Bermain kata, Melukai Makna

Hilman Kamilatu
Karya Hilman Kamilatu Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 13 Juli 2016
Bermain kata, Melukai Makna

Dosa, Nikmatilah karena kau Manusia !

Langkah ku kontai tak terarah, hanya egoku saja yang akan mengatur langkahku untuk memilih, siapa lagi yang akan aku tanya tentang guratan takdir ini. Bukan untuk menyebarkan aibku lagi kepada banyak orang. Apalagi untuk bertemu dengan jodoh. Terlalu naif ternyata pikirku ketika inginku untuk memiliki Nurma. Jatuh sudah kagumku terhadapnya. Si gadis idealis nan penuh agamis. Hanya saja terbesit dalam pikir untuk tidak salah lagi mengambil skenario Tuhan. Sejak keadaan ini menjadi tanggung jawab ku, aku berfikir bahwa Tuhan tidak mengharapkan ku untuk bertaubat. Seperti konsep taubat yang pernah aku dengar dari Marwan. Karena bukankah ini semua jalan yang Tuhan berikan? Hanya saja aku sedikit keliru.

Tempo lalu, wejangan  Marwan terhadapku tidaklah salah, apalagi dengan Nurma. Ini soal prinsip masing-masing yang kita pegang. Setahuku, mereka semua hidup dalam zona nyaman, sedikit sekali resiko yang mereka hadapi dalam hidup ini. Memang, aku selalu kalah dalam adu argumentasi bersama mereka. Tapi kalau kita berbicara pengalaman hidup, mereka yang harus bertanya kepadaku.

Semua orang sama saja, mereka dengan mudah dalam meniali orang, apakah baik atau buruk. Tinggal lemparkan judgement tanpa memikirkan alasan dari perbuatannya. Kebanyakan dari kita hanya memikirkan dia salah dan aku benar. Dia tersesat dan aku berjalan diatas hidayah. Sampai kapan mereka memelihara mindset seperti itu. Jengah aku dengan keadaan ini.

Mereka seolah hidup dalam tatanan peradaban yang maju dengan mengabaikan orang disekitarnya. Ya, seperti Marwan. Tipe manusia yang mempunyai nilai egoisnya tinggi. Memang, ia adalah sosok panutan di lingkungan kami. Tapi sayang, tak banyak orang memilih untuk jadi temannya.

Sampai kapan ? pertanyaanku selanutnya.

Pesan moral yang selalu ibu bisikan ketika anak-anaknya hendak tidur malam adalah berhati-hatilah berbuat riya. Belakangan aku mengetahui riya itu adalah dalam selembaran buletin mesjid yang dibagikan setiap hari jum’at menjelang khutbah jum’at.  :"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." (Al-Baqarah: 264).

Dan aku ketahui sendiri, berbuat baik itu diajarkan oleh berbagai agama. Hanya saja, kebanyakan orang lupa prihal riya. Jika selama ini perbuatan yang aku lakukan dimata orang banyak salah, dan membuat mereka berbicara dibelakang dengan mencelaku. Celakalah mereka dengan shalatnya, dengan sedekahnya dan dengan perbuatan baik lainnya.

Sampai yang mereka yakini semua itu akan menjadi kebaikan untuknya, luruhlah sudah dalam pengaguman terhadap ibadahnya, perasaan yang melambung  bahwa Tuhan akan berbuat baik karena secara tidak sadar sudah membicarakan kebaikan kepada kolega terdekatnya. Sehingga lupa akan murka-Nya.

Apakah lamunanku ini dari Tuhan atau dari Setan? Aku tak tahu. Namun sudah menjadi kejelasan dari semua ini, bahwa aku tak menjadikan siapapun menjadi kambing hitam dalam hidupku. Apalagi menjadi sebuah penyesalan.

***

Kira-kira setahun yang lalu saya bertemu dengan seorang pemuda berdarah campuran Indo-Ceska, ternyata dia baru saja menemukan hobi baru, diving !! Waahh… seru sekali mendengar ceritanya mulai dari bagaimana dia mulai mencoba hobi barunya itu di kolam renang dan bagaimana excited-nya waktu dia benar-benar terjun ke dalam laut. Pagi-pagi menuju laut di Kepulauan Samarome sampai hari hampir sore. Pemandangan akan dunia bawah laut benar-benar luar biasa menakjubkan, itu baru di Sartane dekat ibu kota Argentina, kalau tempat lain pasti lebih bagus dan katanya bisa membawa manusia “menikmati ciptaan Tuhan”. Ceritanya bergulir cukup seru dan akhirnya dia berkata, “Yah.. yang penting kita menikmati hidup. Untuk apa kerja keras tanpa pernah dinikmati” Kemudian dalam percakapan yang cukup lama setelah kami bicara ke sana ke mari, saya menyinggung sedikit tentang kehidupan rohaninya, “Kamu suka melakukan ritual shalat? Pergi ke Mesjid setiap hari dan Jum’at?” Lalu dia menjawab,  “Dulu waktu muda, saya juga pernah denger Pak Tong, sekarang sih ke mesjid kalau gua lagi mood, yang penting shalatkan? Pada dasarnya semua kan sama, ngajarin kita yang baik-baik. Perlu diketahui, dan yang penting kita hidup baik-baik lah, sesuai apa yang kita ingin lakukan dan bisa menikmati hidup, cukuplah buat kita.”

Dialog setahun yang lalu itu tidak kunjung hilang dari kepala saya. Dan mungkin kita juga pernah berpikir demikian atau malah terjebak dalam dialog yang sama. Menikmati hidup? Atau menuruti akan apa yang diinginkan diri dalam hidup? Apa itu menikmati hidup? Sebagai orang Muslim bagaimana kita menikmati hidup? Apakah sebagai orang Muslim juga ”menikmati hidup”? Bukankah orang Muslim itu katanya “Hayyatunaa kulhaa ibadatun”? Jadi, menikmati Allah atau menikmati hidup?

Menikmati hidup dalam versi dialog pertama di atas sudah tidak asing lagi dalam dunia kita sekarang ini bahkan dari zaman dahulu kala sekalipun, hanya obyek kesenangan yang dinikmati berbeda-beda. Setelah banting tulang dan menguras kesabaran bekerja, marilah kita menikmati hidup. Seperti salah satu judul acara di suatu stasiun TV swasta ”Work Hard, Party Hard ”. Di situ dikisahkan tentang seorang public figure muda dan mapan yang untuk mencapai karirnya yang sekarang ini, dia  bekerja dari pagi-siang-sore dan mungkin sampai malam dengan jadwal yang cukup padat dan setelah itu, diperlihatkan bagaimana di malam harinya bahkan menjelang tengah malam, baru melepaskan semua beban pekerjaan dan bersenang-senang menikmati hidup di tempat hura-hura. Hidup yang ditampilkan serasa begitu seimbang, begitu ideal, ada waktu kerja keras dan ada waktu bersenang-senang.

 

Apakah itu menikmati hidup? Inilah imajinasi kesuksesan dunia dan banyak orang berbondong-bondong mengejarnya, menjadikannya tujuan hidup dan berusaha menggapainya.

 “A man is not what he thinks, a man is not what he feels, but a man is what he reacts before God.” Just doit. Begini saja?

  • view 193