Sedang MerekaPUN Cemburu

Hilman Kamilatu
Karya Hilman Kamilatu Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Januari 2017
Sedang MerekaPUN Cemburu

Ada sesuatu yang membuatku takzim, merenung dan memberikan komentar tentang kita. Masalahnya bukan terletak bahwa kita saling mencintai. Tapi kala mereka mengamati. Tersadar larut dalam elegi. Berapa jumlah kata yang kita bahas tentang cinta ? banyak. Dan kamu, selalu merajuk untuk kubacakan naskah dalam nada. Hal yang membuat nada-nada sumbang menjadi hilang, penat yang beberapa hari ini bergumul dalam raga seolah terhempas. Lalu kembali lagi. Tapi itulah yang membuat waktu selalu merindu, membuat jarak semakin terpadu, dan kala bertemu, semuanya telah berlalu.

Ada sesuatu yang membuatku selalu wajar. Tentang sikap dan prinsip. Beberapa hal yang membuatku selalu tidak pernah sedikitpun meragu. Tentang penerimaan, selalu menjadikan posisi aku adalah seorang “Raja” yang selalu menjadikan kau Ratuku. Beberapa halaman dari hidupku adalah kamu, selain ibu dan bapak ku. Dan kini, setelah beberapa hari aku mengunjungi rumah mu. Aku tersadar, yang dalam kewarasan menguatkan ku bahwa ada harap yang lebih dari Cinta. Adalah ibu dan bapakmu.

Ada sesuatu yang membuatku tidak ingin lagi keliru, dalam cinta kepada hambanya, tentang pengharapan yang selama ini menjadi penantian panjang. Tentang mencari dan memecahkan misteri ilahi. Walaupun makna dan rasa yang pernah singgah dalam hati ini bukan hanya kamu. Mereka adalah alasan bahwa dalam memilih itu tidak cukup dengan bisikan kata-kata.

Ada sesuatu yang membuat aku tidak lagi harus putus asa, karena setiap dari pertanyaan kegelisahan ada jawaban bahwa lusa ada waktu untuk menjemput dalam sebuah ikrar pernikahan. Sebuah pemberian dari sang maha cinta adalah mencintaimu.

Ada sesuatu yang membuatku harus berjuang, bergegas dalam malas, bertindak dalam kenyataan. karena urusan perut tidak cukup jika hanya dihidangkan dalam lamunan. Hanya saja, dalam penuh harap, tak usah kau ukur kebahagian dengan materi belaka. Tidak menjadikan harta dan tahta prioritas  utama sebagai sebuah tujuan, karena pengabdian tertinggi adalah selalu mengucapkan kata hamdalah dari setiap pemberian.

Ada sesuatu yang selalu hilang, adalah ketika penikmat dosa tidak lagi saling mengingatkan. Bukan lantas pergi meninggalkan. (Bersambung)

  • view 91