MERAGU

Hilman Kamilatu
Karya Hilman Kamilatu Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Januari 2017
MERAGU

Meragu ?

Hai, sudah tiga purnama lewat saya tidak mengirimkan tulisan yang ananda rindukan. Dan tidak sepantasnya saya beralasan untuk membela diri, ketika janji saya akan menulis untuk ananda satu kali dalam seminggu. “dan ini sebuah alasannya” . . .

Pertama, Ananda statusnya masih ada ikatan dengan orang lain. Meskipun, hak untuk memiliki ananda masih bisa diperjuangkan oleh siapapu. Jika Tuhan dan ananda berkhendak.

Kedua, saya selalu bertanya-tanya dalam diri. Apakah saya bertindak dengan benar ? maksudnya, mengapa dalam bagian hidup saya ini, saya harus memperjuangkan ananda ? berfikir tentang hari esok, tentang khayal dan angan, Bukan? maksud saya,  bukannya tidak menaruh rasa optimis dalam jiwa. Tetapi. Langkah ku tidak terlalu tegas untuk bisa diputuskan.

Ketiga, ananda pasti tahu tentang “resah”. Tentang takut, tentang ketidakmampuan, tentang perkataan orang, tentang sakit hati, tentang musuh, tentang tantangan, apakah saya bisa menguatkan ananda? Atau. Saya sendiri rapuh dalam kesendirian?

Keempat, mengapa anada selalu terpatri dalam hati, terbesit selalu pada jelaga mataku, memberi kobaran semangat, membuatku bangga tercipta sebagai lelaki. Hanya saja, keyakinan itu senantiasa pergi, dan membuatku terpenjara dalam rasa. Apakah ananda merasakan hal yang sama?

Kelima, aku merasa hilang kepercayaan diri untuk menjadi “seorang imam” untuk ananda. Ketidakmampuan ku untuk memenuhi keinginan ananda. Dan aku hanya menebar janji dalam usahaku, maaf, aku payah sekali.

Tapi Ananda ...

Dalam sebuah percakapanku dengan beberapa orang tentang pernikahan, mereka sepakat bahwa menikah adalah salah satu alasan untuk mempertegas langkah anda. Orientasi yang harus dipertanggungjawabkan, bukan lagi masa dimana masalah harus diakhiri dengan kata putus atau “perceraian”. Tapi sikap ananda yang selama ini aku kenal, menjadikan keyakinan yang hilang itu, kembali lagi, lagi dan lagi.

Selalu ada item yang ada pada ananda untuk tidak bisa aku gantikan, dan tidak tahu perempuan mana yang bisa menerima aku dengan segala keterbatasannya kecuali ananda.

Ananda, keraguan itu datangnya dari makhluk yang dilaknat Tuhan. Dan keraguan itu menghampiri kepada semua orang, baik itu kepada ananda begitupun saya. Hilangkan keraguan itu ananda, pergi atau perjuangkan bersama. Biarlah.aku membatu sendiri, hilang dalam permukaan, tidak lagi dipertanyakan apalagi diperdulikan. Pergi dalam kehidupan ananda. Sehingga ragu itu hilang ketika sanggup meninggalkan dan biarlah kenangan itu tidak untuk kita lupakan.

Tentang posisi saya jika menjadi kekasih ananda . . .

Saya pernah mempunyai kekasih, datang-pergi datang lagi-pergi lagi. Seperti itulah dinamikanya. Waktu yang memaksa setiap dari kita untuk memaknainya. Aku tidak begitu dengan ananda mungkin, mempunyai kekasih itu mengikuti trend, bukan begitu? Malu dikatakan jomblo, tidak laku, atau apalah itu. Intinya kita berada diposisi “tidak normal” diluar kebiasaan. Padahal, bukankah setiap dari kita butuh ruang sendiri-sendiri? Fokus dalam tetap menjalankan setiap fase dalam kehidupan.

Bersambung . . .

  • view 75