia dengan berbagai hak patennya?
Tidakkah kita rindu dengan “greget” belajar dan berkarya seperti mereka?

Anda tidak harus sama seperti mereka; justru harus berbeda. Spesialisasi tidak hanya ada pada bidang kedokteran, sadari itu.

Mari kita ambil sebuah contoh dari jalannya seorang pasien tabrak lari mulai dari sakit hingga sembuh, ada berapa profesi yang bermain di dalamnya; dokter jaga UGD, perawat, bidan, tim paramedik, pengemudi ambulans, spesialis bedah, spesialis radiologi, petugas administrasi, dan lain-lain. Semisal pula kita ambil bagaimana perjalanan seseorang menggunakan pesawat; pilot, pramugari, pramugara, teknisi pesawat, teknisi control tower, petugas bagasi pesawat, petugas pengisi bahan bakar, petugas di balik counter check in, dan lain-lain.

Itu skala kecil. Skala besar, kita lihat saja bagaimana sebuah kabinet pemerintahan presiden memerlukan spesialis dengan berbagai karakter; Ibu Susi Menteri Kelautan dan Perikanan, Prof Nila Menteri Kesehatan, Pak Imam Nahrawi Menpora, dan lain-lain. Pak Presiden butuh mereka karena beliau sadar jika untuk kerja, perlu orang yang spesial di bidang-bidangnya

Mustahil bila sebuah kerja yang besar hanya berisi orang yang sama. Setuju dengan tema oleh Inspirasi.co yaitu “Kita Tidak Sama, Kita Kerjasama”. Bukan saatnya debat pendapat sedikit karya sedikit kerja. Saya teringat ketika mendatangi suatu acara dengan pembicara cr. Gamal Albinsaid, dokter muda terkemuka Indonesia. Beliau mengatakan bahwa satu karya sudah berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Ucap beliau, dengan karyanya, dari membangun klinik untuk orang miskin dengan bayaran berupa sampah, hingga diundang untuk berdiskusi masalah kesehatan dengan Presiden Russia, Vladimir Putin.

Ayo pemuda Indonesia, yang “greget”, patahkan kemiringan pandangan mereka! Dirimu dibutuhkan, belajar dan berkarya! Kepalkan tangan, kobarkan perjuangan, busungkan dada dan teriakkan, “ini kami, Pemuda Indonesia!”

- Penulis adalah Mahasiswa Kedokteran FK Universitas Airlangga dan Presiden Surabaya Neuroscience Club.

  • view 165