Kau yang diRINDUkan

Hilman Kamilatu
Karya Hilman Kamilatu Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Februari 2016
Kau yang diRINDUkan

Aku Zaki, apapun yang kalian baca dibawah mengenai tulisan ini, semuanya benar. Ini tentang kehidupanku setelah keluar dari rongga kemaluan ibuku. Aku adalah anak bungsu dari 5 bersaudara. Dari semua saudaraku, hanya aku yang belum (mungkin tidak akan) menyempurnakan ibadah dengan menikah. Padahal, di tanggal 31 Januari kemarin, adalah ulang tahunku yang ke-28. Bukan tanpa sebab, tapi ini tentang kondisi yang dimana tidak memaksakanku untuk menghalalkan seorang perempuan.

Beberapakali aku meminta kepada Tuhan untuk sesegera mungkin menjemputku, memisahkan antara jiwa dengan ragaku. Memanggilku untuk mengakhiri semua permainan omong kosong ini. Mengakhiri untuk memulai skenario baru. Memang disini aku pemeran utama. Namun, malang nian nasibku. Hanya menjadi pemeran utama yang difigurankan. Pernah aku mendengar, aku harus menjadi sebaik-baiknya ciptaan dengan menjadikan pegangan bagi orang lain. Sayangnya, akupun tak bisa menjadikan diriku sendiri sebagai pegangan untukku. Aku putus asa. Sepertinya....

Aku zaki. Seorang yang memiliki gelar sarjana strata satu. Aku lulusan salah satu perguruan tinggi swasta di kota kelahiranku. Disuatu pelosok nusantara. Tidak akan aku katakan dimana tempatku berasal. Takutnya kalian menemuiku. Aku tidak suka bertemu orang asing. Pasalnya, orang asing selalu membawaku pergi. Menuntunku, mengajak untuk pulang. Entah kemana. Kejadian itu sering. Hampir diberbagai tempat yang pernah aku singgahi. Tidak perlu kiranya untuk mereka menggodaku untuk berkenalan, cukup hanya menuntun tanganku saja, pasti aku akan ikut.

Sejak percampuran di kasur pengantin yang mulai terlihat lapuk, Bapak dan ibuku kembali melakukan persetubuhan suci. Untuk kesekian kalinya mereka mencoba dan berharap memiliki keturunan agar bisa melanjutkan estafeta garis ketrunan. Karena ini soal Budaya, Agama, Ras, Suku dan aspek yang termasuk lingkupnya. Sampai akhir dari percampuran itu, Bapakku menaruh tetesan air kental yang muncrat dari kemaluannya yang ia titipkan dalam rahim istrinya. Panjang kiranya perjalan utusan Ayahku untuk bisa masuk dalam sebuah rahim seorang perempuan. Mulai dari embrio-janin itu tidaklah mudah. Harus ada proses panjang dan keras. Sehingga hanyalah setetes pecundang yang memilih untuk mati. Dan aku bukan golongan dari tetesan pecundang. Aku Pemenang!

Pengalamanku hidup berdua bersama perempuan yang hari ini aku panggil ibu, sangatlah sulit. Bukan hanya saja aku yang lemah. Begitupun ibuku. Merasakan hal yang sama. Hari-hari permulaan sampai akhir di minggu 35 atau tepat sembilan bulan. Ibuku memperjuangkan kehadiranku meskipun bukan kali pertama ia hamil. Ada harap yang ia Rindukan. Ada titik yang ia hendak gariskan dan ada do?a yang akan dikabulkan. InsyaAllah.

Sampai pada diakhir masa hidupku di alam rahim, ibuku tak kunjung bosan menaruh Rindu untuk segera bertemu dengan aku. Anaknya! Meskipun ia tak tahu bagaimana keadaanku. Begitulah ia, Tulus. Aku anak lelaki kedua Bapak dan Ibuku. Setelah kakakku yang ke-4 berjenis kelamin yang sama. Ada menara eiffel yang menghiasi bagian tubuh diatas pahaku. Lucu kiranya ketika itu masih mungil dan berubah menjadi buas memasuki usia dewasa. Karena semburannya bak naga yang sedang bermuram durja.

Kehidupan ku diawali dengan tangis haru. Bapak dan ibuku demikian. Begitupun dengan saudara-saudara pendahuluku. Mereka apresiasikan dengan menyembelih dua ekor kambing untuk di bagikan kepada handai taoulan dan sanak saudara. Kebahagian tumpah ruah dimana-mana. Dikantor, Bapakku selalu menjadikan topik pembicaraannya adalah aku. Apalagi ibu.

Waktu pun terus berganti, hari kemarin berganti dengan hari ini, hari ini tersisih hari esok. Begitulah waktu. Sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Aku pun tumbuh bersama berjalannya waktu. Fase pertumbuhanku sepertihalnya lazimnya anak-anak yang lain. Normal. Hingga pada suatu hari, aku mengalami insiden yang merubah segalanya. Musibah ini, membuatku menjadi seorang mantan pemenang. Hari ini aku pecundang !

Bapaku bukan seorang atlit bulu tangkis profesional. Hanya sekedar suka saja. Tanpa terlewati, setiap hari minggu ia pergi ke GOR yang berada tepat dibelakang kantornya. Liburan akhir pekan kami selalu dihabiskan disini. Diantara hari-hari, aku paling suka hari minggu. Karena Bapak selalu menaikan tubuhku keatas pundaknya sambil dinyanyikan ?Topi Saya Bundar? ketika hendak pergi untuk menyaksikan pahlawan kami bermain. Disepanjang jalan ia terus mengoceh, mengajaku mengobrol dan bercanda. Membangun sesuatu yang belakangan aku tahu dari orang lain bahwasannya hal itu adalah apa yang mereka sebut chemistry.

Di usia 4 tahun aku merasakan apa itu bahagia. Sederhana. Karena aku selalu tertawa. Selalu bersemangat. Punya hari esok untuk aku rindukan. Ada harapan. I?am Hope ! dan itu adalah Bapak dan ibuku yang menyimpannya kepadaku dan kepada semua anaknya. Dengan penuh yakin. Mereka memberikan kepercayaan kepada kami. Bahwa kami adalah keturunannya yang terbaik.

(Bersambung)

  • view 142